Saya hari ini keluar kota. Tujuannya sederhana, belanja kebutuhan untuk memasak. Saya kangen siomay Bandung alias baso tahu. Di kota saya sulit sekali mencari paria dan kecap manis. Dulu ada toko, setidak-tidaknya 2 toko yang menjual kecap ABC, sekarang sudah bubar. Perjalanan akan memakan waktu setidak-tidaknya sekitar 2 jam pulang pergi, jarak sekitar 59 miles (94km).
Tadinya hanya kami berdua, Nina dan saya yang akan berangkat, tapi kemudian seorang sahabat kami juga akan ke daerah yang sama sehingga kami berangkat bertiga sekalian akan mencoba Lobster roll di daerah creative district di Rino (River North, Denver) jadi memang akhirnya perjalanan akan lebih jauh ke Selatan.
River North adalah creative district. Dulunya dalah daerah industri yang kemudian mati lalu kemudian dihidupkan kembali dengan menonjolkan segi-segi kreatif seperti arts, galery dan restoran dengan tema yang sangat kreatif. Jika memasuki daerah ini dapat dilihat banyak lukisan graffiti di banyak dinding-dinding bangunan. Yang saya perhatikan juga restoran-restoran, kedai kopi banyak dikelola oleh kaum millenial. Ini sangat menarik. Pengunjungnya juga banyak sekali para eksekutif muda. Bukan tempat yang murah, tapi memang menyuguhkan banyak hal yang sangat artistik dan kreatif. Bangunan-bangunan kuno dan klasik yang sudah ditinggalkan oleh industri sekarang kembali ramai dengan banyak hiburan, wisata kuliner dan seni. Konsep yang sangat hebat!
Berangkat dari Fort Collins sekitar pukul 10 pagi, menjelang tengah hari kami sudah berada di sebuah gedung dengan beberapa kios makanan yang ditawarkan. Ada makanan Mexico, makanan Yunani, Poke bowl, dan lain lain juga ada sebuah kios yang menawarkan pilihan yang sehat seperti salad, dan sebagainya. Kami seperti rencana awal memilih lobster. Daging lobster bagian capit yang besar-besar disiapkan dengan dua versi, ada yang menggunakan sedikit mayonnaise ala New England dan ala Connecticut yang hanya menggunakan butter dan lemon. Kedua versi lobster ini disajikan dengan roti brioche panggang yang sudah diberi mentega. Buat saya memang lumayan enak tapi jika mempertimbangkan harga, sepertinya tidak sebanding. Saya akan lebih puas jika membuat sendiri. Ini terlalu mahal dengan kualitas tidak terlalu istimewa dan menurut saya sih sangat mudah jika saya menyiapkannya sendiri hahaha...
Kami juga menemukan sebuah toko Asia yang banyak menjual makanan Indonesia dan Philipina. Panik lah kami ketika melihat emping mlinjo, mie instant, kacang bali, kecap, sambal botol, kerupuk dan lain-lain. Ini belanja saya di toko kecil yang terbanyak. Begitu paniknya kami melupakan aturan nomor 1, membaca tanggal kadaluarsa! Waduh.. sampai rumah semua melinjo, kacang-kacangan hingga pisang sale goreng sudah kadaluarsa beberapa bulan yang lalu. Emping mlinjo sudah mulai bau tengik dan ketika dicicipi rasanya pahit. Masuk tempat sampah! Kantong kedua, juga sudah expired walau bau tidak semenyengat yang tadi dan tidak pahit ketika dicicipi. Ya sudah terima apa adanya. Pelajaran yang harus selalu kami ingat, seperti iklan jaman dulu di TVRI: "Teliti sebelum membeli!" Itu yang tidak kami lakukan karena begitu panik melihat banyak sekali cemilan yang kami sukai tersedia. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi, saya tidak mau membuang-buang uang banyak hanya kemudian teronggok di tempat sampah karena sudah tidak bisa dikonsumsi. Mungkin karena biasa belanja cemilan semacam itu di pasar Kosambi dan kami tidak pernah menanyakan tanggal kadaluarsa. Bedanya di situ kami bisa menyicipi sebelum beli, bukan? Di sini terpaksa harus percaya pada tanggal, dan itu tidak kami lakukan. Keteledoran yang tidak murah! Hahaha.. Harus selalu ingat pepatah Jawa: Ojo grusa grusu, mengko kleru! (Jangan terburu-buru, nanti keliru) nah begitulah.
Tiba di rumah sudah mulai gelap, ternyata perjalanan kami memakan waktu sekitar 8 jam. Itu sudah termasuk makan siang dan mampir ke beberapa toko termasuk sebuah supermarket Asia yang besar, yang ini adalah supermarket Korea, tapi juga banyak menjual bahan makanan dari berbagai negara Asia.
Sambil melepas lelah di rumah, saya iseng-iseng membuka email. Ada tawaran untuk belanja pakaian di salah satu merek aparel yang terkenal dengan diskon menggiurkan. 20 persen ditambah ekstra 50% bagi member. Kebetulan saya menjadi member, jadi iseng-iseng saya buka websitenya. Saya pilih 2 barang yang bisa saya kenakan untuk bekerja. Sesudah saya masukkan keranjang belanja dan dipotong diskon dan poin yang saya miliki, total akhir yang harus saya bayar membuat mata saya terbelalak. Coba perhatikan. Harga banderol $49.99, dipotong 20% menjadi $39.99 lalu karena member saya dapat potongan lagi 50% menjadi 20 dollar, lalu dipotong lagi poin yang saya miliki $14 menjadi $5.66. Itu harga yang saya bayar! Jadi total potongan kalau saya tidak salah menghitung 88% luar biasa bukan? Karena saya membeli 2 barang, total sesudah pajak saya hanya membayar $12.88 dan bebas ongkos kirim karena saya anggota! Lebih keren lagi, beberapa saat sesudah transaksi dilakukan, saya dapat email yang mengatakan bahwa saya berhasil mengumpulkan $20 dari transaksi yang barusan saya lakukan dan siap untuk digunakan untuk belanja selanjutnya! Saya bengong! Loh bagaimana ini bisa terjadi? Saya belanja $12.88 dan di akun saya sekarang punya $20 untuk belanja berikutnya?
Godaan belanja memang jaman sekarang sangat berbahaya! Dari iseng membuka email saya punya 2 barang yang boleh dibilang hampir gratis karena hanya membayar hampir $13 tapi kemudian mendapat $20 di akun. Pabrik aparel memang ahli membujuk rayu para pelanggan untuk terus membelanjakan uangnya. Tapi saya tidak keberatan sih merogoh dompet $13 untuk 2 barang yang harga resminya kalau ditotal $100. Kalau dengan ilmu berhitung memang tidak masuk akal, tapi ini adalah bentuk promosi yang membuat saya geleng-geleng kepala. Mudah-mudahan saja barang yang akan tiba beberapa hari lagi ini enak dan cocok dipakai. Selama ini sih saya tidak pernah kecewa. Sudah banyak barang dengan merk ini yang saya pakai sehari-hari dan untuk bekerja. Ya lumayan lah, belanja terakhir hari ini bisa mengobati rasa kecewa karena barang kadaluarsa yang terlewat karena kami kurang teliti sebelum membeli! Hahahaha...