Mungkin teman-teman pernah tanpa sengaja melihat cuplikan video ini. Ada seseorang duduk di salon atau barbershop untuk digunduli karena kemungkinan besar karena alasan kesehatan. Penyandang kanker misalnya yang sedang menjalani kemoterapi biasanya rambutnya rontok sehingga dicukur habis merupakan tindakan yang baik daripada terlalu sering bersedih ketika menyadari rambutnya rontok ketika sedang garuk-garuk kepala yang efek psikologisnya katanya tidak baik. Mencukur habis kepala disinyalir dapat mengurangi dampak kesedihan karena berulang-ulang dihadapkan pada kenyataan kehilangan rambut sedikit demi sedikit secara terus menerus. Nah, untuk kesekian kalinya hari ini saya tidak sengaja "berjumpa" lagi dengan video ini. Di barbershop seorang anak perempuan begitu bersedih ketika kepalanya harus digunduli. Dia menangis. Melihat ini tukang cukurnya berhenti dan mencukur kepalanya sendiri, tidak berhenti di situ, teman-teman tukang cukur itu segera bergabung dan mereka masing-masing mencukur kepalanya sehingga gundul. Luar biasa! Saya sangat terharu menyaksikan betapa penuh empatinya para tukang cukur ini. This kind of video always gets me!
Sering saya berpikir bahwa kita saat ini sangat membutuhkan orang-orang seperti mereka yang menunjukkan empati dengan melakukan tindakan-tindakan sederhana tapi memiliki dampak yang luar biasa. Ketika seseorang sedang dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan, sangat penting bahwa mereka itu merasa tidak sendirian dan perlu mendapat dukungan. Nah jaman sekarang, kecuali dari keluarga dan sahabat-sahabat yang sangat dekat, tidak mudah menemukan itu karena masyarakat semakin lama semakin cenderung menjadi individualistis yang tidak lagi peduli pada orang lain.
Pernah tidak melihat sebuah video seseorang yang melakukan eksperimen di jalan dimana dia menggunakan 2 tongkat penyangga karena kakinya dibebat, lalu salah satu tongkatnya terlepas? Nah di video itu lebih banyak orang yang menyingkir tanpa membantu, pura-pura tidak melihat, atau bahkan melihat tapi berjalan terus karena merasa itu bukan masalah mereka? Video itu menunjukkan bahwa empati masyarakat semakin kecil. Jangan salah, kondisi semacam ini tidak hanya terjadi pada jaman sekarang, bahkan ribuan tahun yang lalu sudah ada! Tidak percaya? Pernah mendengar parabel tentang the good Samaritan? Kalau belum pernah, saya ceritakan sebentar. Ini sebuah kisah perumpamaan yang ada di kitab suci.
Ketika itu ada seseorang yang melakukan perjalanan, lalu dirampok dijalan dan dalam kondisi setengah mati dia ditinggalkan begitu saja di jalan. Lalu ada pemuka agama lewat dan sama sekali tidak berhenti, demikian juga orang dari suku Lewi yang juga dianggap sebagai orang penting dalam agama. Tapi ketika seorang Samaria lewat, yang sebenarnya adalah suku yang berseteru dengan suku orang yang jadi korban, malah berenti membersihkan dan membalut luka-lukanya, menggotongnya dengan keledai yang dia miliki lalu dibawa ke penginapan dimana dia membayar biaya penginapan dan membayar orang untuk merawat dia. Nah begitu ceritanya. Itu salah satu contoh cerita yang berkaitan dengan empati ribuan tahun yang lalu. Itu adalah perumpamaan, kemungkinan besar tidak pernah terjadi, tapi jika cerita itu ada, maka kejadian lain yang mirip pasti terjadi.
Empati adalah kemampuan manusia untuk mengerti dan ikut merasakan apa yang dialami oleh orang lain. Empati adalah meletakkan diri kita dalam kacamata orang lain yang sedang menghadapi problematikanya. Ketika kita mengerti apa yang orang lain alami, berbagi rasa dan mengenali kondisi orang lain lalu merespon dengan bentuk aksi atau jestur dengan penuh perhatian, kita telah mempraktikan suatu empati.
Saya rasa tidak ada ruginya kita terus melatih empati karena saya yakin itu akan meningkatkan kualitas kemanusiaan kita karena empati merupakan suatu hal yang sangat mulia. Katanya untuk melatih agar lebih empati kita bisa mulai dengan lebih banyak mendengarkan daripada menasihati, menunjukkan ketertarikan kita dengan tulus akan kondisi orang lain seperti berusaha melihat apa yang mereka butuhkan, bagaimana mereka menjalani hidup sehari-hari, kita bisa juga membayangkan jika itu terjadi pada diri kita, dan tidak hanya sampai di situ, kita juga perlu dengan jujur mengakui dan mengenali emosi-emosi yang timbul karenanya, sebab jika kita dapat melakukan itu semua, kita akan bisa lebih berempati. Semoga!
Foto credit: usatoday.com