Pertama kali yang saya lakukan sambil sarapan pagi ini adalah membuka laptop dan membaca Atomic Essay. Ini kegiatan yang dulu biasanya saya kerjakan di kantor karena saya selalu tiba di tempat kerja lebih awal, jadi banyak waktu sebelum melakukan pekerjaan. Sekarang sedikit berbeda, saya tidak duduk di kantor melainkan di meja kerja besar berhadapan dengan Nina yang juga sudah sibuk dengan mathematical equations yang tidak saya mengerti karena penuh dengan simbols. Ini akan mejadi ritual baru hampir setiap pagi jika Nina tidak ngantor.
Musik dari Breaking Bread mengalun, lagu-lagu yang dulu biasa dinyanyikan di gereja yang dibimbing oleh pastor Jesuit yang pernah saya hadiri, musik-musik yang diciptakan oleh mantan pastor Jesuits, Dan Schutte. Saya bukan orang religius, tapi lagu-lagu Dan Schutte ini telah menemani saya selama bertahun-tahun, menjadi bagian dari sejarah perjalanan hidup sehingga lagu-lagui ini sangat memiliki efek reflektif, rekolektif, atau apalah istilahnya.
Pagi ini sangat nyaman, sebelum panas menyerang yang akhir-kahir ini membuat saya begitu menderita. Perbedaan hidup di daerah tropis dan di daerah sub tropis menurut saya sangat ekstrim. Selama di daerah sub tropis yang kebetulan kering karena saya berada di elevasi yang sangat tinggi, saya hampir tidak berkeringat. Berbeda dengan di Bandung, tubuh saya selalu lengket bahkan pada saat tidak berkeringat. Saya selalu merasa "kotor" dan "bau", itu membuat saya merasa tidak nyaman. Ini bagian dari adaptasi yang paling sulit. Saya bisa mandi berkali-kali dalam sehri hanya untuk memberikan kesegaran tubuh dan merasa bersih serta tidak "bau" hahaha..
Eniwei, tanpa sengaja saya membaca tulisan sendiri di Atomic Essay yang ditulis 1,5 tahun yang lalu di bulan Maret, tentang penyesuaian diri. Nah, serunya membaca tulisan lama adalah kita bisa mengevaluasi diri bagaimana perkembangan dalam hidup setelah waktu berlalu. Di tulisan itu saya bercerita bagaimana ketika berada di Indonesia saya dulu sering mara-marah ketika berhadapan dengan lalulintas yang luar biasa di Bandung. Lalu saya berniat untuk menyesuaikan diri dan mulai belajar serta mempersiapkan diri agar nanti ketika kembali berhadapan dengan situasi serupa, saya akan lebih siap.
"Ini merupakan bagian dari latihan saya untuk mengolah stress. Katanya dengan mengenali tekanan atau stress yang dihadapi, kita bisa mengolahnya dengan baik sehingga dalam bertindak tidak selalu emosional melainkan dengan kesadaran penuh dan mindful."
Itu salah satu yang saya tulis waktu itu. Lalu saya mulai mengkaitkannya dengan pengalaman selama sekian bulan setelah kembali ke Indonesia. Bukannya ingin membanggakan diri, tapi saya merasakan bahwa memang saya sudah sangat berubah. Selama di Bandung saya hampir tidak pernah marah di jalanan. Masih suka memberi komentar terhadap para pengguna jalan yang sakti-sakti di sini, tapi secara emosional saya sama sekali tidak ter-compromised! Sepertinya saya sudah mampu beradaptasi dengan baik.
Kebiasaan saya pun berubah, tentu saja. Apresiasi terhadap banyak hal semakin bertambah, makanan terutama. Saya lebih menyukai yang lokal daripada yang internasional, sesuatu yang dulu jarang saya lakukan. Saya lebih memilih sate madura yang sangat murah karena saya dapat menikmati 20 tusuk sate dan 2 lontong hanya dengan 35 ribu rupiah, sementara jika saya ke restoran steak terkenal di Bandung, teman saya memesan steak yang kalau diperhatikan sangat "minimalis" seonggok kecil kentang goreng, sejumput sayuran dan beberapa potong daging sapi yang proses pengolahannya agak kurang akurat, harus membayar hampir 300 ribu rupiah. Saya sama sekali tidak tertarik pada pasta atau steak lidah, saya memilih es teh tawar dan cemilan daripada mengeluarkan banyak uang untuk jenis makanan yang terlalu overrated. Ya, saya terbalik, banyak orang yang sangat menjunjung tinggi makanan manca negara, sementara saya sangat mencintai makanan ala warung tegal. Bandingkan steak lokal dengan sayur bunga daun pepaya, ayam bakar rempah dan perkedel jagung. Mana yang akan saya pilih? Jelas sayur bunga pepaya, ayam bakar dan perkedel jagung. Memasaknya lebih sulit dibandingkan dengan membakar daging sapi yang liat dan alot hahahaha. (Memang saya tidak adil, kenapa tidak membandingkan dengan steak yang empuk dan harum? Hahahaha.) Nah di sini saya merasa sudah bukan saya yang dulu lagi. Panta Rhei, hidup itu mengalir seperti air sungai, seperti yang diungkapkan oleh Herakleitus. Sungainya tidak sama, dan orangnya juga tidak sama lagi karena segala sesuatu selalu berubah.
Foto credit: executiveacademy.at
Aseek...