Barusan saya membaca esai yang ditulis kak Ine mengenaiย Waktu dan mengatakan bahwa dalam menjalani waktu kita tidak jarang kurang memanfaatkan dan memaknainya. Entah mengapa sejak selesai membaca kata "memaknai" begitu melekat pada pikiran saya dan kemudian menjadi bahan pemikiran apakah selama ini saya sudah betul-betul memaknai segala sesuatu yang sudah saya jalani, tidak hanya waktu, tapi pengalaman hidup, proses menjalani hidup bahkan kehidupan yang sudah dianugerahkan pada saya selama ini.
John Burrough, seorang penulis esai dan juga aktivis gerakan konservasi pernah mengatakan:"I still find each day too short for all the thoughts I want to think, all the walks I want to take, all the books I want to read, and all the friends I want to see." Ketika membaca kata-kata Mr. Burrough ini saya seperti disentil dan ditegur sekaligus merasa bersalah karena semalam saya sudah berbaring di tempat tidur sejak pukul 8 malam dan menghabiskan waktu saya untuk mendengarkan musik hingga terlelap. Apakah saya sudah menyia-nyiakan waktu? Sepertinya saya sudah melakukan sesuatu yang sia-sia ketika beberapa orang sahabat saya hanya mampu berbaring karena sakit, sementara saya yang mampu melakukan ribuan hal malah menghabiskannya dengan berbaring.
Kita seringkali terjebak dalam hal-hal kecil dalam hidup yang sebetulnya tidak banyak artinya dan tidak berhasil memperhatikan hal-hal yang jauh lebih penting bagi kebanyakan orang. Kita berhenti menikmati perjalanan hidup ini karena begitu terpaku pada hal-hal yang tidak penting, lebih parah lagi, hal itu dibiarkan berlangsung berlarut-larut. Membuang-buang anugerah yang diberikan oleh Pencipta! Kita kurang jeli dalam menentukan prioritas dalam hidup dan lebih terjebak dalam hal-hal sepele.
Ann Landers, salah seorang columnis sebuah media di Chicago pernah berkata"Too many people today know the price of everything and the value of nothing." Penjelasannya begini, jika kita membeli sebuah barang baru, misalnya saja HP yang terbaru. Beberapa bulan kita begitu menikmatinya karena kita merasa memiliki sebuah benda yang jarang orang lain miliki karena yang paling baru, paling canggih, tetapi sesudah beberapa saat dan sudah kita pakai setiap hari, apresiasi kita pada benda itu semakin lama semakin berkurang lalu akhirnya "value" nya hampir kita lupakan. Pendek kata: "Owning the toy is the end of the joy." and "The thrill is in the chase." Apakah ini juga terjadi dalam kita menjalani hidup?
Kesukaan kita pada segala sesuatu dalam hidup sedikit demi sedikit berkurang dengan berjalannya waktu yang akhirnya mengurangi pemaknaan kita pada kehidupan. Anehnya justru banyak penderitaan serta kesalahan maupun kegagalan yang pernah kita hadapi tidak pernah lenyap dari diri kita. Mungkin itu juga yang berusaha diungkapkan oleh pendeta dalam cerita kak Ine dalam esainya. Untuk apa terus menerus memikul beban dari sebuah peristiwa yang sudah berlalu?
Mungkin kuncinya adalah kita harus mampu menerima diri apa adanya, memaafkan diri jika menghadapi kegagalan, menerima kondisi apa adanya dalam hidup kita dan menjalani hidup ini semaksimal mungkin. Tidak masalah berapa usia kita, berapa banyak usaha yang sudah kita lakukan dalam hidup maupun sesukses atau seterpuruk apa pengalaman yang penah kita hadapi karena yang terpenting perjalanan hidup kita masing-masing adalah sebuah pelajaran bagi masing-masing pribadi yang utuh dan tidak pernah bisa dibandingkan dengan orang lain. Hidup tidak pernah seperti garis lurus, dan yang penting ada keseimbangan. Jika demikian kita akan mampu memaknai hidup kita masing-masing dan meraih kebahagiaan.
foto: shutterstock
'perjalanan hidup kita masing-masing adalah sebuah pelajaran bagi masing-masing pribadi yang utuh dan tidak pernah bisa dibandingkan dengan orang lain.' ini perlu digarisbawah pak Jo.. sepakat sekali.. ๐๐ผ
Wah esai keren ini saya kok kelewat... Alinea terakhirnya bagus banget. Matur nuwun oom Joe. ๐๐ผ๐