Beberapa waktu saya menulis tentang apa yang membuat saya (dan banyak orang lain - sebetulnya), Teu Pararuguh. Di dalam tulisan berikutnya yang berjudul Salah Satu Jawaban, saya menemukan bahwa alam semesta ini ada dalam siklusnya yang terrendah. Semesta lagi low, begitulah kira-kira. Kalau disearch di youtube atau di google, cukup banyak konten yang menjelaskan tentang ini.
Matahari sedang sangat aktif. saya belum tahu juga apa penyebabnya. Belum menemukan juga penjelasannya. Tapi saya ingin menyoroti gambar di atas ini. Di atas ini ada gambar yang menempatkan skala bumi dan lecutan badai matahari yang terjadi di permukaan matahari. Luar biasa ya. Kita jadi bisa membayangkan bahwa planet bumi itu sangat-sangat kecil. We are so tiny. Kita bisa membayangkan betapa besar dampak yang bisa dirasakan oleh kita, pengaruh yang diterima oleh planet bumi.
Peneliti sudah melihat dampaknya pada posisi kutub utara bumi yang sudah banyak bergeser dari titik awalnya. Kemudian apa yang disebut dengan Aurora Borealis, sekarang sudah bisa dilihat di daerah sub tropis. Selama ini yang kita tahu hanya bisa dilihat dekat ke daerah kutub di wilayah lingkar arktik atau arctic circle. Karena pengaruh badai matahari mempengaruhi medan magnet bumi, akibatnya juga bisa dilihat secara visual melalui penampakan alam.
Beruntung di jaman ini, navigasi pelayaran dan penerbangan sudah tidak lagi menggunakan kompas, tapi menggunakan GPS yang dibantu oleh satelit.
Kembali ke judul di atas, mengamati perjalanan peradaban di planet bumi termasuk hancurnya peradaban-peradaban besar, kita perlu menyadari bahwa manusia itu hanya serpihan debu belaka. Anugerah kehidupan yang diberikan dan bisa dinikmati hari ini adalah anugerah terbesar bagi kita. Semoga siklus terendah ini bisa kita lalui dalam beberapa bulan ke depan. Karena mestinya setelah melalui titik terendah, segala sesuatunya akan menjadi baik kembali. Mari mensyukuri dan merayakan kehidupan. Salam.