"so, are you still going to cook for your friends? Jello salad and steak?" Tanya saya pada Kano beberapa waktu yang lalu.
"I did already. They loved it."
Itu obrolan saya dengan Kano beberapa hari yang lalu. Dia merencanakan acara potluck atau botram dengan teman-temannya ketika mereka akan nobar salah satu e-sport yang mereka gemari. Seingat saya Kano belum pernah masak untuk siapapun. Memang dia pernah mengundang teman-temannya makan di rumah, itu sudah lama sekali, saat itu saya menyiapkan segala sesuatu, seingat saya waktu itu menyiapkan Poke bowl, jadi berupa spicy tuna, crab salad, irisan timun, spicy aioli, unagi sauce, seaweed salad, dan sebagainya. Saat itu, Kano hanya tinggal meracik dan katanya teman-temannya begitu senang dengan makanan yang disediakan. Pada kesempatan lain saya juga menyiapkan acara Korean BBQ untuk mereka. Kalau tidak salah itu adalah acara ulang tahun Kano. Mereka duduk di halaman belakang, menyiapkan grill elektrik dan memanggang sendiri. Saya hanya menyiapkan berbagai saos, memarinasi beberapa jenis daging yang mereka inginkan seperti bulgogi, kalbi, dan makanan pendamping lainnya berupa beberapa jenis sayuran.
Nah kali ini karena saya sudah di Indonesia. Kano menjadi host dan harus menyiapkan makanan sendiri. Menu yang dia pilih adalah gaya Hawaii/Jepang, yaitu teriyaki steak, menggunakan daging ribeye, salad macaroni, dan sebagai makanan penutup dia membuat mandarin orange jello salad. "They loved it." Katanya
"I am making cheesy garlic green beans casserole for Grandma's Thanksgiving dinner tomorrow." Kata Kano
Dengan teman-temannya saya mengerti bahwa sejak lama memang dia senang mengundang mereka untuk makan bersama. Beberapa kali ketika Nina dan saya pergi ke luar kota selama beberapa waktu, dia sering mengundang teman-temannya untuk bermain di rumah, menginap dan menjadi host, menyiapkan makanan dan minuman, kadang hanya memesan pizza delivery. Tapi untuk bersosialisasi dengan kelompok lain, terutama acara keluarga, dia lebih pasif. Nah saya agak terkejut ketika Kano menyetujui ketika diundang untuk acara makan keluarga pada saat Thanksgiving kemarin. Lebih terkejut lagi ketika dia berencana memasak sesuatu untuk dibawa dan dinikmati bersama-sama. Yang mengundang adalah host family kami, sepasang mantan guru yang berusia di atas 80 tahun. Acara itu akan dihadiri anak dan menantu mereka. Sang menantu kebetulan adalah mantan guru Kano ketika di Middle School.
"Kano akan masak dan membawa makanan ke acara Thanksgiving?" timpal Nina dengan nada tidak percaya.
"It turned out good and they Loved it. Mr. Maudy even had 3 servings." Kata Kano lagi. Mr. Maudy adalah menantu pasangan Bayer's, suami istri host family kami dan Mr. Maudy adalah mantan guru Kano yang saya katakan tadi.
Sepanjang pagi tadi saya tersenyum-senyum. Saya melihat diri saya pada Kano. Selama di rantau, baik waktu di Hawaii maupun di Colorado, mungkin puluhan kali saya mengundang teman-teman untuk ke rumah dan berkumpul sementara saya menyiapkan makanan. Saya senang hosting people dan berpesta maupun hanya berkumpul silaturahmi atau hanya sekedar ngobrol. Entah sudah berapa jenis makanan yang pernah saya sajikan, dari mulai turkey, steak, cornish hens, ayam betutu hingga lontong cap go meh hahaha.. Sebelum Kano lahir pada acara 7 bulanan malah saya mengundang sekitar 200 orang dan mempersiapkan makanan sendirian. Tampaknya Kano melihat apa yang selama ini saya lakukan dan kini dia memiliki kegemaran yang sama.
Satu hal lagi yang saya lihat. Sekarang dia sudah percaya diri menyajikan makanan yang dia masak sendiri untuk teman-temannya, maupun keluarga. Well, masuk akal sih, dia setiap hari masak untuk memberi makan ribuan mahasiswa, jadi masak untuk sekitar 5 hingga 10 orang memang bukan masalah besar, tapi tetap sebagai orang tua saya merasa seru melihat bahwa ada kebiasaan saya yang ditiru oleh Kano. I see myself in him! Dan itu adalah perasaan yang sangat luar biasa!
Wah hahaha hari ini satu frekuensi dengan pak Joe! Warbiasa