Seluruh rumah diselubungi dengan keharuman, seperti sedang berada di dalam toko roti. Keharuman yang dulu selama bertahun-tahun, hampir setiap hari saya nikmati karena pekerjaan saya selalu berkaitan dengan makanan, panggang-memanggang, roti dan kue-kue. Keharuman yang menyenangkan, keharuman yang menimbulkan aura yang sangat positif. Setidak-tidaknya untuk saya.
Akhir-akhir ini saya begitu tertarik dengan seluk-beluk roti. Saya banyak mencari tahu dengan membaca, menonton cuplikan-cuplikan filem atau video tentang cara membuat roti bahkan saya sengaja membeli buku. Untuk pertama kalinya ketika saya berpergian saya membeli buku resep-resep makanan, biasanya saya membeli novel, walau harganya mahal tapi karena memang sedang tertarik, akhirnya saya merelakan sedikit tabungan saya digunakan untuk sebuah buku resep makanan termasuk roti. Seperti biasa saya menulis tempat dan tanggal saya memperoleh buku itu. Kebiasaan lama yang seru dan selalu saya pertahankan!
Saya teringat masa kecil. Roti adalah sebuah kemewahan, bahkan di kampung saya, hanya ada 1 tempat yang membuat roti. Saya sangat ingat sebab roti ini roti jadul, bentuknya aneh, seperti ring yang dibagi 4, bukan berbentuk kotak persegi panjang seperti roti modern. Saya bayangkan membuatnya menggunakan loyang bulat seperti untuk membuat bolu jaman dahulu, lalu kemudian dibagi menjadi 4 potong. Jaman saya kecil hampir tidak pernah makan roti kecuali ketika sedang sakit. Aneh memang. Orang tua saya membeli roti hanya untuk yang sedang sakit. Saya sering mengeluh: "Kenapa makan roti cuma kalo lagi sakit? Rasanya engga enak, pahit!" Namanya juga orang sedang sakit, semua serba pahit.
Mungkin karena jaman kecil roti itu sebuah kemewahan, hingga saya dewasa roti selalu memperoleh tempat istimewa. Bahkan ketika dalam perjalanan liburan, saya hampir selalu menyempatkan diri untuk mencoba roti-roti tertentu, terutama menu roti lapis. Sejauh ini ada beberapa tempat yang sangat istimewa yang hingga sekarang melekat dalam hati. Di Woodstock, kota kecil di New York state, di Lowell, kota kecil di luar Boston, dan beberapa tempat lain. Roti itu bagi saya identik dengan cerita dan peristiwa. Jadi tidak heran selalu memperoleh tempat istimewa.
Roti yang saya suka bermacam-macam, kecuali rye bread atau yang menggunakan cinnamon. Roti-roti itu memiliki aroma yang tidak bersahabat dengan tubuh saya hahaha. Rye bread masih dapat saya nikmati apalagi jika dibuat reuben dengan menggunakan pastrami. Roti-roti lainnya akan tidak pernah saya tolak untuk dicoba. Hingga saat ini saya masih terus bermimpi berjalan kaki di lorong-lorong jalan sempit di kota Roma mencoba berbagai tempat roti, atau duduk di halaman sebuah kafe di Perancis menikmati secangkir espresso ditemani sepotong croissant. Seandainya dalam khidupan sekarang saya tidak diberi kesempatan, mudah-mudahan dalam kehidupan lain harapan saya dapat dikabulkan.
Sekarang ini, karena mimpi-mimpi itu masih sulit diraih, saya berusaha menciptakan sendiri di dapur saya sendiri! Nah tidak heran selama dua bulan ini rumah saya sering sekali dipenuhi dengan aroma roti. Saya sudah mencoba membuat French bread, Bolillo (roti Mexico), Navajo fried bread, focaccia, bahkan hari ini dapur saya memiliki aroma Hokkaido Milk Bread, salah satu roti yang sangat terkenal dengan kelembutannya karena dalam proses pembuatannya menggunakan tangzhong, yaitu semacam roux yang berbasis air. Roti ini termasuk yang dengan sukses saya buat. Masih banyak jenis roti lain yang ingin saya coba terutama yang rustic seperti sourdough, atau roti khas India, paratha dan lain sebagainya. Saya harus membuat daftar dan juga melengkapi peralatan yang saya miliki. Kalau dipikir-pikir, menyenangkan juga saya tidak perlu pergi ke kantor lagi sehingga dapat menikmati masa pensiun salah satunya dengan membuat roti hahahaha..