"Kecil, tapi Tuhan menciptakan."
Kalimat sederhana terucap di tengah antusias Kawan Marwas berebut tempat untuk melihat Kepik Emas atau Kumbang Kura-Kura Emas (Aspidimorpha Sanctaecrucis). Serangga yang sudah langka akibat berkurangnya habitat dan penggunaan pestisida berlebih. Selain tentu saja rentetan panjang dampak perubahan iklim. Secerca cahaya menyembul pagi ini bersama kemunculan Kepik Emas di dekat sekolah. Beberapa teman juga sempat mendoakan agar mereka tidak punah. Tentu kuaminkan ini dengan lantang di dalam hati dan melalui suaraku.
Dalam diskusi beberapa teman yang penasaran seraya menyodorkan tangannya agar Kepik Emas sudi mampir dan menyapa kulit mereka, terdengar sebuah tanya, "Tapi, kepik tuh buat apa ya?" Tanya itu segera menguap bersama riuh kalimat lain yang menyatakan kekaguman terhadap warna, bentuk, dan keunikan Kepik Emas. Belum sempat kujawab pertanyaan tadi, di ujung percakapan, terlahirlah kalimat bersahaja yang mengundang perenungan: "Kecil, tapi Tuhan menciptakan." Kepik Emas yang kecil itu saja Tuhan ciptakan, apalagi kita.
Saya jadi ingat sebuah kisah yang ditulis oleh Rumi, tentang seseorang yang datang ke kuil dan bertemu dengan banyak peminta-minta di halaman kuil tersebut. Seorang itu bertanya dalam hatinya, "Mengapa Tuhan tidak menolong mereka?" Singkat cerita, Tuhan menjawab: "Aku menolong mereka, maka aku menciptakanmu."
Bisakah kita juga menjadi seorang tadi bagi peminta-minta (Kepik Emas)? Sesederhana menanam di rumah sendiri. Menumbuhkan rumah (habitat) bagi serangga mulai dari rumah kita, kebun kita, dan lingkungan kita. Mungkin itu tak cukup untuk menghentikan Kiamat Serangga, tetapi menunda perlahan dan membangun kesadaran bagi yang lainnya. Merawat kehidupan adalah hidup itu sendiri.
🥰 nuhun kak Mamat. Asik banget ceritanya 🙏🏼