AES012 - Obrolan Pendobrak Dinding Dewasa
frisma
Monday April 29 2024, 1:51 PM
AES012 - Obrolan Pendobrak Dinding Dewasa

Setelah berkegiatan penuh di hari Rabu hingga Kamis yaitu berkemah di Curug Layung bersama dengan SD 5 Bengawan Solo, di akhir perjalanan pulang menuju Smipa melakukan obrolan-obrolan ringan bersama dengan Kak Asep. Memperdalam pengenalan menuju pribadi anak-anak SD 5 lewat perspektif kakak kelas yang menemani dari hari ke hari berbagai perjalanan anak dalam menemukan dan memancarkan bintangnya. Banyak hal yang bisa dimaknai dari perjalanan bersama anak-anak saat berkemah, apalagi kegiatan berkemah ini adalah kegiatan berkemah pertama anak-anak untuk bersama-sama menjajal adrenalin, mengunjungi alam, dan bersenang-senang di tempat baru. Tak kalah penting juga bagaimana kegiatan berkemah ini merealisasi konsep ‘perjalanan zero waste’.

Salah satu obrolan yang bergulir dengan Kak Asep adalah mengenai kebisaan akan sesuatu, dalam hal ini adalah kebisaan dalam bermain musik. Kak Asep mempertanyakan apakah aku bisa memainkan alat musik tertentu atau bahkan mahir, tetapi aku langsung menjawab “Gak Kak, aku gak terlalu bisa alat musik. Salah satu hal yang mungkin karena aku gak bisa nyanyi jadinya aku gak mengulik alat musik. Meskipun pasanganku banyak menggunakan alat musik dan mengajari aku beberapa alat musik tapi sepertinya aku lebih tertarik ke hal lain. Jadi ya bisa dikatakan belum bisa.”. Jawab Kak Asep dengan tenangnya “Sebetulnya Kak, di Smipa ini gak harus mahir. Saya juga dulu gak bisa alat musik, tetapi saya belajar untuk bisa memfasilitasi anak-anak. Jangan sampai apa yang kita belum bisa jadinya menghambat anak-anak untuk terfasilitasi dengan baik karena kita. Banyak cara Kak, salah satunya adalah berkolaborasi dengan pihak lain itu sangat memungkinkan untuk kita dapat memfasilitasi anak-anak dengan sebaik dan semaksimal mungkin”.

Seketika perkataan Kak Asep menjadi terngiang-ngiang dan rasanya merubuhkan banyak dinding-dinding yang selama ini melingkupi diriku untuk bertumbuh. Dari rasa “aku tidak bisa karena aku tidak memiliki bakat” menjadi lahir pikiran “aku bisa dengan belajar dan mengakui kalau aku belum bisa adalah hal yang sangat amat manusiawi”. Membumikan ulang perspektif mengenai kejujuran terhadap siapapun, termasuk kepada anak-anak, hingga mengenai bagaimana semua hal dapat dipelajari tanpa ada hambatan selagi kita mau mengusahakannya.

Andy Sutioso
@kak-andy   2 years ago
Wow sudah sampai ke angka 12 catatan proses kak Frisma di Smipa. Terima kasih kak. Saya jadi bisa cukup mengikuti proses kak Frisma selama magang ini. Semoga dapat banyak pembelajaran juga kak.
frisma
@frisma   2 years ago
Terima kasih Kak Andy telah menyediakan ruang besar untuk saya banyak belajar^^