AES 1356 Terinspirasi
joefelus
Sunday March 9 2025, 9:41 AM
AES 1356 Terinspirasi

Salah satu hamburger yang paling saya sukai adalah hamburger cepat saji yang basisnya ada di California. Pertama kali sama mencicipi "benda berbahaya" ini (hahaha) jauh sebelum Kano lahir, ketika untuk pertama kalinya saya mengunjungi California di tahun 1999. Pada saat itu saya diperkenalkan pada hamburger oleh mantan boss saya yang dulu memiliki kedai roti lapis yang kemudian bisnisnya dia jual dan memutuskan untuk pensiun dan pindah dari Hawaii untuk bermukim berdekatan dengan anak cucunya di California.

Nama kedai hamburger itu adalah In-N-Out. Kedai ini sangat sederhana, menunya hanya hamburger, cheese burger, lalu double double, yaitu 2 daging, 2 keju, lalu sayuran yang biasanya disajikan hanya selada, bawang dan tomat. Tidak ada yang spesial. Disamping 3 jenis hamburger itu ada french fries, minuman soda dan milk shakes. Sudah! Tidak macam-macam, tidak neko-neko.

Yang menarik, karena begitu terkenalnya, begitu merambah ke Colorado beberapa tahun yang lalu, pada awal-awal kedai dibuka antrian pembeli mencapai 14 jam! Saya tidak segila itu untuk antri, toh saya sudah sering menikmati burger ini ketika berkunjung ke California atau Nevada. Jadi saya tunggu beberapa bulan hingga eforia para penduduk Colorado mereda.

Eniwei, bukan niat saya untuk promosi. Saya hanya mengilustrasikan obrolan saya hari ini dengan hamburger kegemaran saya. Nah, yang menjadikan saya mengangkat obrolan ini karena pagi tadi saya membaca pengalaman CEO sekaligus pemilik perusahaan ini yang masih berusia 40-an. Beliau bercerita ketika dulu berusia 17 tahun, tanpa sepengetahuan siapa-siapa beliau antri 2 jam untuk melamar pekerjaan di perusahaannya sendiri. Manager kedai itu kemudian mengetahui siapa dia, tapi selain itu tidak ada yang tahu dan tetap diperlakukan sama seperti yang lain. Beliau meniti karir dari posisi paling bawah hingga kemudian menjadi CEO di perusahaannya sendiri.

Nah cerita di atas memang aslinya sangat panjang, tapi yang saya ambil moral ceritanya adalah dia sebagai salah satu pengusaha tersukses di industri makanan cepat saji, tidak mau take it for granted segala hal yang sebetulnya dari awal sudah dia miliki. Ini salah satu contoh value, nilai-nilai mulia seseorang yang dapat menginspirasi orang lain.

Kenapa saya mengangkat obrolan ini, seperti kemarin @kak-andy menceritakan kegalauannya tentang kondisi di tanah air, saya juga begitu. Belum lama ini, sekilas saya mengerenyit karena ada berita seorang anak kepala polisi satu daerah yang hidup memamerkan kekayaan dengan cara bermewah-mewah. Ini sungguh bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh CEO In-N-Out burger yang saya ungkapkan di atas.

Dari diskusi pribadi saya pagi ini, saya melihat bahwa situasi yang terjadi di tanah air karena salah satunya disebabkan oleh lemahnya pendidikan karakter. Bagaimana kita dapat memperoleh hasil yang baik dalam pendidikan Indonesia jika pendidikan karakter begitu dikecilkan dengan hasil pencapaian A,B,C atau D? Sesimpel itu kah karakter anak didik kita? Nilai akademis memperoleh porsi maksimum, sementara pendidikan karakter yang mengupas etika dan moral hanya sepersekian persen saja. Jangan berharap banyak dengan pendidikan seperti ini. Kalau kita bermimpi yang muluk-muluk, nanti akan seperti punguk merindukan bulan. Get real, everybody!

Universitas Michigan dalam salah satu extention program-nya memiliki pendidikan karakter. Mereka menulis bahwa: Character education is the process of learning common attitudes, beliefs, and behaviors that are important for people to have as responsible citizens. Good character education can provide ground rules for life for adults and young people, and it stresses the importance of helping children learn and practice behaviors that reflect universal ethical values.

Nah ini yang banyak dilupakan oleh mayoritas sekolah-sekolah di Indonesia. Memang kalau kita melihat misi dan visi mereka sangat muluk. Saya ambil satu contoh dengan menyamarkan nama institusinya: "Sekolah XYZ menanamkan semangat A (nama orang suci) pada setiap pribadi agar dapat mengintergrasikan ilmu, iman dan nilai-nilai kemanusiaan untuk menjawab tantangan zaman dan mewujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari" Keren khan? Ada keseimbangan dari nilai agama, ilmu dan nilai kemanusiaan. Tapi apakah dalam praktik pendidikannya benar-benar ditekankan pendidikan karakter yang baik? Oh jangan salah, saya pernah bekerja di sana, jadi saya tahu bahwa pada saat itu (supaya objektif karena saya tidak tahu sekarang seperti apa) pendidikan karakter dalam rapor hanya diberi presentase kecil dan hanya menggunakan penilaian A,B,C dan D. Menurut saya, itu omong kosong!

Pendek kata, jika pendidikan di tanah air hanya sebatas slogan saja, sebatas kalimat-kalimat muluk dalam visi dan misi, maka tidak heran jika terus menerus banyak koruptor, banyak orang-orang yang pamer kekayaan yang notabene sebetulnya milik orang tua, dan perbuatan tidak terpuji lainnya karena mereka sama sekali tidak memiliki moral yang cukup, etika, etiket maupun nilai-nilai kemanusiaan yang terpuji lainnya. Jadi mencuri hak rakyat itu jadi suatu praktik yang biasa saja.

Foto credit: altaonline.com

You May Also Like