AES189 Belajar Bukan Untuk Belajar
leoamurist
Tuesday February 1 2022, 5:06 PM
AES189 Belajar Bukan Untuk Belajar

Kalau belajar hanya untuk belajar, jadinya hanya belajar. Gak jadi apa-apa, selain jadi pelajaran. Lalu diulangi lagi, dipelajari lagi. Belajar lagi. Berputar berulang tak henti oleh karena belajar hanya untuk belajar.

Memang sempit sih konteks pernyataan di atas. Gak apa-apa, justru konteks sempit inilah yang diperlukan dalam per-nyataan. Kalau konteksnya luas melulu, jadinya per-kataan melulu. Lihat track record, katanya selalu beda dengan nyatanya.

Jadi, penyataannya yang hendak diangkat lewat konteks sempit ini adalah belajar bukan untuk belajar. Belajar untuk apa dong kalau gitu? Belajar itu untuk apapun, kecuali untuk belajar. Kalau belajar untuk belajar, maka gak ada lah belajar itu.

Seperti belajar menyeruput kopi untuk menyeruput kopi, bukan untuk belajar menyeruput kopi. Seperti belajar cara kerja alat kupas gabah kering kopi untuk mengupas gabah kering kopi.

Bukan untuk belajar mengupas gabah kering kopi. Itu sih gakkan ngupas-ngupas, menunda melulu oleh alasannya masih belajar. Sepuluh tahun pun berlalu, gabah kopinya habis dimakan tikus. Menyeruput kopi hanyalah fiksi.

Nanti itu tidak ada, selalu sekarang dan sesekarang sekarangnya saja yang ada. Belajar itu di dahulu, bukan di nanti, bukan di sekarang. Sekarang adalah inisasi.

Narasi itu masa lalu, fiksi itu masa depan, inisiatif ini sekarang.

Seperti menjemur gabah kering, sambil melihat video cara kerja mesin kupas. Eh, pas buka-buka lemari menemukan penggiling kopi manual bekas. Respon tindakan : Inisiasi, inovasi, setel. Produksi! Dari kata jadi nyata, sekarang.

Sekarang, ada segelas kopi siap diseruput, sudah diseruput malahan pas lagi hangat-hangatnya seduhan. Yang tadinya gabah kering. Kenyataan ini terjadi karena belajarnya bukan untuk belajarBelajarnya untuk menjadikan gabah kering kopi menjadi segelas minuman.

Submitted and accepted. Then, approved.