"I can't believe we are drinking poop coffee!" Kata salah satu teman perjalanan kami.
Saat itu kami sedang duduk berkeliling di sebuah meja kecil sambil masing-masing menikmati secangkir kecil kopi luwak. Barusan kami diajak berkeliling melihat biji kopi yang belum diproses, 2 ekor luwak di dalam kandang, biji-biji kopi yang masih berbentuk kotoran luwak mengupas biji kopi dan melihat cara memasaknya. Ruangan tempat kami duduk sangat harum dengan aroma kopi dan teman-teman saya begitu terpesona dengan keunikannya. Mereka banyak bertanya dan menikmati kopi panas yang luar biasa rasanya.
"Kopi ini rendah kafein." Kata wanita yang menemani kami sore ini. Tempatnya sendiri saya benar-benar lupa, yang jelas kami baru pulang dari candi. Mungkin nanti saya akan kembali ingat, saat ini saya bahkan lupa candi borobudur atau Prambanan.
Kopi luwak tidak lepas dari berbagai kontroversi. Banyak kelompok yang mengutuk cara pembudidayaannya yang unsustainable karena luwak-luwak ini hanya diberi makan buah kopi dan seringkali dalam kondisi yang kurang baik. Kelompok lain yang menyukai kopi unik ini berargumen dengan mereka yang menyukai foie gras yaitu hati bebek yang sangat berlemak karena bebeknya diberi makan secara berlebihan sehingga hatinya membengkak. Luwak tidak "dipaksa" makan secara berlebihan seperti bebek yang kemudian dikonsumsi. Luwak akan berhenti makan ketika kenyang walau memang tetap ada sisi gelapnya karena hanya diberi satu jenis makanan, yaitu buah kopi. Semua bisa dijadikan bahan perdebatan. saya sendiri tidak mau berdebat soal moralitasnya, apapun bisa didebat, tidak beda dengan daging wagyu, dimana sapi dimanja sedemikian rupa lalu pada saatnya akan dikonsumsi. Gurauannya seperti ini."Mana yang lebih kejam, mahluk yang sudah menderita lalu hidupnya berakhir dibandingkan dengan mereka yang dibuat sangat berbahagia dan hidup mewah lalu hidupnya diakhiri?" Semuanya berakhir dengan pandangan masing-masing.

Eniwei, saya menjadwalkan berhenti di tepat kopi luwak semata-mata karena teman-teman adalah para "ahli" dalam bidang makanan dan minuman. Semuanya berkecimpung dalam pekerjaan yang berhubungan dengan kuliner. Bukankah merupakan pengalaman menarik jika mereka diperkenalkan pada jenis kopi unik khas Indonesia? Saya sudah mengajak mereka menikmati makanan Padang, Sunda, Jawa, dan beberapa hari ke depan akan mengenal makanan Bali. Jajanan tradisional Indonesia pun tidak kami lewatkan.

Kopi luwak sangat unik karena berbeda dengan biji-biji kopi lain, kopi ini mengalami proses fermentasi didalam pencernaan binatang yang dinamani luwak (Inggris: Civet) ini. Enzim dan bakteri yang berperan dalam proses pencernaan sebelum kemudian dikeluarkan dalam bentuk kotoran membuat biji kopi ini berkurang kadar keasaman dan cafeinnya disamping rasa unik dan smooth yang dihasilkan. Saya bahkan merasakan ada rasa "manis" yang sangat khas yang tidak saya jumpai ketika menikmati kopi jenis lain.
"Kopi yang bapak ibu nikmati sekarang gratis, tidak dipugut bayaran. Namun jika tertarik, kami memiliki produk dalam bentuk biji kopi maupun yang sudah digiling untuk dibawa pulang." Kata mbak yang memandu kami.
Tentu saja semua orang tertarik, termasuk saya yang sudah terbius dengan pengalaman unik, harum dan rasa kopi yang luar biasa ini. Mata kami seperti buta dan akal sehat kami juga tidak bekerja dengan sempurna sehingga harga kopi yang diatas 350 ribu rupiah per 100 gram tidak benar-benar kami perhatikan dan sibuk mengeluarkan kartu kredit serta menghitung berapa bungkus yang kami inginkan. Hahahaha...
Kopi Luwak memang sangat mahal karena banyak alasan. Pertama, kelangkaanya. Banyak yang mengklaim produknya sebagai kopi luwak, tapi siapa dapat membuktikan? Bahkan tempat kopi yang sedang kami datangi ini, walau sudah menunjukkan berbagai bukti termasuk kotoran yang masih "asli", maupun binatangnya, siapa yang dapat membuktikan bahwa kopi ini tidak dicampur? Mereka mengklaim bahwa hanya memproduksi sedikit perharinya. 1 orang hanya mampu mengupas biji kopi 1 kilo per hari karena semuanya dilakukan secara manual dan labor intensive. Jadi memang masuk akal jika harganya sangat tinggi. Kopi yang kami nikmati di tempat ini memang luar biasa, nanti saya lihat ketika di rumah membuat sendiri dengan kopi yang saya beli. Apakah sama? Atau saya hanya terpengaruh situasi dan terbuai dengan keseruan pengalaman di sana? Nanti akan dibuktikan!
Foto: Tribunnews.com