AES017 Another Brick In The Wall (Berbuka 2)
Rizalk47
Sunday March 2 2025, 3:34 PM
AES017 Another Brick In The Wall (Berbuka 2)

We don't need no education
We don't need no thought control
No dark sarcasm in the classroom
Teacher, leave them kids alone
Hey! Teacher! Leave them kids alone!

Tulisan ini saya buka dengan penggalan lirik dari lagu Pink Floyd yang berjudul Another Brick In The Wall. Tapi saya tidak akan membahas tentang lagu tersebut, saya akan membahas konteks yang disampaikan dalam lagu tersebut. Keresahan tentang sekolah yang mungkin terasa serupa "penjara", tuntutan yang kadang tidak masuk akal, proses pendidikan yang mungkin terlalu semi-militer dan lain sebagainya. Dulu waktu aku sekolah, kadang merasa malas untuk berangkat, apalagi bertemu guru "killer", pokoknya aku serasa mati saja apabila tidak mengerjakan tugas, lalu muncul pertanyaan, mengapa harus merasa demikian? bukankah seharusnya sekolah itu menyenangkan? kenapa seakan-akan itu adalah suatu kewajiban dan bahkan aku sendiri merasa terpenjara oleh aturan-aturannya (padahal bagus juga). 

Definisi Dari Kata Sekolah

Kata school berasal dari bahasa Yunani Kuno "scholē" (σχολή), yang awalnya berarti "waktu luang" atau "waktu untuk belajar dan diskusi." Kemudian, dalam bahasa Latin, kata ini berubah menjadi "schola", yang mengacu pada tempat belajar atau institusi pendidikan. Dari Latin, kata ini diadopsi ke dalam bahasa Inggris Kuno sebagai "scol", lalu berkembang menjadi "school" dalam bahasa Inggris modern. (Cambridge Dictionary).

Asal kata sekolah itu waktu luang loh, jadi kenapa seakan-akan kata "sekolah" itu menjadi momok yang tidak menyenangkan dan sangat membosankan? Ya melihat kembali pada saat aku mengajar, murid-murid sangat senang apabila mendengar bel pulang sekolah, mungkin aku juga kurang baik dalam mengajar--oke lanjut, jaman dahulu kala tepatnya pada jaman Yunani Kuno, para penduduk Athens biasanya melakukan kegiatan mencari ilmu dan membuka ruang diskusi di teras-teras bangunan, mereka dengan antusias "bersekolah" tanpa tuntutan dan paksaan. Penggeseran makna "sekolah" menjadi seperti saat ini pun bisa jadi pr kita bersama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih ramah dan menyenangkan. Angka yang harus dikejar dan sistem rangking yang harus diraih, membuat lingkungan belajar jadi terkesan kompetitif dan berlomba-lomba mengejar pembuktian siapa yang paling "pintar". 

Pemahaman Ilmu Setiap Orang Berbeda

Sekarang mari telaah dulu menyoal ilmu yang terkotak-kotakkan. Berarti kita harus melawan sistem nih? ga juga, pendidikan ortodoks yang sekarang pun sungguh sangat diperlukan untuk keperluan "administrasi" tentunya, tidak mungkin dong mengajukan ke universitas atau bahkan masuk pegawai negeri sipil, tanpa indikator kecerdasan berdasarkan angka. Namun mari lepaskan dulu sistem yang sudah lama melekat itu, mari kita sama-sama mempunyai prinsip bahwa setiap ilmu yang dimiliki orang itu luas, bahkan sangat luas, dan yang paling menarik memiliki perbedaan (ciri khas). Bagi aku menariknya manusia itu, memiliki keberagaman termasuk dalam pemahaman ilmu yang dimiliki, contoh kasus saja, aku dikelas belajar tentang materi sejarah abad kegelapan di eropa, pasti setiap orang mempunyai penafsiran yang berbeda terhadap materi yang disampaikan. Lalu mengapa? harus ada istilah "pintar" dan "bodoh" disaat pemahaman ilmu setiap orang itu berbeda. 

Mempelari Kurikulum Waldorf Dalam Rangka Ngabuburit

Kemarin aku menonton video tentang bagaimana konsep dasar antroposofi dan waldorf, nah hari ini aku mulai bergerak ke pemahaman kurikulum Waldorf. Ada alasannya aku menulis judul diatas, karena bisa jadi tulisan ini menjadi catatan refleksi yang aku dapatkan. Sepemahaman aku kurikulum waldorf dibagi menjadi tiga fase willing (0-7), feeling (7-14), thinking (14-21), nah dalam setiap fase ada tahapan-tahapan untuk memahami bagaimana dunia berjalan, fase willing itu adalah fase dimana mengenali dan memiliki kemauan untuk "hidup" berat banget yah, maksud aku memiliki kemauan berarti memiliki rasa penasaran yang besar terhadap dunia, jadi anak usia dini diarahkan untuk mengenali lingkungan sekitarnya, setiap grade atau kelas, memiliki medium pemahaman yang bertahap juga, belum ada pembelajaran akademi formal ( baca-tulis-hitung) anak-anak belajar melalui ritme harian yang stabil, seperti membaca dan mendengarkan dongeng. Fase Feeling mulai mengasah sense imajinasi dan praktik langsung. Dalam fase thinking anak sudah memasuk usia remaja fokus utamanya adalah pengembangan pemikiran kritis dan penerapan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Karena Waldorf identik dengan spiritualitas biasanya sekolah-sekolah waldorf di eropa mendalami ilmu mitologi nordik dan yunani, apabila di indonesia penerapannya berfokus mempelajari kearifan lokal. Aku pikir ini sih yang paling menarik, mempelajari ilmu spritualitas berdasarkan kearifan lokal menjadi cakupan yang luas dan menstimulasi siwa untuk lebih berpikiran secara terbuka (tidak sempit). 

Aku juga masih baru mempelajari soal ilmu ini, jadi maaf apabila ada kekurangan, tetapi yang aku tahu, penerapan waldorf di Indonesai masih sangat minim dan pasti akan mendapatkan kritisi dari berbagai pihak, apalagi tidak ada indikator penilaian administrasi berdasarkan angka. Anak kita tidak akan cerdas, tetapi anak kita akan menjadi manusia yang paling humanis pastinya. Pada akhirnya hidup itu pilihan juga sih. Namun aku ingin bisa sekali di masa depan membuat stigma "sekolah" menjadi hal yang menyenangkan tanpa harus mengganti istilahnya, tidak apa-apa aku tidak bisa merubah secara keseluruhan apalagi merubah sistem, tetapi setidaknya aku bisa menerapkannya kepada murid-muridku kelak, ruang yang kecil namun pasti akan memiliki guncangan yang besar. I hope in the future there is no dark sarcasm in the classroom.

aku sisipkan lagi video youtube tentang kurikulum waldorf yah, tentunya lebih jelas dan lengkap.

You May Also Like