Jalan hidup memang ajaib, selalu membawa kita bertemu dengan hal yang gak pernah disangka-sangka. Seperti kemarin, baru saja ada seseorang, tiba-tiba bertanya hal personal yang belakangan baru kutahu kalau dirinya dan diriku memiliki satu silsilah keluarga yang bersinggungan. Entah kali keberapa aku mengalami ini, yang kusadari saat pertama kali tahu adalah mengurai ujung simpulnya dengan merunut datang dari keluarga yang mana? Tak jarang juga setelah dirunut aku semakin bingung karena kurang sering mendengar nama yang disebutkan. Haha.
Ada sebuah pesan yang paling sering kudengar di keluargaku, 'Ulah nepi ka pareumeun obor'. Dulu aku mengartikannya jangan putus silaturahmi, dan menjadi keharusan untuk saling mengenal meski sudah menjadi keluarga-keluarga baru, juga pindah tempat tinggal. Nah, repotnya makin ke bawah, makin melebar si pohon keluarga ini. Kejadiannya ya begitu, betulan jadi saudara ketemu gede secara harafiah. Kecilnya gak pernah ketemu, tetiba bertemu di tempat kerja atau di sekolah. Bahkan sindirian yang menjadi lawakan "Hati-hati loh, tar ujungnya saudara" jadi kalimat favorit di suatu waktu saking banyaknya yang mengalami hal serupa. Kenal jadi teman main, dekat diajak ke rumah, ketemu orangtua dan jeng-jeng! Pulangnya jadi saudara.
Hal begini menyadarkan aku untuk selalu baik sama semua orang. Bukan cuma karena ujungnya saudara, tapi karena memang manusia ini satu sama lain saling terkoneksi, saling terikat. Maka saat kita berbuat baik, baiknya disini harus berlaku untuk diri sendiri dan orang lain pula. Semakin baik kita bisa mengelola diri, semakin baik juga kita mengenal diri dan semakin banyak manfaat yang bisa diberikan oleh diri keluar diri. Setidaknya, ini menjadi pengingat untukku bahwa musuh terbesar adalah diri sendiri. Tak heran mengendalikan diri ini selalu jadi tantangan, sebab aku harus bisa berdialog sama si aku yang bernama nurani. Sebuah proses panjang untuk menemukan, tapi menjadi setimpal kalau ternyata apa yang dipelajari ini walau sedikit efeknya sepanjang hayat.