Kemarin, 15 Desember saya membaca berita tentang pemugaran Situs Gunung Padang di Cianjur, yang secara simbolik diresmikan KDM. Saya senang sekali, karena Situs Gunung Padang memiliki kaitan sangat erat dengan perjalanan spiritual yang terjadi dalam hidup saya.
Saya lupa, sudah 6 atau 7 kali berkunjung ke Gunung Padang, biasanya sore atau malam hari, seringnya malam sekitar jam 10 atau 12 malam, meditasi diatas, lalu esok dini harinya turun ke bawah.
Situs ini memang menyimpan banyak misteri arkeologi. Meskipun eksistensinya sudah tercatat sejak tahun 1891 oleh Belanda, tapi baru mulai ramai diperbincangkan sejak kunjungan presiden SBY pada awal 2014.
Sejak saat itu, banyak sekali yang membahas Gunung Padang. Dari mulai tim peneliti lokal sampai jurnalis asing macam Graham Hancock di Hystory Channel.
Saya pribadi pertama ke Gunung Padang pada suatu sore di tahun 2015, suatu peristiwa yang mengubah pemahaman saya terhadap spiritual, agama, dan kehidupan untuk selamanya.
Gunung Padang memang menyimpan banyak harta karun arkeologis bagi ilmu pengetahuan, meskipun usianya diperdebatkan, tapi radiocarbon dating terbaru pada tahun 2025 di teras 5 (bagian atas situs ini) mengkonfirmasi bahwa bagian atas situs ini dibangun sekitar 8000 tahun yang lalu. Sisanya masih misteri.
Banyak yang mengaitkan Gunung Padang dengan peradaban lampau saat pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan masih berupa daratan besar yang menyatu (para ilmuwan geologi menyebutnya Sunda Shelf / Paparan Sunda) sekitar 25.000 tahun yang lalu.
Masa itu, laut Jawa, selat Malaka, dan selat Karimata adalah daratan, karena permukaan air laut lebih rendah sekitar 120 meter dari sekarang.
Saya berharap sekali pemugaran kali ini bisa mengungkap lebih jauh tentang peradaban lampau di Tanah Sunda, negeri yang pada masanya di sebut Para Hyang An, yang salah satu maknanya jika diterjemahkan :
"Tempat Mereka Yang Datang Dari Atas (Hyang)"