AES159 Yang Mulia
carloslos
Friday August 8 2025, 11:44 AM
AES159 Yang Mulia

Halo teman-teman yang budiman, kemarin saya membaca sebuah tulisan oleh Tatha. Judulnya cuma satu kata: “Merdeka?”, tapi tanda tanya di belakang itu cukup membuat saya tercekat. Tatha menulis seperti orang yang sedang duduk di warung kopi sambil nyeleneh bilang, “Ini negeri kok rasanya kayak lelucon yang gak lucu.” Dan saya manggut-manggut, karena memang iya. Apalagi menjelang 17 Agustus begini  bendera mulai dikibarkan, lomba panjat pinang mulai dirancang. Tapi di balik semua itu, yang terdengar dari panggung kekuasaan malah suara-suara... yah lebih cocok diputar di channel komedi daripada forum kenegaraan.

Saya jadi kepikiran: kenapa sih Yang Mulia itu  sebutan untuk mereka yang duduk di kursi empuk kekuasaan, selalu identik dengan wajah-wajah lama? Wajah yang menua bukan hanya oleh waktu, tapi juga oleh kebiasaan menutup mata terhadap perubahan. Wajah-wajah yang kalau disodori istilah “digitalisasi” mungkin masih mikir itu semacam penyakit kulit.

Cobalah duduk dan lihat barisan pemangku jabatan, sebagian besar dari mereka usianya sudah lebih dekat ke buku yasin daripada ke Google. Padahal zaman bergerak cepat, dunia hari ini tidak sama dengan zaman ketika orang harus pakai kartu telepon dan menunggu seminggu untuk mengirim surat lewat pos. Anak muda bicara lewat meme, lewat Twitter, lewat video 15 detik. Tapi mereka yang membuat aturan masih sibuk dengan prosedur dari era mesin tik.

Lalu muncul argumen: “Kalau begitu, beri kesempatan pada anak muda!”

Tapi teman-teman yang budiman, inilah kenyataan pahitnya. Beberapa kali yang muda diberi kursi, justru mereka jadi seperti burung dara yang dipaksa ikut lomba balap kuda. Gagap, tidak siap malah kadang lebih suka selfie di ruang kerja ketimbang menyusun kebijakan. Ada yang terjebak dalam gaya hidup influencer, bukannya jadi pemikir masa depan bangsa. Dan kita rakyat jelata yang sudah capek mengeluh, cuma bisa bilang “Yah, paling nggak tampilannya segar...”

Apakah salah mereka?

Belum tentu, tapi ini menunjukkan satu hal: sistem kita ini seperti sumur tua, siapa pun yang masuk ke dalamnya lama-lama jadi berlumut juga. Baik yang tua maupun yang muda, kalau tidak punya akal sehat dan nurani akan tenggelam dalam kubangan yang sama: kuasa, uang, dan sorak sorai semu dari para penjilat.

Tapi saya tetap percaya, yang Mulia bukan tentang usia, gelar, atau jumlah pengawal. Yang Mulia seharusnya adalah mereka yang mau mendengar, yang belajar, yang tahu bahwa jabatan bukan warisan. Bukan panggung untuk bersolek, tapi beban sejarah.

Kita butuh yang muda, iya tapi bukan sekadar muda usia. Kita butuh yang segar pikirannya, jernih nuraninya, dan tajam visinya. Anak-anak muda yang tidak mabuk kekuasaan, yang tidak terburu-buru ingin terkenal, tapi perlahan dengan kepala dingin dan hati menyala, membangun dari bawah. Menolak tunduk pada sistem yang busuk, tapi juga tidak naif mengira perubahan bisa datang dalam semalam.

Hari kemerdekaan akan datang lagi, lagu-lagu akan dinyanyikan, bendera akan dikibarkan. Tapi merdeka tidak akan pernah menjadi kenyataan selama Yang Mulia hanyalah gelar kosong tanpa tanggung jawab, dan selama kita rakyat biasa  terus tertawa getir sambil berkata “Ya, beginilah Indonesia... lucu tapi nyesek.”

Dan tulisan ini saya tulis, bukan untuk marah-marah. Saya hanya ingin kita semua berhenti memanggil siapa pun “Yang Mulia” sebelum mereka benar-benar menunjukkan bahwa mereka layak dipanggil begitu  bukan karena posisinya, tapi karena jiwanya.

Selamat menyambut Agustus.
Semoga tahun ini kita tidak cuma merdeka di spanduk.

Andy Sutioso
@kak-andy   8 months ago
Dahsyaat Carlos... menggelegar pikirannya... saluut. ☝🏼😀
Tatha Wu
@tatha-wu   8 months ago
Waktu Indonesia mengkritik 😎
You May Also Like