Malam itu sekitar pukul 10, Seperti biasa saya dan beberapa teman terlibat dalam ritual paling khas anak muda: ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas.Topiknya? Awalnya receh, dari gosip yang lagi rame di medsos sampai bahas film. Tapi entah bagaimana, pembicaraan itu tiba-tiba bergeser ke sesuatu yang jauh lebih berat: "Gimana kalau dunia ini sebenarnya cuma simulasi?". Awalnya saya kira teman saya bercanda, tapi ternyata diskusinya makin dalam. Sampai akhirnya saya duduk termenung, kepala mulai muter, dan akhirnya menulis AES ini.
Teori dunia simulasi sebenarnya bukan hal baru, udah banyak tokoh-tokoh besar yang pernah mengangkat ide ini.
Intinya begini: Bagaimana kalau seluruh hidup yang kita jalani sekarang mulai dari sekolah, kerja, galau, jatuh cinta, galau lagi, makan mie rebus tengah malam itu semua cuma bagian dari sebuah program? Sebuah skenario yang dijalankan oleh entitas super canggih yang mungkin bukan manusia, kita kayak karakter dalam video game super kompleks. Ada setting, ada misi, ada cerita, ada tantangan, dan ada "level" kehidupan.
Kalau dipikir sekilas, ya jelas mengada-ada. Masa iya hidup cuma kayak game? Tapi anehnya, makin dipikir... kok ada aja ya kejadian-kejadian yang kayaknya "nggak natural"?
Pernah kan ngalamin hal-hal kayak:
Susah nyari gunting kuku saat diperluin, pas lagi gak nyari dia muncul sendiri.
Ketemu orang asing yang wajahnya mirip banget sama temen lama.
Denger lagu random di radio yang pas banget sama kondisi hati kita saat itu.
Bahkan di dunia sains, di level paling kecil partikel terkecil di alam semesta ternyata segala sesuatu bekerja berdasarkan pola-pola tertentu yang bisa mirip kayak "kode pemrograman." Aduh, makin pusing. Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah: Kalau memang hidup ini cuma simulasi, buat apa kita susah-susah mikirin banyak hal?
Buat apa deg-degan waktu nembak gebetan?
Buat apa capek-capek kerja lembur?
Buat apa kita mati-matian mengejar mimpi?
Tapi di sinilah letak keindahannya, walaupun katanya ini cuma simulasi toh kita tetap bisa merasa: bahagia, sedih, kecewa, jatuh cinta, tersenyum, dan tertawa. Itu kan yang bikin hidup kita terasa… beda. Yang bikin menarik dari teori simulasi ini bukan apakah itu benar atau tidak, tapi gimana pikiran kita bisa nyasar sejauh itu hanya gara-gara... obrolan malam. Kalaupun benar hidup ini cuma "settingan", toh kita tetap punya kontrol atas bagaimana kita merespons setiap harinya.
Mau sedih atau bahagia? Kita yang tentukan.
Mau menyerah atau berjuang? Kita yang pilih.
Mau overthinking atau tidur aja? Nah… ini seringnya kita kalah sama pikiran sendiri.
Setelah obrolan panjang di malam itu, saya sampai pada satu kesimpulan pragmatis: Entah ini simulasi atau bukan, yang penting saya masih bisa makan nasi goreng pinggir jalan, ketawa bareng temen, rebahan nonton Netflix, dan ngobrol ngalor-ngidul kayak tadi.
Kalau memang hidup saya diatur sama "sutradara" misterius, ya semoga aja mereka kasih saya:
Rezeki yang cukup
Teman-teman yang baik
Kesehatan yang stabil
Dan kalau boleh... jodoh yang datang tepat waktu.
Sekian tulisan ngalor-ngidul saya kali ini, buat yang suka overthinking kayak saya hati-hati. Kadang yang bikin kita pusing itu bukan masalahnya, tapi pikiran kita sendiri yang terlalu kreatif.