Kodok bukan katak. Kulit kodok lebih kering, tampilan kodok lebih kasar, kaki kodok lebih pendek. Tak usah lah tuan kodok bersikap angkuh dengan berusaha menjadi katak. Katak yang kulitnya lebih mulus karena berlendir sehingga lebih sigap bergerak meliuk lentur dengan rapi. Katak yang kakinya lebih panjang sehingga mampu melompat dengan anggun dan mendarat dengan tepat.
Baiklah tuan kodok menjadi dirinya sendiri, yang merangkak walau begitu inginnya melompat. Yang merangkak dengan kesadaran dirinya sebagai perangkak yang ulung. Langkah demi langkah, rangkak demi rangkak. Malah lebih indah, rapi, dan bertanggung jawab. Daripada memaksa diri menjadi katak sambil abai bahwa diri sejatinya adalah kodok.
Tonggeret bukan elang. Memang tinggi posisinya, namun tidak setinggi itu juga. Karena elang melayang di atas pohon sedangkan tonggeret melekat di batang pohon. Setinggi apapun posisi kemelekatannya di pohon tertinggi, lebih tinggi angin dan awan yang diterabas oleh elang. Tak usah lah nyonya tonggeret bersikap arogan dan berusaha menjadi elang, dengan suara berdenging yang panjang tak terhentikan kecuali saat turun hujan.
Itu pun setelah ditampar gelegar petir baru terdiam dan tersadar, kalau pekikan elang bukan dengingan tonggeret. Pekikan eksklamasi teritori yang terbukti melalui aksi, jelas berbeda dengan eksplanasi retorika yang merepetisi narasi. Pun sama-sama bersuara, beda lah peruntukkannya.
Demikianlah baiknya nyonya tonggeret menjadi dirinya sendiri juga, sebagai penanda walaupun begitu inginnya jadi yang tertanda. Tetaplah berperan sebagai penanda, yang memberi jalan bagi sang tertanda sesungguhnya. Lagipula yang mampu berisik memberikan tanda kan, tuan tonggeret. Bukan nyonya tonggeret.
Begitulah cerita si siput tanpa cangkang, kepada kerbau yang asik mengunyah.