Dalam memulai sebuah proyek biasanya kita akan memulai dengan eksplorasi, yang nantinya akan di diskusikan sebagai keresahan. Inilah salah satu kesulitan memfasilitasi anak khususnya di jenjang kami. Mengarahkan anak untuk bereksplorasi bukan hal yang sulit, karena mereka sudah terbiasa bergerak bebas tanpa takut kena marah, paling hanya takut salah saja, yaaa orang dewasa pun terkadang takut salah ko.
Setelah bereksplorasi biasanya kita akan berdiskusi untuk menemukan titik temu dari hasil eksplorasi tadi. Disinilah titik yang paling sulit, meramu semua keresahan dan ide yang muncul dalam waktu yang relatif singkat. Karena kalo tidak cepat akan berakhir dengan bingung bersama.
Ada momen dimana kakak dan anak jadi bingung bersama ko, dalam posisi ini kita akan bersama mencari lagi sampai mendapatkan titik temu itu. Inilah kesempatanku belajar, dan memicu keinginan belajar.
Di beberapa momen lainnya aku menemukan klik momen dimana titik temu itu mudah untuk ditemui, atau aku menemukan penerang untuk mengarahkan anak ke titik temu itu. Biasanya hal ini terjadi saat aku memiliki wawasan yang cukup yang dapat mencangkup olahan diskusi kali itu. Pun darisini aku merasakan manfaat dari belajar dan meluaskan wawasan, dan kembali memicu semangat belajarku.
Semangat belajar adalah tongkat yang aku pakai untuk membantuku berjalan di jalan terjal smipa ini. Ibarat naik gunung semangat belajar ini adalah trekking pole yang aku pakai di jalan berpasir. Bisa saja aku berjalan tanpa alat hanya langkahku tidak akan efektif, maju dua langkah mundur satu langkah begitu seterusnya.
Dalam hal smipa, saat aku punya semangat belajar aku bisa mendampingi anak dengan lebih optimal, bukan untuk takut salah atau malah menjauhi kesalahan. Aku jadi tidak lelah sendiri, dan punya waktu untuk mendampingi anak untuk menemukan makna dari setiap perjalanan.