Akhir-akhir ini saya mulai mempertanyakan alasan saya menulis esai yang sudah saya lakukan setiap hari selama hampir 2 tahun. Tidak sampai 1 bulan lagi, tepatnya tanggal 20 Mei nanti, saya akan sudah menulis selama 2 tahun. Saya tahu secara pasti mengapa menulis setiap hari. Ini saya jadikan semacam jurnal untuk selalu mengabadikan semua pengalaman yang saya jalani selama ini, pemikiran-pemikiran yang pernah hinggap, serta berusaha merekam semua kejadian yang selama ini pernah hadir dalam keseharian saya. Sangat sayang bukan jika pengalaman-pengalaman itu hilang. Saya ingin pada saatnya bisa membaca kembali dan hal-hal yang berharga itu tidak terlupakan.
Kembali ke pertanyaan saya di awal tulisan ini. Mungkin pertanyaannya kurang tepat. Saya tahu dengan sesungguhnya mengapa menulis. Masuk akal sih jika saya menulis untuk sendiri, tapi jika kemudian menjadi sesuatu yang dapat dibaca oleh publik, lama kelamaan saya mulai berpikir, apa yang orang lain akan pikirkan dengan mengetahui hal-hal yang saya alami? Orang lain dapat bertanya-tanya,"ngapain sih begitu saja kok diumbar?" Nah yang begini menjadi terdengar sangat aneh sekali.
Saya sempat berpikir untuk berhenti. Maksud saya, bukan berhenti menulis, tapi berhenti mengunggah. Tapi saya masih berpikir karena sebentar lagi "ulang tahun" yang ke 2, maka saya berniat untuk menundanya hingga nanti tepat di usia yang kedua.
Lalu saya pernah membaca sharing dari seseorang yang juga senang menulis. Dia berkata bahwa pada dasarnya semua tulisan, esai maupun jurnal yang dia buat setiap hari merupakan sesuatu yang dia tulis untuk diri sendiri dan sebagai cara dia berdiskusi dengan diri sendiri. Hal itu dia lakukan agar dia bisa jujur dengan diri sendiri. Untuk bisa terus berupaya jujur, dia harus mempunyai "penonton" atau dalam hal ini pembaca dalam benaknya.
Dia bercerita bahwa dia tidak tahu apakah orang lain juga berpikir demikian, tapi ada kalanya dia ingin menulis sesuatu yang begitu personal dan mungkin saja di mata sosial tidak dapat diterima. Hal-hal itu menyangkut pikiran dan emosi yang tidak tepat untuk disebarkan untuk dibaca orang lain. Banyak pengalaman yang sangat pribadi yang mungkin akan lebih wajar jika disimpan untuk diri sendiri, sesuatu yang memalukan misalnya, atau sesuatu yang tidak bisa dengan begitu saja diakui di depan umum. Apapun itu, tujuan dari menulis adalah merupakan upaya dia untuk membantu berpikir melalui emosi yang dia alami., membantu dia memproses berbagai pikiran. Menulis hal-hal itu bagi dia berarti dia harus mengolahnya dengan baik, mengemasnya dengan cara yang jitu agar dapat diterima oleh umum.
Sesudah membaca yang orang itu ungkapkan, saya mulai dapat merasakan mengapa selama ini saya bisa seenaknya mengungkapkan banyak hal yang bisa saja membuat saya agak tidak nyaman. Seperti misalnya akhir-akhir ini ketika emosi saya agak ter-compromise karena masalah kesehatan, hal semacam itu sebenarnya bukan konsumsi umum, tapi dengan menulisnya saya bisa menjalaninya dengan lebih baik karena dalam proses menulisnya saya juga dengan sadar berupaya memilah-milah, melihat kondisi itu dari berbagai sudut dan berusaha mendalami arti pengalaman itu secara lebih seksama, ditambah saya juga harus berpikir bagaimana menuliskannya agar di mata umum masih bisa dimaklumi. Itu sangat membantu saya dalam menghadapinya.
Tulisan saya memang tidak harus dibaca orang lain, hanya saja bayangan bahwa banyak orang mempunyai akses untuk membaca tulisan-tulisan itu, membuat saya tidak main-main dalam mengungkapkannya. Jadi setuju dengan pendapat orang di atas bahwa mempunyai bayangan bahwa orang lain dapat membaca, membantu saya dalam berusaha mengupas situasi yang ada dengan lebih baik dan serius. Jadi ya saya harus berterima kasih. Eniwei, mudah-mudahan kondisi yang saya alami akhir-akhir ini dapat tertanggulangi, besok saya akan berkonsultasi dengan ahli bedah, nanti akan dapat diketahui apakah saya perlu operasi atau tidak dan mudah-mudahanan kondisi saya bisa menjadi lebih baik sesudah iu.
Photo credit: Pexels: Вальдемар (https://www.pexels.com/@1166197/)
Saya merasa terhormat bisa ikut membaca proses seorang yang saya kenal secara langsung. Kalau orang bersedia bercerita - menulis di ruang ini, tentunya dia percaya kepada mereka yang mungkin akan membacanya. Terima kasih sudah berbagi narasi kehidupan. Sudah berbagi apapun prosesnya. Semoga dapat solusi terbaik Joe. 🙏
Terima kasih @Kak-andy atas dukungannya. Terima kasih juga sudah menemani "merenung" melalui tulisan-tulisan di AES ini. Saya belum berniat untuk berhenti kok.. cuma mengungkapkan keraguan saja hahahaha..