Angka 99 sering mengingatkanku pada sebuah kalimat “kesempurnaan hanya milik Tuhan”.
Angka 99 rasanya merepresentasikan itu, cukup sampai 99 saja tidak sampai 100. Karena kita sebagai manusia tidak ada yg sempurna dan tidak pernah sempurna.
Dalam keseharian yang lebih dalam, jalan menuju kesempurnaan justru banyak jebakannya. Bahkan kadang jalannya sendiri adalah jebakan, kadang kita terlalu yakin pada diri hingga lupa bahwa kita tidak sempurna dan menutup penerimaan pada kesalahan juga kekalahan. Kita jadi lupa bahwa dalam setiap kebenaran pasti ada kesalahan dan dari setiap kesalahan pasti ada kebenaran. Sesuatu tidak mutlak benar atau mutlak salah.
Bahkan benar dan salah pun adalah pelabelan dari manusia yang bias objektivitasnya.
Kuncinya mudah agar tidak terjebak dalam kesempurnaan, yakni mawas diri. Tapi tentu saja mawas diri bukan hal yg mudah untuk dilakukan.
Selalu sediakan ruang kosong untuk kesalahan, yakin diri ini melakukan hal benar tapi mungkin ada salahnya juga. Memberikan ruang kosong setidaknya 1% untuk kesalahan akan memudahkan kita menerima saat kesalahan itu benar-benar terjadi.
Menjadi tidak terlalu kecewa pada diri, juga akan menghindarkan kita dari pertumbuhan benci.
Selamat sudah menyentuh angka 99 - berikutnya sudah jadi 3 digit ya kak Gina. Keren.