AES89 Dalam Batas Pandang
wulan bubuy
Tuesday August 13 2024, 8:34 AM
AES89 Dalam Batas Pandang

Di satu kesempatan, aku dan anakku mengobrol cukup mendalam. Kala itu kami membahas tentang pentingnya untuk memahami bahwa apa yang kita perbuat, utamanya adalah untuk diri sendiri terlebih dahulu.

Sederhananya, aku mencoba menjelaskan; ketika kita belajar kemudian mendapatkan ilmu, maka yang paling pertama harus dilakukan adalah kita menerapkannya di keseharian. Sehingga hal tersebut menjadi sebab suatu ilmu dikatakan bermanfaat. Setelah itu barulah kita bisa menularkannya kepada orang lain, maka jika demikian ilmu itu akan menjadi 'buah' kenikmatan yang bisa dirasakan keberkahannya, tidak hanya di hari ini namun selama oranglain mendapatkan manfaatnya.

Subhanallah, obrolan kecil ini membuat hatiku menjadi lega. Tak terbilang, bahasan tentang bagaimana fokus terhadap diri dalam memantapkan keyakinan si anak remaja ini, berkali-kali menjadi topik menarik. Di satu sisi, aku yang ilmunya masih teramat sedikit, terasa belum cukup mumpuni dalam menjawab tantangan hari-hari si anak remaja. Namun, di sisi lain, sebagai ibu yang percaya dengan apa yang ditakdirkanNya pasti yang terbaik untuknya, aku merasa tenang.

Maksudku, ketika si anak dengan dinamika emosi yang masih perlu dilingkupi dengan sabar ini, aku jadi belajar bagaimana cara menasihati yang bukan hanya menarik secara retorika tetapi sekaligus membuatnya merasa perlu memaknai dirinya sebagai individu yang mau berkontribusi. Maka, pertanyaanku yang sering kusebut akhir-akhir ini di kala ia mulai 'rebahan' adalah, "Mau diisi dengan apa waktumu, Nak?" Atau "Mau kah kamu menjadi bagian dari solusi?"

Alhamdulillah, dua pertanyaan itu cukup cepat memperoleh atensi. Dan kurasa selama ia masih dapat merespon sebuah tanya, lalu tergelitik untuk 'berdiri' dan mengambil peran, meski kecil, ini menjadi pertanda baik. Seperti pendaki yang sedang membuka jalur baru, ia sedang meninggalkan jejak dan aku menghargai setiap proses yang sedang ia coba rakit.

Betul, setiap apapun memiliki waktunya sendiri dan karena alasan inilah, aku gak mau ganggu. Namun, ada pesan yang kerap aku gaungkan yaitu pemahaman bahwa mengejar ridho manusia adalah sesuatu yang tidak pernah bisa dicapai. Maka ia harus yakin kepada siapa ia mencari keridhoan? Sebab kita gak mungkin bisa memaksakan oranglain untuk cocok dengan kita dan bukan berarti mereka gak baik ketika tidak merasa cocok. Sehingga, ia hanya perlu menjaga agar lisan dan perbuatannya tidak menyakiti oranglain, sebab bukanlah urusannya ketika ada seseorang yang tidak menyukainya. Tidak pula dibenarkan ia hasad kepada siapapun yang tidak menyukainya. Disaat inilah ia harus belajar memberi udzur, seburuk-buruk ia memandang seseorang, pasti ada kebaikan yang tidak diketahuinya. Begitupun sebaliknya, tidak pantas ia memiliki ekspektasi besar terhadap seseorang, karena sesempurna apapun seseorang dipandangannya, ia gak pernah tahu keburukan apa yang dikerjakannya di kala sendiri.

Hihi.. seru geuning ya mendampingi anak remaja, teh. Sejujurnya, aku jadi banyak kilas balik sama diri sendiri di usia yang sama dengannya. Kayak mikir, 'Dulu teh seribet ini?' Mau jawab 'asa ngga', ragu juga. Tapi aku setuju dengan ungkapan, 'Anakmu adalah kesempatan keduamu'. Kalimat ini, tentu bukan untuk membebani anak dengan cita-cita orangtua yang gak tercapai. Justru, aku memahaminya bahwa kita yang sudah berjalan melintasi waktu, perlu bijak dalam mengambil referensi.

Ada ungkapan yang sangat bagus sebagai renungan: β€œDidiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalianβ€œ.

Semoga kita, aku terkhusus - tidak hanya mendidik anak sesuai intuisi, namun diberikan juga ilmu untuk mengantarkan anak-anak kita menjadi pribadi-pribadi yang membawa banyak kebermanfaatan.

Andy Sutioso
@kak-andy   2 years ago
Tulisan keren ini... πŸ™πŸΌπŸ˜Š
wulan bubuy
@wulan-bubuy   2 years ago
Terima kasih kak