AES 1550 Minggu Pertama
joefelus
Tuesday December 23 2025, 1:08 AM
AES 1550 Minggu Pertama

Saya mengenal kota ini dengan sangat baik. Hampir semua jalan, kecuali di dalam area perumahan-perumahan, sudah pernah saya telusuri. Jika saya mengemudi sendirian pun tidak akan pernah tersasar karena saya benar-benar mengenalnya. Kota ini perah menjadi rumah saya selama bertahun-tahun. Dan saat ini saya berada lagi di sini.

"Mas, bisa lewatin down town?" Tanya saya pada suatu malam ketika dalam perjalanan pulang susudah makan malam.

"Sure." Kata mas Aris yang mengemudikan kendaraan yang saat ini kami tumpangi.

Kendaraan meluncur dengan tenang. Tidak ada suara mesin sama sekali seperti halnya kendaraan listrik lainnya. Saya memandang setiap sudut jalanan yang kami lewati dan di depan menjelang pusat kota, sinar lampu kecil-kecil yang menghiasi semua pepohonan tampak sangat indah. Memang sudah menjadi semacam kebiasaan menjelang akhir tahun hingga awal bulan Februari, pusat kota selalu berhias, penuh dengan lampu-lampu kecil di semua pepohonan yang ada di sana, ditambah dengan hiasan-hiasan yang dilakukan oleh semua pemilik toko, perkantoran dan rumah makan, maka pusat kota bermandikan cahaya yang sangat luar biasa indahnya. Selama setidak-tidaknya 8 kali saya sudah menikmati ini ketika tinggal di sini, dan kali ini, untuk yang ke-9 kalinya, saya lagi-lagi merasa bahagia menyaksikannya.

Di luar suhu sangat dingin, sedang ada red flag warning di ramalan cuaca yang mengatakan bahwa angin bertiup sangat kencang ditambah suhu musim dingin yang menggigit tulang. Tidak nyaman berada di luar tapi ribuan manusia yang melakukan kegiatan mereka di malam ini sepertinya tidak terlalu perduli. Mas Aris, Nina, Kano dan saya tidak merasakan dinginnya di luar karena ada di dalam kendaraan yang memiliki pemanas terasa sangat nyaman, sehingga kami asyik menikmati pemandangan di luar.

Hari pertama kami tiba di Fort Collins disambut dengan sedikit salju. Tidak banyak, hanya fluries yang juga tidak lama bertahan ketika menyentuh tanah. Cuaca tahun ini memang tidak biasa, kata berita di televisi musim dingin tahun ini suhuny diatas rata-rata. Biasa di bulan Oktober sudah banyak turun salju. Tahun ini sangat kering dan cenderung hangat. Yang menandakan bahwa saat ini musim dingin hanyalah pepohonan dan gundul dan suhu 1 digit. Itu termasuknya hangat karena bulan Desember biasanya sudah minus sekian dan jalanan selalu terlihat sisa salju bahkan seringkali dipenuhi lumpur dingin dari lelehan es. Kali ini bersih, kering dan buat saya yag sudah terbiasa dengan suhu tropis, masih tetap terasa dingin!

Pagi ini saya bersama Nina menyempatkan diri berjalan kaki di sekeliling kompleks perumahan tempat kami tinggal. Suhu saat ini sekitar 8 hingga 10 derajat Celcius. Lumayan dingin sehingga saya mengenakan hoodie dan celana panjang. Satu hal yang kami sangat kehilangan ketika sudah tinggal di Bandung adalah open space. Di sini open space bukan masalah, beberapa kali lipat lebih banyak daripada perumahan. Saya bisa menikmatinya dimana saja, bahkan di dalam kota selalu ada taman dan trek untuk bersepeda. Kota yang menurut saya sangat sehat karena hampir tidak tercium bau asap mapun polusi.


"Luar biasa ya di acara semacam ini tidak ada satu orang pun yang merokok." Kata Nina semalam.

Kemarin malam kami memang pergi ke Christkindlmarkt, yaitu pasar Natal tradisional gaya Eropa. Pasar semacam ini sangat populer di Jerman, Swiss dan Austria. Di Denver setiap tahun selalu diadakan, dan entah sudah berapa kali saya ke sana. Jika ingin menikmati makanan tradisional Jerman seperti Bratwurst, Pretzels, Stollen, kacang-kacangan yang diroast dengan gula dan cinnamon, hingga sup seperti goulash yang disajikan dalam roti yang dilubangi menjadi bread bowl, maka setiap tahun bisa ditemukan di situ. Tidak hanya makanan, banyak produk-produk petani dan home industri seperti berbagai jenis sabun, kerajinan tangan, hiasan boneka gaya Eropa Timur hingga mantol tebal rajutan bisa dibeli di situ.


Saya sendiri hanya sekedar ingin menikmati suasana liburan musim dingin, suasana Natal sangat kental di sana bahkan para pengunjung banyak sekali yang mengenakan pakaian dan kostum ala natal yang didominasi warna merah dan hijau. Dari yang sangat cantik dan indah hingga yang lucu dan terlihat konyol bisa dijumpai. Orang-orag tidak peduli terlihat lucu yang penting menikmati suasana Natal dengan riang gembira. Tidak jarang saya juga melihat orang-orang yang berhias ornamen natal bahkan mengenakan kalung dengan lampu yang berkelap kelip. Ada juga satu keluarga yang mengenakan pakaian yang sama, onesies yang merupakan baju yang jadi satu dengan celana dari bahan kaus yang memiliki warna lucu. Semua orang tampak ingin menikmati suasana ini semaksimal mungkin. Nina dan saya sebetulnya ingin memiliki cangkir gluhwein tahun ini, sayangnya karena datang di hari terakhir Christkindlmarkt, mereka sudah menjual semuanya sehingga kami tidak kebagian. Setiap tahun mereka mendisain gelas keramik yang berbeda, Saya tidak ingat sudah mengkoleksi berapa jenis. Yang saya ingat milik saya yang besar untuk beer diambil Kano, dan kami hanya memiliki yang kecil-kecil untuk gluhwien yaitu minuman khas musim dingin berupa wine yang dimasak dengan rempah-rempah. Tahun ini kami tidak memiliki gelas unik itu.

Sudah beberapa hari saya tidak menulis karena tubuh masih berjuang melawan jetlag. Perbedaan jam di sini dengan Indonesia saa ini 14 jam. Jadi ketika orang-orang di sini beraktifitas, di tanah air sedang pulas tidur. Tubuh saya butuh penyesuaian ditambah memang elevasi yang lumayan tinggi. Denver dikenal dengan Mile High karena elevasinya 1,6 km di atas permukaan laut. Minggu pertama di Colorado lebih banyak saya habiskan untuk melawan jetlag.