AES081 Pencils and Making Mistakes
Andy Sutioso
Wednesday August 4 2021, 12:00 AM
AES081 Pencils and Making Mistakes

Siang tadi kakak2 jenjang SD-Kecil (kelompok Congklak dan Bebentengan) menuntaskan Taki-taki bersama rekan-rekan orangtua di jenjang dan kelompok masing-masing. Seperti biasa kakak2 memaparkan rencana pembelajaran dan mengaturkan bersama hal-hal yang perlu disinergikan antara kakak dan orangtua di rumah.

Sampai di suatu pembicaraan di mana kakak menyampaikan di mana anak-anak perlu membiasakan dulu menulis dengan pensil - sebelum beralih ke alat tulis yang lain - seperti bolpen (ball-point). Dari perjalanan Semi Palar, berdasarkan pengamatan langsung dan berbagai referensi yang dipelajari, motorik halus anak-anak memang penting, karena keterampilan dan kekuatan jari jemari juga banyak berpengaruh pada hal-hal lainnya. 

Bicara tentang jari-jemari, kita lihat bahwa jaman dulu anak-anak kita banyak melakukan permainan yang melatih keterampilan jari mereka. Contohnya adalah congklak, bekel ataupun bermain gundu. Tampak sederhana, tapi buat orang-orang yang tidak terbiasa, memainkan congklak bukan hal yang gampang. Selain mengatur strategi, berhitung, congklak melatih kita untuk menjatuhkan biji congklak satu demi satu ke dan menggeser biji-biji lain dalam genggaman tangan kita sampai habis, mengulang proses itu sampai permainan selesai. Yang menang adalah yang punya biji terbanyak di dalam lumbungnya. Latihan itu melatih jari-jemari kita menjadi terampil. Bekel perlu koordinasi mata dan tangan yang luar biasa. Bermain gundu juga sama. Dulu saya ingat sempat sangat terampil bermain gundu - tapi saat jemari tidak lagi dilatih, keterampilan itu hilang. 

Ada satu hal lagi yang dibiasakan di Smipa adalah untuk tidak menggunakan penghapus ataupun cairan pengoreksi (correction fluid atau correction tape). Waktu kami kecil dulu setiap awal tahun ajaran baru sebelum masuk sekolah, ibu selalu mengajak kami ke toko buku dan belanja peralatan sekolah: pinsil, penghapus, rautan dan lain sebagainya. Jaman dulu saja, penghapus dirancang begitu bagus dengan warna-warna menarik dan gambar-gambar yang menghiasinya. Biasanya pensil dan penghapus adalah dua benda yang selalu hadir berdampingan. Kenapa dulu kita menggunakan pensil, karena goresannya masih bisa dihapuskan.  

Di Semi Palar, kita memilih pensil sebagai media belajar menulis, adalah karena pensil membutuhkan tekanan agar goresan tampak jelas di atas kertas. Hal ini melatih kekuatan jemari anak-anak. Inilah alasan kenapa pensil jadi pilihan. Bukan karena goresannya bisa dihapus. Di Semi Palar, penghapus adalah benda yang jarang ditemui. Masih ada beberapa pertimbangan lagi. Ada dua alasan pertama. Membuat kesalahan adalah sebuah kewajaran. Jujur terhadap kesalahan kita juga adalah sebuah kebaikan. Sehingga kita tidak perlu menutupinya. Yang perlu dilakukan adalah memperbaiki kesalahan itu. Learn from your mistakes

Di banyak sekolah di Indonesia, guru-guru menuntut kesempurnaan dari murid-murid mereka. Apa yang salah dihapuskan dari atas lembar jawaban. Tapi begitu kesalahan dihapuskan, sulit buat kita untuk belajar dari kesalahan kita... Dan sejalan dengan waktu, kita justru belajar untuk menutupi kesalahan-kesalahan kita bukan belajar untuk memperbaikinya. Kalau kita bicara pendidikan karakter, tentunya ini bukan pendekatan yang tepat...