Cliché! Ini mungkin tanggapan orang lain akan topik renungan saya hari ini, renungan saya yang ketiga di akhir tahun ini, yaitu bahwa keluarga adalah hal yang paling penting dalam hidup saya. Memang tidak semua orang berpendapat begitu. Pengalaman orang lain berkenaan dengan keluarga berbeda-beda. Saya bersyukur jika teman-teman memiliki hubungan keluarga yang harmonis, Itu harapan saya. Tapi tidak sedikit memang teman-teman saya berasal dari keluarga yang difunctional. Dan saya perhatikan kondisi teman-teman saya yang berasal dari keluarga yang sarat dengan masalah semacam ini di kemudian hari mereka menghadapi banyak masalah relasi juga. Tapi tidak semua begitu, tidak bisa kita mengeneralisir hanya dari sekelumit pengalaman. Eniwei, bukan itu fokus dari renungan saya.
Saya merasa seperti seekor larva yang berada dalam kepompong. terus membentuk diri, tidak bisa terlepas dari lingkungan sekitar sehingga suatu waktu pada saat saya bisa melepaskan diri, keluar dari kepompong menjadi seekor kupu-kupu yang cantik. Bagi saya berkembang dalam kepompong seperti berkembang dalam keluarga. Waktu seringkali saya rasa begitu lambat, banyak waktu menunggu dan berdiam diri sambil membentuk diri, lalu ketika saatnya tiba untuk dapat terbang tanpa ikatan, disitulah saya mulai benar-benar merasakan kehidupan yang nyata.
Tampaknya begitu, semua serba lambat dan banyak menunggu, tapi pernahkah terbersit dalam diri bahwa dalam keluarga, kita mempunyai ikatan yang unik, baik secara fisik dan emosional? Sulit menggambarkannya, bahkan ketika kita keluar sulit sekali mendobrak keterikatan itu. Di sana kita disiapkan dan mempersiapkan diri untuk menimbun semua bekal, persiapan dan segala sesuatu yang nantinya akan dibutuhkan ketika kita mengembangkan sayap untuk pertama kalinya.
Itu juga yang saya lakukan pada anak semta wayang yang saya miliki. Keluarga itu unik, kita sering merasa teman-teman justru lebih care, lebih be there pada saat dibutuhkan. Tidak jarang kita mengatakan bahwa kita lebih dekat dengan teman-teman dan sahabat daripada keluarga sendiri, tapi sebenarnya ada semacam tali yang tidak terlihat yang melibat ketat kita dengan keluarga. Banyak hal yang tidak benar-benar kita sadari terbentuk ketika berada dalam kepompong keluarga walau seringkali kita juga merasa tidak nyaman jika terus menerus di dalamnya. Itu hal yang wajar dan dialami oleh banyak orang.
Saya beruntung ditakdirkan berada dalam keluarga yang nyaman dan hangat walau dalam berbagai keterbatasan. Kedekatan kami dalam keluarga sangat erat. Itu jadi semacam "bekal" yang kemudian saya tularkan dalam keluarga yang saya bentuk, terutama dalam menyiapkan Kano sebelum sayapnya terkembang. Mungkin bahkan terlalu berlebihan sebab ada kalanya dia merasa tidak punya ruang. Wajar dia merasa begitu dan juga wajar kami berbuat begitu karena kami tahu jarak yang sangat luas akan terbentang menjauhkan kami satu sama lain.
Keluarga bagi saya adalah segalanya sebab tanpa itu saya akan kehilangan tujuan hidup. Selama belasan tahun saya memfokuskan diri pada diri Kano, berusaha menyiapkan dia dalam kepompong agar pada saatnya dia bisa mengembangkan sayapnya selebar-lebarnya, mengepakkan sayapnya sekuat-kuatnya. Tahun 2024 akhirnya saya dapat berkata: I did that, I've done that! Lalu ada saatnya saya merasa tersesat ketika fokus saya harus beralih, ketika tugas utama saya sudah berkurang banyak. Dia adalah segalanya bagi saya, tapi ada saatnya saya harus sadar dan menerima bahwa akhirnya saya bukan segalanya bagi dia. That's tough and not easy to swallow! Tapi memang seharusnya begitu! It is exactly how it should be!
Foto credit: Pinterest