AES 408 Small Fragments
joefelus
Tuesday July 5 2022, 3:02 AM
AES 408 Small Fragments

"Jangan seperti dulu ya, janjinya cuma 2 tahun ujung-ujungnya lama sekali." Kata ayah saya ketika kami ngobrol melalui video Call tadi malam.

Ayah saya bukan orang yang mudah menunjukkan perasaannya. Yang beliau ungkapkan semalam itu dapat saya terjemahkan bahwa beliau kangen dengan anak-anaknya. Dulu memang saya pergi selama 10 tahun lebih dan tinggal di rantau bahkan tidak hadir ketika ibu saya pergi menghadap yang Ilahi karena sedang dihadapkan pada masalah kesehatan Kano yang masih balita. Ayah saya sekarang sudah sangat sepuh, mulai dihadapkan dengan banyak masalah kesehatan. Tapi semalam saya begitu bahagia menyaksikan beliau sudah sangat segar, terlihat jauh lebih sehat daripada beberapa bulan yang lalu. Sekarang beliau sudah naik sepeda lagi. Untuk orang yang berusia hampir 90 tahun dan masih naik sepeda ke mana-mana itu buat saya itu sangat luar biasa.

Itu yang saya terus bayangkan dan pikirkan ketika tadi pagi sedang berlari. Hari ini hari libur nasional. Jalanan sangat sepi sehingga saya bisa berlari dengan sangat leluasa. Hanya saja semakin lama saya semakin sadar bahwa berlari seorang diri dengan berlari di gym itu sangat jauh berbeda. Kemarin saya cerita bahwa berlari di jalan banyak yang dapat dilihat dan dorongan untuk menyerah dan berhenti lebih kecil daripada berlari di treadmill. Itu betul sekali tapi ada juga hal lain yang membedakan, lari seorang diri itu lebih mellow! Di gym (di Gym tempat saya berolah raga, di tempat lain saya tidak tahu) kita selalu diteriaki oleh pelatih, lalu sesama peserta saling memberi semangat, saling meneriakkan "you got it!" Kadang saking saya mendorong diri sendiri sampai hampir kelewat batas karena begitu bersemangat dan hormon endorphine saya meluap-luap saya bisa berolahraga sampai menangis bahagia. Lari di jalan raya tidak begitu! Memang banyak yang bisa disaksikan, sering saya tersenyum melihat anak kecil tertatih-tatih berjalan diikuti orang tuanya, atau anjing yang berlari-lari mengejar bola atau bermain dengan daun atau berburu tupai, sangat menarik disaksikan, tapi emosi saya tidak meluap-luap seperti di Gym.

Ketika tidak banyak yang bisa disaksikan di jalanan, saya jauh lebih terhanyut dalam lamunan atau pikiran. Seperti misalnya ketika membaca tulisan kak Andy, saya membayangkan bagaimana rasanya seandainya Kano pergi lalu di rumah tingal saya bersama Nina. Mungkin itu yang dirasakan oleh ayah saya semalam. "Kapan pulang? Jangan lama-lama, jangan seperti dulu!" Ayah saya memang tinggal sendirian, setelah ibu saya pergi, terlihat hidupnya semakin sepi. Rambutnya yang ketika ibu saya masih ada hampir semuanya hitam dan jarang ada uban, begitu ibu saya meninggal, rambut ayah saya memutih cepat sekali. Dan untuk orang seperti ayah saya yang sulit mengungkapkan perasaan, semuanya tentunya terus dipendam sendiri. Saya harus pandai menterjemahkan perkataan beliau. "Jangan lama-lama" bisa berarti "Bapak kangen", "Jangan seperti dulu, janji dua tahun ternyata lama sekali" artinya "Cepat pulang, bapak sudah sangat tua dan tidak banyak waktu tersisa." Sambil berlari saya semakin mellow dan menjadi sedih.

"You have reached 3 miles, your average heart rate is...." tiba-tiba earphone saya yang tadi terus menerus memainkan musik terhenti dan suara seorang wanita memberikan informasi olahraga yang sedang saya lakukan dan memutuskan alur lamunan. Saya memang menggunakan aplikasi untuk berolahraga. Target saya hari ini sebetulnya sekitar 5 miles (8km) dan sedikit demi sedikit akan saya tingkatkan menjadi 10km. Walau marathon yang jadi target saya ternyata dibatalkan karena covid dan peminat menurun, saya tetap inign berlari sejauh 10km. Cuaca walau masih pukul 8 pagi sudah mulai sangat panas. Memang begitu di musim panas. Saya terus berlari mengabaikan suara wanita dari aplikasi olahraga yang saya gunakan.

Saya memang berusaha untuk menjadi seorang ayah yang lebih terbuka, yang lebih dapat mengungkapkan perasaan dan lebih afektif dalam relasi di dalam keluarga. Waktu kecil saya sering frustrasi karena ayah saya sepertinya tidak terlalu peduli dan hampir tidak pernah mengungkapkan pujian atau rasa bangga atas prestasi anak-anaknya. Saya begitu menggebu-gebu berusaha menjadi yang terbaik di sekolah. Tidak pernah mendengar sekalipun kata,"I'm proud of you!" Momen-momen sederhana semacam itu sepertinya hanya sebuah impian yang tidak pernah terwujud. Ayah saya tidak pernah memeluk! Beliau sangat dingin dalam takaran emosi. Saya ingin menjadi orang yang sebaliknya. Memeluk Kano bukan hal aneh apalagi kalau kami berantem lalu berbaikan kami selalu berpelukan hahaha, memuji dia dan mengungkapkan bahwa saya bangga akan dia tidak terhitung jumlahnya.

Kehangatan dalam keluarga memang selalu ingin saya nomor satukan. Kemarin kami sempat bercanda ketika sedang duduk bersama menonton pertandingan Rocket League. Ketika sedang istirahat kami banyak bergurau dan mengenang peristiwa-peristiwa lama ketika Kano masih sangat kecil.

"I remember when Kano fell down and cried."Kata Nina

"Yes, and you asked him if the floor was okay!" Kata saya

"Hahaha.. dan Kano bilang, yesss, the floor is okay sambil menangis!" Kata Nina pula sambil menirukan bagaimana Kano mengatakannya sambil menangis dan kami bertiga terbahak-bahak.

"You guys are mean parents!" Kata Kano sambil tertawa.

Ya begitulah kami bertiga. Kemarin malam malah ayah saya terkejut ketika saya menunjukkan bahwa Kano sekarang sudah lebih tinggi dan lebih besar dari ayahnya. Saya berkata,"Sekarang bapaknya takut kalau berantem dengan Kano, sebab kalau dia lawan, bapaknya pasti kalah karena dia jauh lebih besar!" Hahahaha...

Peristiwa-peristiwa kecil itu sangat berarti dalam menjalani hidup. Saya melihatnya sebagai fragmen-fragmen yang menjadi bumbu dalam perjalanan hidup dan saya selalu berusaha untuk mengabadikanya. Seperti halnya tulisan-tulisan yang saya coret-coret ini juga akan menjadi cerita tentang fragken-fragmen kehidupan saya. Kalau ayah saya memiliki 4 orang anak, yang sekarang tinggal bertiga karena kakak saya sudah mendahului ke kehidupan yang abadi bahkan lebih dulu dari ibu saya, masih bisa dihibur oleh adik-adik ketika saya tinggal berjauhan. Kalau saya nanti mencapai usia ayah saya dan Kano memiliki kehidupannya sendiri, saya harus lebih pandai mencari hal-hal yang menghibur. Nah tulisan-tulisan seperti ini sepertinya akan dapat menemani saya. Bukan begitu? Mungkin semua itu hanya serpihan-serpihan kecil, tapi bila disatukan akan menjadi sebuah cerita yang sangat panjang dan sangat patut untuk dikenang sebab itu adalah perjalanan hidup!