"Dari mana ini? kok jalan kaki?" tanya teman yang ketemu di jalan.
"Di sekolah lagi ada program LEUKAS." jawabku.
"LEUKAS?" tanyanya lagi.
"Leumpang ka sakola. Mencoba mengurangi emisi karbon dengan mengganti kebiasaan berkendara dengan jalan kaki atau bersepeda."
Begitu cuplikan pembicaraan pendek dengan temanku. Setelah itu kami berpisah. Ga lama kemudian istriku bertanya: "jadi jalan kakinya cuma karena Leukas ya? Kalau ga Leukas lagi, ga jalan kaki lagi?"
Istriku ini orangnya kritis. Kritikus untuk diriku. "Ya tetap la." Jawabku. "Kalau gitu jawabnya jangan karena Leukas. Kalau karena Leukas, setelah selesai programnya, ga jalan pagi lagi."
"Jadi jalan pagi karena apa?" tanyanya lagi.
"Karena aku cinta padamu."
Seru juga berjalan pagi. Bercerita kecil sama keluarga, mencari buah kirsan kesukaan anak-anak sampai ketemu monyet yang melompat-lompat kecil meminta buah kirsannya.
Setelah beberapa kali Leukas, akhirnya beberapa gang di dekat sekolah sudah terjelajahi. Banyak sekali jalan tikus ke sekolah ini.
Tapi hari ini kami gagal untuk berjalan pagi, ban mobil tiba-tiba kempes, padahal kemarin baru diservis. Ternyata pentil bannya ada yang rusak. Berganti naik motor menuju sekolah. Kok Leukas naik mobil? Ya, kami naik mobil dulu sampai ke Setrasari, dari sana baru kami berjalan kaki ke sekolah.
"Pa, monyetnya masih ada di sana." kata Trystin. Memang kita perlu memperlambat langkah agar bisa memperhatikan lebih detail. Andai tidak berjalan kaki, kami yang biasanya jalan di sana, tidak pernah melihat ada monyet kecil di sana. Ayo Leukas, karena aku cinta padamu.