AES 742 Terinspirasi
joefelus
Monday June 5 2023, 12:21 AM
AES 742 Terinspirasi

Mungkin sekarang sudah saatnya untuk berhenti membaca atau menghabiskan waktu untuk berpikir secara teoritis dalam upaya menelusuri perjalanan diri. Setiap tulisan yang saya baca hanya mengarahkan ke banyak hal, berbagai cara dan tips untuk menyelesaikan masalah, menghadapi situasi dan sebagainya. Tapi setiap kondisi yang dihadapi setiap orang tidak sama, dan setiap orang yang menghadapinya juga unik. Akhirnya saya hanya bermain dengan pikiran, berusaha melakukan justifikasi dan menciptakan berbagai rekaan tanpa masuk ke dalam diri sendiri.

Pagi ini hujan terus. Sudah berlangsung selama beberapa hari. Langit selalu mendung dan suasana menjadi sangat sendu. Saya mengantarkan Nina ketika hari menjelang mulai terang. Matahari tidak terlihat karena mendung. Pulangnya saya tidak langsung ke kendaraan tapi berlajan kaki dahulu karena tertarik pada pemandangan lagoon di sekitar kampus yang dikelilingi pohon pinus. Lapangan rumput yang hijau serta beberapa pohon lainnya yang berwarna merah, maroon dan putih memberikan sedikit variasi warna hijau dari rerumputan dan pinus membuat pemandangan tampak indah. Lalu saya berpikir, sayang sekali momen-momen semacam ini terlewatkan karena pandangan saya dikaburkan oleh kesedihan, kekecewaan dan segala bentuk perasaan negatif karena merasa tersesat.

Tiba di rumah iseng saya menonton film berjudul Land. Bercerita tentang seorang wanita yang merasa tersesat karena kehilangan suami dan anaknya akibat penembakan di sebuah Mall. Dia memutuskan menyingkir dari keramaian dan tinggal seorang diri di gunung tanpa mempunyai ketrampilan untuk survive. Dia hampir meninggal kalau tidak dibantu oleh seseorang penyelamat. Wanita itu kemudian diajari berburu, diajari untuk survive. Hingga suatu saat penyelamat itu pergi dan lama tidak kembali. Ternyata dia sedang berbaring menanti ajal karena terkena kanker. Dia juga ternyata kehilangan anak dan istrinya karena kecelakaan. Menjelang akhir hayatnya sibuk memberi, memberi dan memberi kepada orang lain. Dia menemukan kembali dirinya karena menemukan tujuan hidup yang baru. Sebuah cerita yang sangat inspiratif.

Siapa bilang hidup itu adil? Pikir saya ketika ketika merenung sesudah selesai menonton. Ketidakadilan terjadi di mana-mana. Bagaimana kita bersikap merupakan kunci dalam menjalani hidup yang tidak adil ini. Pada saat tertentu kita merasa tersesat. Ketika bangun kita bisa saja merasa berubah, merasa berbeda tentang diri sendiri dan tentang kehidupan. Semua batas-batas yang melindungi diri serasa runtuh dan segala sesuatu yang tidak terduga hadir sehingga menciptakan sebuah kekacauan, ritme kehidupan menjadi tidak harmonis dan mulai mempertanyakan tujuan hidup bahkan mempertanyakan kehidupan itu sendiri.

Pernahkah memandang cermin dan merasakan sesuatu yang janggal ketika memandang diri sendiri? Pertanyaan "who am I" kembali muncul, karena pada saat itu kita merasa tidak mengenali lagi sosok yang kita pandang di cermin. Itu adalah sebuah pertanyaan yang paling sulit yang selalu ingin kita jawab.

Ketika kita tersesat, kita merasa bingung. Bingung akan prioritas, bingung dengan nili-nilai dan prinsip. Kita harus terus mengingatkan diri sendiri, setiap saat tentang alasan mengapa kita melakukan sesuatu karena pada saat tersesat biasanya kita tidak ingin melakukan apa-apa lagi.

Seringkali kita merasa tersesat karena sebetulnya kita sadar bahwa saat itu sedang dalam penyangkalan atas situasi yang tidak ingin kita akui, yang tidak ingin kita terima, atau seringkali kita ragu-ragu akan sebuah keputusan yang seharusnya kita hadapi. Pada saat semuanya terungkap, kita kemudian sadar telah berada di situasi yang rumit.

Penerimaan dan terus melangkah ke depan menerobos perasaan tersesat adalah salah satu cara menguak tujuan hidup kita agar semakin jelas. Kita perlu mengambil langkah yang nyata, yang diperlukan agar terus mampu bergerak maju dan melepaskan diri dari kebigungan. Kita harus terus hidup melewati ketersesatan. Mungkin saja jalan setapak yang kita tempuh sempat bergeser, tapi selama kita terus berjalan dan berusaha menemukan kekuatan, gairah dan tujuan hidup. Ketersesatan dapat menjadi sebuah batu pijakan untuk menemukan diri kembali sebagai sebuah pribadi yag jauh lebih kuat dan tegar. Menemukan kesejatian!

Foto credit: what-song.com