Saya memandang keluar melalui sudut jendela besar di kantor. Sebagian jendela itu tertutup tanaman peninggalan salah seorang rekan kerja saya yang kemudian pindah unit kerja. Ruangan baru rekan saya itu tidak memiliki jendela sehingga saya akhirnya mewarisi tanaman itu. Sejauh ini terlihat tanaman itu bahagia dan tumbuh subur dengan daun yang besar-besar tapi mulai merayap kemana-mana.
Di luar saya bisa melihat pepohonan yang sudah sebagian besar berwarna kuning. Karena musim sudah berganti ke musim gugur, daun-daun mulai kesulitan memproduksi klorofil sehingga warna hijau mulai menghilang dan menampilkan warna aslinya. "The true self of those trees are now exposed!" Kesejatian mereka mulai terlihat. Hahaha.. Saya yang kelelahan karena selama akhir pekan jatuh sakit gara-gara vaksin, mulai berpikir yang aneh-aneh ketika memandang keindahan di luar. Pohon saya ibaratkan sebagai manusia dan berpikir soal kejujuran. Kok? Hahaha.. Entah ini ide dari mana tapi ini yang akan saya obrolkan hari ini.
Ada yang berkata bahwa menjalani kehidupan yang jujur berarti membiarkan kesejatian pribadi kita terlihat orang lain. Nah, jadi jika manusia saya bandingkan dengan pepohonan yang pada saat ini mulai memperlihatkan warna aslinya, maka itu yang dimaksud dengan kejujuran. Kita membiarkan jadi diri kita terlihat orang lain. Ini kejujuran sejati, tidak ada topeng dan orang dapat melihat diri kita apa adanya. Sama seperti pohon yang selama ini kita lihat berwarna hijau, akhirnya mereka mulai menunjukkan warna aslinya, kalau manusia ya kepribadian, jati diri apa adanya.
Banyak orang berpendapat bahwa kejujuran itu sudah usang. Tidak ada manfaatnya menjalani kehidupan yang jujur karena saat ini orang yang jujur tidak dapat bersaing dan tertinggal bila dibandingkan dengan mereka yang menghalalkan banyak cara dan menjalani strategi yang kotor dan tidak etis. Contohnya memang banyak dan ini, dengan sangat sedih saya katakan, bahwa hal ini bukan isapan jempol, bisa kita jumpai dimana-mana dan sangat nyata.
Buat saya kejujuran itu menunjukkan kualitas sebuah pribadi. Tanpa kejujuran maka pribadi itu buat saya tidak berarti apa-apa, nilainya sangat rendah! Moral identik dengan kualitas sebuah kepribadian. Dan itu yang saya pelajari dan selalu aku junjung tinggi seumur hidup. Jadi jangan salahkan jika saya tidak suka pada orang yang tidak jujur. Sesukses apapun mereka jika kehidupannya tidak jujur maka di mata saya mereka itu tidak ada artinya.
Kita memang hidup dalam masyarakat yang penuh dengan sensor. Kita tidak setuju dengan tingkah laku tertentu di masyarakat. Banyak hal yang terjadi di masyarakat sekitar kita bahkan orang-orang terdekat kita "nilai" tingkah lakunya. Jujur atau tidak hal itu harus kita akui bahwa selalu terjadi dan kita lakukan walau seandainya tidak secara terbuka kita "menilai" mereka, tapi itu secara otomatis terjadi setiap hari. Yang tidak kita akui sebetulnya adalah penilaian yang kita lakukan terhadap orang lainĀ yang pada hakekatnya merupakan tindakan untuk menghindari fakta bahwa sesunguhnya kita senang menilai orang lain hahahaha... Coba saja jika kita jujur terhadap diri sendiri, hal tersebut memang sering terjadi. Dan kalau mengingat perkataan yang sering didengung-dengungkan, "kita sering merasa benar sendiri". Perkataan "Rasain loe!" jika kita melihat ada orang lain yang melakukan kesalahan lalu tertangkap atau terkena akibatnya, dengan rasa puas kita mengatakan itu. "ya iyalah!", "mangkanya" dan sebagainya merupakan perkataan yang biasa kita lontarkan sebagai bentuk dari sensor yang sudah mendarah daging dengan kehidupan kita karena sudah sekian lama dibesarkan dalam lingkungan seperti itu.
Dengan kondisi masyarakat seperti itu, kejujuran menjadi sebuah tantangan yang sangat luar biasa. Banyak hal yang kita "simpan" dan selalu berusaha terlihat "hijau" di masyarakat. Padahal seandainya kita sadari, warna kita yang bisa saja merah, kuning, oranye atau coklat akan terlihat sangat indah jika bercampur baur dengan warna-warna lain. Tapi karena kita hidup di masyarakat yang sangat ketat dengan "sensor" paling aman ya kita tetap hijau seperti sekeliling kita. Menjadi berbeda adalah sesuatu yang tidak kita inginkan karena menjadi pusat perhatian, merasa berbeda sendiri dan takut tidak dapat berbaur. Jujur atau tidak itu saya katakan benar adanya sebab sejak kecil saya selalu merasa berbeda karena memang saya berbeda. Saya termasuk masyarakat yang double minority, dan itu tidak mudah. Saya harus belajar menemukan cara untuk dapat berbaur dengan, terus terang, mengorbankan banyak hal. Perbedaan menjadi sebuah kendala karena ketakutan tidak dapat diterima. Ingin jujur, tapi tantangan seringkali sangat berat. Tidak perlu berbohong, tapi tidak pula mau menunjukkan kesejatian diri apa adanya. Repot ya?
Saya tidak pernah lupa akan pelajaran dari ayah saya soal kejujuran sejak kecil. Ayah selalu mengajarkan agar selalu jujur walaupun harus menghadapi konsekuensi yang tidak menyenangkan. Jujur dan bertanggungjawab, itu yang ditekankan pada saya dan saya bawa hingga kini.
Ada sebuah kejadian yang selalu saya ingat. Waktu itu saya diberi uang untuk pergi ke pasar membeli dedak dan kangkung untuk makanan ternak. Saya naik sepeda sambil membawa uang. Menjelang tiba di pasar saya baru sadar bahwa uang yang ada di dalam genggaman sudah lenyap, jatuh di jalan. Dengan panik dan ketakutan saya kembali perlahan-lahan melihat ke sana ke mari untuk menemukan uang yang tidak sengaja saya jatuhkan itu. Hingga sampai di rumah saya tidak melihat uang itu sama sekali. Saya kembali mencari sesuai dengan jalur yang sudah dilalui. Hasilnya? Nihil! Saya merasa ketakutan dan terpaksa dengan perasaan tidak karuan saya memberitahu ayah. Dalam bayangan saya, tentunya ayah akan marah dan akan mendapat hukuman. Kami bukan orang kaya dan uang yang saya hilangkan itu amat sangat berharga untuk kami, apalagi itu untuk pakan ternak yang merupakan usaha sampingan ayah.
Saya berbicara pada ayah dengan perasaan takut. Apa yang ayah katakan?
"Ya sudah, kalau sudah hilang. Sekarang kamu harus lebih hati-hati. Uang sebesar itu sulit diperoleh. Sayang khan? Nah sekarang kamu pergi lagi ke pasar dan simpan uang ini baik-baik. Ayah sangat senang kamu sudah jujur walau kamu mungkin merasa bersalah dan takut. Tapi karena berkata jujur, ayah memaafkan kamu."
Plong! Begitu perasaan saya. Tapi saya juga sadar bahwa uang yang saya hilangkan itu sangat berarti, dan mungkin ayah harus mengeluarkan uang ekstra yang seharusnya bisa dipergunakan untuk keperluan yang lain. Rasa bersalah saya tidak bisa lenyap begitu saja, Tapi saya lega karena sudah dapat menghadapi masalah dengan jujur dan berani.
Melakukan kesalahan adalah sesuatu yang wajar. Yang membedakan adalah bagaimana kita menyelesaikan masalah sesudah kita melakukan kesalahan. Menghadapinya dengan tanggung-jawab, siap dengan jujur menghadapi segala risiko? Atau menghindar dengan berbohong? Dari pengalaman berkali-kali, saya berpendapat bahwa menghadapi dengan jujur adalah yang terbaik.
Menghadapi permasalahan bukan perasaan yang menyenangkan. Kita banyak khawatir terhadap segala akibat yang mungkin akan terjadi. Tapi sesudah melewati semua itu, perasaan lega dan puas akan kualitas diri yang dengan berani dengan jantan menghadapi segala risiko dari kesalahan yang kita buat, itu sangat luar biasa.
Kejujuran mungkin oleh sebagian orang dianggap usang dan menghambat kesuksesan. Tapi bagi saya yang namanya sukses itu relatif. Jika sukses hanya diartikan dengan keberhasilan mengumpulkan materi dengan cara apapun, saya anggap itu hanya kesuskesan yang semu karena jika itu terjadi pada saya kebahagiaan yang saya rasakan juga akan semu. Tapi jika keberhasilan walaupun mungkin tidak seberapa dihasilkan dengan sebuah kejujuran, maka kepuasannya akan terasa luar biasa.
Kejujuran pada dasarnya adalah integritas diri untuk membangun kepercayaan. Jika kita tidak mampu mempercayai diri sendiri (Karena tidak jujur), kita juga akan selalu mencurigai orang lain apakah mereka jujur terhadap kita. Tidak ada kepercayaan dapat terbangun dan ujung-ujungnya kita akan sulit membangun relasi yang kuat.
Hmmm.. gara-gara memandang pohon yang menunjukkan warna aslinya, kok saya jadi ngobrol seperti ini ya? Ini spontan, bukan tulisan yang saya rencanakan. Mungkin karena terlalu banyak mikir. Spontan mikir karena kelelahan? Aneh ini! Hahahaha...