Ada dua kata kunci dari semboyan Ki Hadjar Dewantara ini: tengah dan semangat. Saya rasa sangat unik untuk memasangkan kata semangat dengan posisi tengah, padahal biasanya yang memberi semangat itu ada di pinggir lapangan, belakang layar, ataupun di depan panggung.
Posisi tengah ini mengingatkan saya pada filosofi pendidikan critical pedagogy yang dicetuskan Paulo Freire dan cukup tergambarkan di buku Pedagogy of the Oppressed. Sebuah filosofi yang mempercayai bahwa pendidikan bisa menjadi jalan untuk menghapus penindasan atau ketidakadilan seperti rasisme. Dalam buku ini disebutkan proses pembelajaran sebaiknya bukanlah dari guru untuk murid (from A to B) ataupun dari murid untuk guru (from B to A), melainkan oleh guru bersama murid (A with B).
Memberikan semangat di tengah-tengah murid tentu akan cukup sulit dikarenakan guru harus bisa cair berbaur dengan murid namun tidak melupakan fungsi peran. Ada saatnya guru menjadi teman bagi murid untuk mendengarkan keluh kesah, namun ada juga saatnya murid menghargai guru ketika memfasilitasi pembelajaran. Jangan sampai murid meremehkan guru ataupun sebaliknya guru meremehkan murid dikarenakan tidak menjalankan fungsi peran.
Lalu bagaimana guru bisa mempunyai kepekaan untuk berganti peran ini? Sepertinya buku The Teenage Edge dari Ted Warren bisa memberikan salah satu solusinya. Guru harus memiliki Sense of Self yang akan sangat berguna untuk merefleksikan diri sekaligus menjadi lebih peka dalam merasakan apa yang murid rasakan.
Uniknya untuk berdiri di tengah dan menyemangati murid, nampaknya guru harus memahami dirinya sendiri dulu dan bisa menjadi teladan yang baik (Ing ngarso sung tulodo). Setelah sang guru bisa memahami dan menghayati makna semboyan Ki Hadjar Dewantara yang pertama, maka dia akan bisa berpindah posisi dari depan (sebagai teladan) ke tengah untuk menyemangati murid. Ing Madyo Mangun Karso.
Bagus esainya kak Maul. 👍😊🙏
Hatur nuhun, Kak Andy.