AES 1545 Berselancar
joefelus
Thursday December 11 2025, 9:59 AM
AES 1545 Berselancar

"Ati ati, Jo." Kata Nina di bawah yang langsung saya iyakan dari atas atap. Kemarin sore ada angin puting beliung menerbangkan banyak benda dari kampung belakang termasuk atap asbes bahkan genting sehingga ada beberapa genting di atas rumah saya pecah karena terhantam. Sebetulnya saya ingin meminta tolong seseorang untuk mengerjakannya, tapi saya perhatikan hampir setiap orang sedang memperbaiki rumah mereka masing-masing. Ada yang canopynya hancur, ada yang atapnya ambrol karena tertimpa benda yang diterbangkan angin sehingga atap mereka terbuka menganga. Halaman rumah saya juga agak berantakan karena ada beberapa genting terbang, asbes bahkan pecahan-pecahan canopy yang dikirim oleh tetangga. Rumah saya sendiri aman, hanya ada sekitar 6 genting yang lepas dan 1 pecah karena tertimpa genting entah dari mana.

Sambil merayap perlahan-lahan karena rasa ngeri, saya mulai berpikir. Dulu ayah saya selalu menjadi backup ketika rumah ada masalah. Saya pernah cerita bukan bahwa ayah saya itu serba bisa, dari pertukangan, listrik, mesin, memasak, bahkan menjahit. Saya terlalu take everything for granted karena ayah saya jago, jadi tidak setrampil beliau walau saya masih bisa masak, menjahit maupun urusan listrik. Bagian pertukangan atau permesinan saya menyerah! Hahaha.. Di atas atap saya kangen beliau! Banyak sekali sudut rumah saya yang mendapat sentuhan ayah, dari listriknya, atap, bahkan peralatan pertukangan serta mesin jahit saya warisi. Ini masa berkabung saya yang unik karena setiap melihat sesuau, pasti langsung mengingatkan saya pada beliau. Saya sadar bahwa his legacy will never dies karena merambah hampir semua sisi kehidupan saya.

Saya mulai membuka genting-genting agar saya bisa berpijak. Sebetulnya saya bisa saja berjalan di atas genting, tapi tubuh saya sudah tidak fleksibel lagi dan saya tidak tahu apakah kayu penyangga mampu menahan tubuh saya atau tidak, jadi paling aman saya menginjak kayu kaso daripada kemudian menginjak genting lalu pecah, licin atau bahkan kayunya patah. Dengan membuka genting saya bisa melihat kualitas kayunya apakah kuat untuk dipijak atau tidak. Tidak semudah yang saya kira, atap yang dari bawah terlihat landai, ketika di atas ternyata tidak juga. Saya agak pening karena takut jatuh, matahari sudah mulai naik dan ternyata tubuh saya sangat kaku untuk bermanuver hahaha..

Saya tidak mau membandingkan diri saya dengan ayah. Pasti kalah! Usia 65 tahun beliau masih naik sepeda dari Indramayu ke Bandung! Nah saya mah jangan harap, sampai Gasibu dari Pasir Impun saja belum tentu! Saya lebih memilih berjalan atau berlari ke sana. Kurang dari 10km saya masih mampu lah.

Dalam masa berkabung ini saya sama sekali tidak berpantang apa-apa. Saya bahkan ingin membicarakan ayah sebanyak mungkin. Walau Beliau sudah pergi, tapi setiap pori-pori yang saya miliki mengenalnya. Setiap sudut rumah pernah tersentuh tangannya, bahkan bererapa fondasi rumah mencatat nama beliau. Jadi buat apa menghindari, sebab saya tidak akan pernah mampu. Saya akan rangkul sebanyak-banyaknya, saya terima, saya cermati dan yang pasti saya syukuri karena apapun yang terjadi saat ini adalah karena beliau!

Genting yang pecah akhirnya berhasil saya ganti, lalu mulai merayap turun sambil mengembalikan genting yang tadi saya lepas ke tempat semula. Ketika kaki saya akhirnya menyentuh kanopi di atas carport saya menghela napas lega. Saya berhasil walau dengan susah payah. Semakin lama saya semakin mengapresiasi apa yang dulu ayah saya pernah lakukan untuk saya. Sekarang saya yang harus mengerjakan sendiri, atau menyuruh orang lain. Menyaksikan saja tidak sama apresiasinya dibanding dengan melakukannya sendiri. Sekarang saya tahu, yang ayah dulu lakukan adalah hal-hal yang luar biasa!

Berkabung adalah hal yang sangat manusiawi. Wajar! sebab katanya binatang saja berkabung, bebek Canada bahkan ada yang bunuh diri ketika pasangannya mati! Bebak tidak mempunyai kesadaran dan kemampuan mengolah rasa sedih seperti manusia. Yang saya rasakan adalah seperti ombak. Emosi datang tanpa henti bertubi-tubi, ketika yang satu pecah dan saya menjadi tenang datang lagi yang baru kadang besar kadang hanya arus kecil. Semuanya menggempur dan mengoyak-ngoyak dada saya. Di awal sangat berat, lama-kelamaan saya menjadi agak terbiasa.

"Sebentar." Kata saya dengan napas tercekik ketika acara doa 7 hari kemarin malam. Saya diminta mengenang ayah. Tidak mudah karena seolah-olah beraba-raba luka yang mulai mengering sehingga kembali berdarah. Saya mulai berpikir bahwa selama ini saya menentang ombak, gempuran gelombang emosi yang datang bertubi-tubi saya coba tahan sehingga mengakibatkan saya sering jatuh bahkan terguling-guling. Sama sekali tidak nyaman hingga akhirnya karena mulai terbiasa saya bergerak mengikuti arus dan mengalir bersama-sama. Lebih nyaman rasanya dan saya tidak lagi merasakan gempuran karena saya ikut mengapung meluncur bersama gelombang. Lebih menyenangkan dan lebih mampu menikmati. Saya sudah mampu berselancar!

Foto credit: surfjourneybali.com

Andy Sutioso
@kak-andy   4 months ago
πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ
You May Also Like