AES 004: Di Atas Ketinggian Langit itu, Aku Berefleksi Pt. 3 - Refleksi
Sebastian Owen
Saturday February 8 2025, 8:55 PM
AES 004: Di Atas Ketinggian Langit itu, Aku Berefleksi Pt. 3 - Refleksi

'Wow Owen, sangat inspiratif dan thought provoking thumbnail yang anda pilih" aku katakan kepada diri sendiri dalam kekosongan kamar (atau, klaustrophobia- tergantung prespektif sih); bentuk afirmasi yang konon katanya oleh para pakar-pakar kesehatan jiwa akan sangat membantu dalam menghadapi berbagai deviasi emosional non-senang yang terjadi.

Dalam rangka minggu 3/5 kegiatan 'Trial KPB', saya menulis hal yang terlintas di benakku yang sangat tampak dalam minggu-minggu kegiatan itu, yakni; Diversitas SMIPA.

Jujur, latar belakang saya sebagai seorang manusia pertama kali di bumi ini berada dalam lingkungan yang monolitis, dalam arti saya dikelilingi orang-orang lain yang tidak jauh berbeda dariku. Seperti apakah itu? Nah, aku dikelilingi oleh daku, aku, saya, dan buku (haha emang sih, homeschooling). Oke, tapi apa artinya dong implikasinya terhadap SMIPA secara spesifik?

Entah kapan itu, saya kembali ke sekolahku lampau semasa TK-SD, Santa Angela. Dengan ruang-ruang kelas yang dulu saya pernah lewati, dalam lorong-lorong dan ruang acara dengan panggung besar itu, dengan temboknya yang hijau-putih, dan lapangan-lapanganya yang luas, DAN tentunnya, perpustakaan mungil tercinta yang menunda pulang ke rumah selama waktu yang tak terhingga, aku terasa kembali mengalami berbagai adegan masa lalu yang sepertinya masih berlangsung. Tentu juga, aku menemui teman-teman dan guru lama. Tapi satu hal yang sedikit menghantui adalah betapa banyak saya berubah, namun mereka berada di sana, seperti dibekukkan waktu- mereka hanya bertambah tinggi, berganti seragam jenjang.

JANGAN salah, Santa Angela adalah suatu tempat yang prominen dalam perjalanan hidupku secara besar, dan sebagai tempat childhood, membentuk sebagian besar kepribadian dan identitasku hingga sekarang, tapi suatu hal tentang kelas-kelas bangunan Belanda itu, baris-berbaris sebelum kelas, murid-murid yang terlihat tak ingin menunda keluar kelas saat bel berbunyi -- semua terasa sedikit tidak enak. Itulah saat saya sadar betapa berubah saya dalam waktu 5-6 tahun setelah meninggalkan tempat ini, dan akhirnya tiba dan berkegiatan di SMIPA.

Kurang lebih dengan segala keterbatasannya, SMIPA mampu membentuk ruang yang mengakomodir intrik-intrik baik siswa maupun civitas secara keseluruhan. Perdebatan aktif dan pandangan yang dinamis adalah tema yang sangat terlihat, terutama pada saat saya mencari saran-saran, tanggapan, dan kritik untuk proyek trial KPB disini, bertanya-tanya di kelas, pendopo, bengkel, dsb. Untukku, SMIPA menjadi sebuah gambaran yang saya sekarang anggap sebagai bentuk nyata diversitas, bentuk kecil 'Bhineka Tunggal Ika', jauh dari sebagai perkataan normatif sosial di Indonesia. Mungkin intellegensia tak jauh berbeda dari sekolah swasta lainnya, tapi keberagaman membuat segala perbedaan yang berteriak bagi mata dan telinga.

Itu saja, mungkin penjelasan ini (seperti halnya semua tulisanku) dapat diperpendek ke dalam paragraf 6 saja, tapi detail latar belakang ini saya pikir relevan sebagai validasi (heh, kok balik ke intro ya?) atau dasar opini ini secara pribadi. Saya juga sadar dengan betapa normatif, atau self-evident pandangan ini di SMIPA, yang juga sedikit terdengar sebagai status quo bias bagi saya dalam semester-semester awal di SMIPA, tapi dalam observasi, perkataan itu; diversitas -- terasa merupakan sebuah understatement dalam mendeskripsikan 'Semi Palar'.

To be continued...?

Andy Sutioso
@kak-andy   last year
Terima kasih Owen untuk refleksi dari proses kamu di Semi Palar. Sangat menarik buat kak Andy. Saya juga senang bisa mengenal Owen yang ternyata piawai dalam bermain kata dan merancang narasi. Keren. Semoga proses kamu di KPB lebih membukakan banyak ruang petualangan baru buat kamu. ☝🏼😎
Christo
@christo   9 months ago
Fotonya sangat mengambil hak cipta
You May Also Like