Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu.
Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjelasan dari Kak Andy mengenai KPB. Mendengar cerita-ceritanya tentang berbagai orang aneh yang menemukan jalan hidupnya sendiri, aku jadi banyak terpantik untuk memikirkan tentang perspektif orang. Yang terlihat sebagai zona nyaman bagi satu orang mungkin sulit bagi orang lain. Kita tidak bisa menilai dari luar. Lantas bagaimana KPB menilai muridnya? Seberapa besar ruang penjelasan dan pendapat antara kami dan kakak?
Setelah Kak Andy, kami mendengar perspektif dari alumni KPB. Mereka bercerita bahwa segala yang mereka alami di KPB, meski dengan susah payah dan kesal, pada akhirnya mereka bisa menemukan bahwa semua ini berguna untuk melatih dalam kehidupan asli. Itu juga yang menjadi dilematis bagiku di KPB: seberapa jauh sesuatu itu bisa dialasankan sebagai pelatihan?
Saat istirahat, aku beli basreng terenak sedunia yang kurindukan selama libur. Lalu kami berkumpul kembali, berbagi tentang pengalaman KPB kepada calon K10. Aku harap KPB akan sungguh dapat kuapresiasi dengan segala baik-buruknya setelah kelulusanku.