Entah seberapa jauh teman-teman mengikuti perang di Ukraina sana. Jauh. Tapi buat saya terasa dekat. Bukan karena dampaknya tapi karena buat saya kejadian ini menjadi bahan refleksi saya sebagai sesama manusia. Jadi saya memang mengamati perang Ukraina dari kacamata kemanusiaan, dari kaca mata kesadaran.
Sudah 4 minggu lewat perang berlangsung. Beberapa waktu lalu saya sempat menulis tentang Destruksi. Sebuah refleksi tentang bagaimana manusia memang mudah sekali menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya. Kita, saya pun melakukannya - saat kita menghasilkan sampah, misalnya. Hal kecil yang seringkali tidak kita sadari. Tapi sampah kita itukan menjadi masalah setelah kita buang - setelah kita lepaskan sampah itu dari tangan, badan, ingatan kita...
Lalu apakah berbeda di Ukraina, saat kedua pihak saling menghancurkan satu sama lain, bukan hanya tank dan kendaraan lapis baja, tapi juga bangunan, rumah...
dan nyawa manusia...
Kehidupan dihancurkan - disia-siakan.
Kalau saya ada di sana, apa yang akan saya lakukan?
Bisakah saya menegakkan perdamaian dengan ikut serta melakukan penghancuran.
Kalaupun perang suatu saat berhenti, karena kedua pihak kehabisan amunisi, apakah damai akan tumbuh di dalam hati?
Kalaupun suara ledakan dan tembakan berganti sunyi, apakah hening bisa muncul di dalam nurani?
Sampai kapan dendam akan dirasakan karena anggota keluarga yang jadi korban,
Akankah darah yang tertumpah suatu saat akan terlupakan? Dan kita bisa saling menggenggam tangan dalam rasa kebersatuan.
Akankah rasa geram ditinggalkan di dalam kegelapan malam. Dan manusia melangkah ke arah fajar kebahagiaan...
Kalau saya ada di sana, apa yang akan saya lakukan... Entahlah
Photo by Engin Akyurt from Pexels