AES 1524 The Softest Side
joefelus
Saturday November 15 2025, 6:03 AM
AES 1524 The Softest Side

Ini merupakan pengalaman saya yang terbaru. Merawat orang tua adalah sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Yang ingin saya simpan dan abadikan adalah apa yang saya rasakan. Pekerjaannya sendiri tidak sesulit yang dibayangkan. Jika pernah memperhatikan pekerjaan perawat di rumah sakit, yang saya lakukan ini adalah jauh lebih mudah karena yang saya hadapi sangat sederhana.

Ini merupakan sebuah pengalaman reflektif. Setiap sentuhan ketika menyeka tubuhnya adalah ungkapan rasa sayang, ungkapan rasa hormat, syukur dan terima kasih yang paling dalam yang selama ini tak terucapkan, terganjal karena batas-batas, kebiasaan, waktu, keengganan, kecanggungan dan lain sebagainya. Luapan perasaan dapat terlihat dengan jelas melalui pandangan mata yang teduh terpancar langsung masuk ke relung hati. Ayah saya bukan orang yang pandai menyampaikan perasaannya dengan mudah. Saya pernah cerita di salah satu tulisan entah kapan bahwa seumur hidup saya belum pernah mendengar ayah bersenandung ataupun bersiul. Akhir-akhir ini saya merasa betapa sayangnya beliau melalui pancaran matanya. Sebuah cara berkomunikasi yang unik, tapi dapat saling dimengerti. Ini bukan hanya pengalaman reflektif tapi juga spiritual dimana saya akhirnya dapat merasakan kedekatan yang sangat ajaib.

Yang kedua, rasa bersalah. Ya memang masih bagian dari perjalanan refleksi saya. Betapa menyesalnya saya bahwa selama ini kurang dapat menyampaikan isi hati walaupun saat ini tetap tanpa kata-kata. Budaya Timur bagi saya seperti dinding penjara yang membatasi satu sama lain. Ini telah saya dobrak ketika memiliki Kano. Kata-kata afektif bukan lagi hal tabu dalam keseharian kami. Kano tidak perlu lagi berusaha memperoleh validasi dari kami berdua sebagai orang tuanya karena secara verbal maupun jestur kami saling menunjukkan afeksi. Itu yang tidak pernah saya rasakan hingga akhir-akhir ini. Ayah dan saya selama ini bagaikan dua pribadi yang dekat tapi sangat berjauhan, sekarang kami seperti orang yang haus saling berusaha menyejukkan satu sama lain, tanpa kata-kata tapi membanjir bahkan kadang bagi saya hampir tak tertahankan. Saya memiliki rasa bersalah yang sangat tinggi karena baru mampu menyampaikan ini sekarang.

Nostalgia. Ini perasaan berikutnya. Ketika saya berusaha menyeka tubuhnya seolah-olah saya kembali ke masa kecil ketika saya sakit dan dirawat oleh beliau. Memang ayah tidak pernah memandikan saya, tapi hampir setiap saat beliau masuk ke kamar, menyentuh dahi saya dan menanyakan apa yang saya rasakan. Saat ini setiap sentuhan mengingatkan saya ke perjalanan hidup selama bertahun-tahun. Sambil tersenyum saya kembali membayangkan saat kami berdua mendayung perahu. Ayah mengajari saya bagaimana mengemudikan perahu dengan sabar, walau berkali-kali perahu kami menabrak pohon mangrove. Bagaimana ayah mengajari saya melepas kail dari mulut ikan besar yang berhasil saya tangkap. Pernah sekali waktu kami membakar ikan tangkapan kami di pantai sebuah muara sungai dan berlomba siapa yang menangkap ikan terlebih dahulu maka dia yang boleh masak dan makan. Kami hanya berbekal nasi dan sambal dari rumah. Saya bahkan ingat berbaring terlentang di perahu tengah malam ditengah laut sambil menyaksikan bintang dan bulan diiringi musik dari radio kecil yang kami bawa. Saya tersenyum membayangkan itu semua, saat-saat indah yang tidak akan mungkin kembali. Saya menoleh sebentar melihat wajah ayah yang tersenyum melalui pancaran matanya. Tetap tanpa kata-kata. Penyampaian rasa cinta yang unik hanya dapat dimengerti oleh kami berdua lewat pancaran mata.

"I will let you go, Dad. But in a better condition, not like this." Kata saya.

"You need to drink and try to eat. Dehidrasi, Dad. Mangkanya badan sakit-sakit. Perut kosong Dad, banjir asam lambung, jadi mual-mual. One little spoon at a time." Bujuk saya

Beliau tersenyum, mengangguk hampir tak terlihat. Saya sodorkan botol air degan sedotan. Tampak terlihat perjuangan untuk menelan. Ketika berhasil dan sedikit terengah-engah, ayah memandang saya seperti anak kecil yang butuh pujian. Saya tersenyum mengangguk dan mengangkat ibu jari tinggi-tinggi. Sudut bibirnya sedikit terangkat untuk tersenyum tapi tidak jadi. Hanya pandangan terimakasih yang dapat saya rasakan. Beliau menolak saya bantu ketika saya sodorkan makanan. Tabiat ayah yang tidak suka minta tolong muncul lagi. Masih ada harga diri dan sedikit keangkuhan yang tersisa. Mungkin itu satu-satunya yang terakhir yang beliau miliki sesudah menyerahkan tubuh ringkihnya untuk diseka putranya. Saya mengerti, dan memberi kesempatan untuk mempertahankan yang masih beliau miliki.

Foto credit: christiancentury.org

Andy Sutioso
@kak-andy   6 months ago
Wow... Again... so touching... ๐Ÿ™๐Ÿผ๐Ÿฅบ. Thank you for sharing Jo ๐Ÿ™๐Ÿผ๐Ÿ™๐Ÿผ๐Ÿ™๐Ÿผ
joefelus
@joefelus   6 months ago
Terima kasih kak. Satu lagi kegunaan AES, tempat melepas kegalauan :)
sanya
@sanya   6 months ago
Apapun kondisinya orang tua paling ga mau ya keliatan lemah di depan anaknya๐Ÿฅบ

Eniwei ini jd tulisan terfavorit aku setelah tulisan acceptance letter nya Kano๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ
joefelus
@joefelus   6 months ago
Betul mbak, Kalo aku jd ayah, pasti juga ga mau terlihat lemah tidak berdaya.