AES80 Bukber, Abah Wawan, dan al-Ghazali
matheusaribowo
Friday March 21 2025, 12:17 PM
AES80 Bukber, Abah Wawan, dan al-Ghazali

Di tengah gemuruh menyaksikan TIMNAS kesayangan yang saat itu sedang dicukur 4 skor tanpa balas (akhirnya 5-1) oleh tim Australia, sebuah ajakan masuk di whatssappku. Di dalamnya terdapat juga nama Abah Wawan Husin yang sudah tak asing sekaligus tak cukup dalam kami mengenalnya. Perkenalanku terbatas pada kehadiran beliau yang selalu mengajak "merenung" lagi, dan lagi. Entah itu pada moment FBO, kegiatan lain di sekolah, termasuk beberapa kegiatan di luar sekolah yang berkaitan dengan sejarah, kesenian, dan kebudayaan. Melalui setiap perjumpaan dan pesan-pesan yang kontekstual, sederhana, dan mendalam (KSM) yang disampaikan Abah Wawan, dari sanalah kami mengenal beliau dan meyakini, bahwa ada gelombang yang sama yang saling beresonansi di antara kami.

Setelah semalam kembali bertemu dalam acara buka bersama di Pendopo sekolah, dan Abah Wawan kembali mengingatkan kami semua dengan pertanyaan, "Siapakah aku?" pagi ini, di bawah mentari yang selalu menyinari Bumi tanpa keraguan, kubaca sebuah sub-judul dari buku yang kubawa, Kunci Bahagia: Kenali Diri. Terbukti sudah bahwa kami memang beresonansi pada sebuah frekuensi dalam enerji tertentu. 

"Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu." artinya, "Barang siapa mengenali jiwanya, dia akan mengenali Tuhannya." itulah kunci kebahagiaan menurut al-Ghazali. Dalam bukunya, Kimiya'u al-Sa'adah (Kimiawi Kebahagiaan), sekali lagi al-Ghazali menegaskan, "Sesiapa mengenal dirinya, dialah yang akan merasakan kebahagiaan sejati." Hal ini tentu saja selaras dan beresonansi dengan gelombang yang ditebar Semi Palar, bahwa pengenalan terhadap diri setiap masing-masing individu di dalamnya begitu difasilitasi dan didukung. Setiap tahun ajaran, anak akan kembali dibawa mengenal dirinya dalam tahap dan jenjangnya yang baru. Mengamati kembali dirinya bergerak dan bertumbuh, hidup sebagai ciptaan yang istimewa. Tetapi bagaimana kita bisa menyadari bahwa kita adalah ciptaan yang istimewa dari Tuhan jika kita tidak mengenal sedalam-dalamnya diri kita sendiri. Jadi, bukan hanya untuk menjawab pertanyaan dari Abah Wawan tentang, siapakah aku, melainkan juga untuk menggenapi diri kita dengan kesadaran bahwa kita adalah ciptaan istimewa yang bahagia.