Beberapa minggu yang lalu saya mencoba tantangan baru untuk gowes menuju SMIPA. Tidak ada target apa pun, hanya ingin mencoba pengalaman baru dengan ritme yang lebih lambat dari biasanya. Perjalanan dari ujung Timur Kota Bandung menuju Pasteur tentu akan melewati banyak titik kemacetan, dan bagi saya adalah hal yang biasa di situasi saat ini. Jarak rumah-sekolah sejauh kurang lebih 18 km yang akan ditempuh dengan bersepeda tentu perlu mengaturkan waktu keberangkatan dengan lebih cepat, yakni 30 menit dari biasanya. Karena rumah saya berada di ketinggian 900an mdpl, medan jalan berupa turunan sudah pasti menjadi awal dari keberangkatan tersebut. Tidak perlu banyak gowesan untuk melibas jalanan desa yang pada saat itu didominasi oleh motor. Biasanya yang akan berangkat bekerja ataupun belanja keperluan ke pasar Ujungberung. Lokasi pasar yang berdekatan dengan Alun-alun, sebuah Sekolah Dasar dan juga SMP membuat lokasi tersebut sangat padat. Ojeg yang berjejer di pinggir jalan sambil menunggu pelanggan, pedagang yang saling bersahutan menawarkan barang dagangannya, anak sekolah yang berjalan di badan jalan karena tidak ada trotoar, dan suara peluit Pak Ogah yang mengatur jalan, merupakan beberapa tangkapan suasana pada saat itu.Β
Setelah melewati titik kepadatan pertama di atas, akhirnya sampai juga di jalan utama. Jalan yang dulu dinamakan Jalan Raya Ujungberung dan sudah berganti menjadi Jalan A.H Nasution. Penggantian nama jalan tersebut sebagai bentuk apresiasi pemerintah atas peran beliau dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Ruas jalan di wilayah pinggiran kota yang memang belum terdapat jalur khusus sepeda menuntut saya harus ekstra hati-hati. Meskipun dengan adanya jalur khusus pun bukan sebuah jaminan aman, karena seringkali diambil alih oleh kendaraan bermotor. Setiap kayuhan saya nikmati, sambil sesekali tengok kanan dan kiri jalan. Memang terasa berbeda dengan naik motor, dengan bersepeda saya punya waktu lebih panjang untuk mengamati satu objek yang ada di sepanjang perjalanan. Kurang lebih 40 menit, saya tiba di perempatan Dago di bawah jalan layang. Perjalanan harus terhenti sejenak karena lampu merah menyala pada saat itu. Di tengah momen menunggu tersebut ada percakapan yang terdengar menarik. Percakapan antara driver ojek online dengan penumpangnya. Dari percakapan yang terdengar sepertinya mereka sudah saling mengobrol sepanjang perjalanan. Driver ini bercerita bahwa dia dulu masuk kelas IPS, sehingga sedikit banyak tahu tentang sejarah. Kepada penumpangnya ia kemudian bercerita tentang Kaisar Jepang waktu perang dunia II terjadi. Sosok Kaisar yang waktu itu mengumpulkan para jendral dan bertanya mengenai berapa banyak guru yang masih tersisa pasca perang terjadi. Bagi Kaisar sosok guru merupakan titik tumpu yang paling utama dibandingkan kekuatan pasukan agar Jepang bisa kembali bangkit. Dari obrolan mereka, sepertinya penumpang ojek online merupakan sosok guru. Driver tersebut seolah-olah ingin menyampaikan apresiasi bahwa profesi guru adalah hal yang mulia dan penting bagi sebuah negara. Sebuah upaya sederhana namun bermakna tampak dilakukan oleh driver ini. Mencoba berbagi pengetahuan sekaligus memberi semangat kepada orang lain sesuai dengan kapasitasnya. Sebuah energi positif yang terpancar di pagi hari memecah nuansa kemacetan dan 'ketergesaan'. Lampu hijau pun menyala, saya kembali melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi. Karena sepeda dilarang naik ke jalan layang dan memang berbahaya, alternatif rute yang dipilih yakni lewat ke Jalan Pelesiran untuk menuju Cihampelas, kemudian tembus ke Jalan Sukajadi dan berakhir di Jalan Sukagalih, melewati gang hingga sampailah di SMIPA. Kondisi dan nuansa jalan yang bervariatif menghadirkan sesuatu yang baru dan menyenangkan. Lebih lambat namun lebih banyak kesempatan untuk bisa mengamati dan mendengar lebih banyak hal. Memang untuk melambat perlu menyediakan lebih banyak waktu, tapi itu merupakan sebuah pilihan. Tapi bayangkan kalau kita semua melakukan banyak hal tanpa tergesa-gesa, seperti lebih banyak mengamati, lebih banyak mendengar, lebih banyak berbicang dan bertegur sapa, merasakan setiap langkah, aktivitas, maupun napas. Sepertinya akan lebih banyak orang yang saling berbagi dan mendapatkan makna, baik dari diri maupun dari luar dirinya.Β
Β
Nuhun ka Diki buat tulisannya. Lebih banyak yang bisa dicerap ya saat ritme melambat... Juga punya kesempatan lebih banyak untuk merangkai makna. ππΌππΌππΌ