Mengeluhkan keluhan, apapun bentuknya sama saja suatu tindakan mengeluh. Tidak menambah persoalan memang, sekaligus tidak menyelesaikan permasalahan. Hanya menghabiskan tenaga untuk melakukan kesia-siaan, walaupun tidak sepenuhnya karena ada rasa lega.
Seperti menghela napas dan bersiul, yang memberi tanda pada otak bahwa situasi baik-baik saja dan terkendali (paling tidak terkenali / familiaritas). Sehingga tidak terlalu tegang lah otak bekerja, walaupun di sisi lain bisa jadi malah ketagihan menenang-nenangkan.
Daripada begitu sepertinya lebih berguna tenaga yang memang perlu dihabiskan itu untuk membuat alur kerja. Tidak perlu kompleks mendetil dan mencakup semua hal, yang terpikirkan saja. Tulis, rangkai, angkat, laksanakan. Tentu saja keluhan tidak akan hilang, hanya berkurang satu pengeluh saja.
Dan itu baik. Delapan pengeluh, empat yang mengeluhkan tugas kerjanya tak tertuntaskan, dua yang mengeluhkan dirinya menuntaskan tugas kerjanya dan empat orang yang tidak tuntas itu, satu yang mengeluhkan ketidak mampuan enam orang tadi untuk saling bantu. Satu terakhir mengeluhkan keluhan.
Yang mengeluhkan keluhan menuliskan aturan, merangkaikannya, mengangkatnya, dan berkata, “Ini dia. Laksanakan lah saja, atau tidak usah. Kita hitungan di belakang.” Satu orang yang berhenti mengeluh dari delapan tadi sudah memberikan tambahan kebaikan 12,5% bagi lingkungan. Dan itu baik.