AES 1216 Warteg
joefelus
Monday October 14 2024, 6:43 PM
AES 1216 Warteg

Jika ingin tahu apa yang selama ini membuat saya setidak-tidaknya bersemangat untuk kembali tinggal di Indonesia, yaitu makanan! Hingga saat ini saya masih terus rajin bereksplorasi dengan berbagi jenis kuliner Indonesia. Sejauh ini saya belum pernah kembali menyentuh makanan-makanan Western atau makanan yang bukan tradisional. Mungkin sekali-kalinya adalah ketika saya masih transit di Singapura menunggu selama 6 jam untuk penerbangan berikutnya. Saat itu saya makan chicken rice dan beberapa menu lainnya. Alasannya sederhana, chicken rice adalah menu terpopuler di Singapura, jadi mumpung saya di sana, kesempatan untuk merasakannya tidak saya lewatkan.

"Jo, Senin mau dikirim makanan apa?" tanya sahabat saya.

"Hmm.. aku lagi kangen warung tegal, bisa buat sambal goreng kentang dengan soun, masak tongkol, tumis paria atau toge?" Tanya saya.

Saya memang sejak tiba di Bandung rantangan karena belum bisa menggunakan fasilitas di rumah. Mungkin sampai beberapa minggu ke depan. Proyek perbaikan akan dimulai lagi minggu ini, jadi rumah akan kembali kacau balau.

Warung Tegal mempunyai tempat spesial di hati saya. Bukan karena makanannya spesial, justru karena makanannya biasa saja, sederhana dan sangat rumahan. Warung Tegal sudah menjadi bagian hidup saya di masa-masa sekolah, ketika masih belia. Jaman sekolah saya suka makan di warung pinggir sawah. (kok sawah? Ya, karena sekolah saya dekat sawah, demikian juga waktu kuliah ada bagian dekat kampus yang masih berupa sawah) Nah warung seperti ini dijamin sangat murah, cocok dengan kantong mahasiswa miskin, makanannya sederhana dan bagi saya sangat enak.

Jaman sekolah saya menyukai sambal goreng kentang dengan soun, tumis toge, tumis paria dan masakan ikan pindang tongkol bahkan masakan usus ayam. Aneh ya? Saya memang suka sekali usus ayam yang entah dimasak apa, warnanya kuning karena menggunakan kunyit dan juga ada potongan cabe, kadang cabe hijau kadang cabe merah. Sangat cocok dengan sambal goreng kentang dan tumis toge. Makanan ini juga sering saya jumpai di warung dekat terminal angkot! Hahaha.. Makanan murah meriah portugal (porsi tukang gali)

Karena ingat jaman dahulu dan sudah lama sekali tidak menikmati menu Warteg, saya minta dibuatan itu untuk rantangan. Dan rasanya memang luar biasa dan mengingatkan kembali ke masa sekolah.

Warung Tegal semacam itu memang tidak pernah lepas dari kebiasaan saya, bahkan sesudah bekerja. Ada warung sederhana yang dulu sering saya datangi. Porsinya memang luar biasa, kalau tidak saya sebut portugal seperti di atas, saya sering menyebutnya porsi brutal karena nasinya menggunung. Biasanya di sini saya memesan sate sapi, tumis apapun yang pada saat itu ada, tempe goreng yang barusan diangkat dari penggorengan dan makanan itu semua disiram dengan kuah gulai. Saya selalu makan di sini pagi hari sebelum mulai bekerja, ketika belum banyak pembeli. Saya bahkan pamit kepada penjualnya sebelum berangkat ke Hawaii. Sayangnya ketika saya kembali dari Hawaii, warung itu sudah tidak ada, ketika saya hampiri, penjualnya sudah berbeda dan menunya pun tidak sama lagi.

Entah mengapa makanan seperti ini memberikan arti yang istimewa pada diri saya. Tentunya tempatnya harus bersih. Saya tidak akan mampu makan seperti banyak unggahan di media sosial yang menunjukkan bagaimana makanan kaki lima di India disiapkan. Terus terang, walau mungkin makanannya menarik, tapi jika proses mengolahnya tidak bersih, saya tidak akan mampu menelan.

Saat ini tubuh saya masih belum kembali seperti dahulu. Saya masih harus berhati-hati memilih jenis makanan. Kalau bukan makanan panas, saya belum berani mengambil risiko. Minggu lalu saya jatuh sakit karena makan baso malang. Bayangkan, baso malang di restoran harusnya termasuk jenis makanan bersih dan panas. Tiba di rumah malam hari saya sakit. Apakah karena baso tersebut menggunakan pengawet? Bahan kimiawi? Saya tidak tahu. Yang jelas saya akan berpikir dua kali sebelum mencoba kembali.

Bagaimana dengan makanan Eropa atau makanan yang bukan tradisional? Hahaha... tunggu hingga mungkin tahun depan. Saat ini saya sama sekali tidak tertarik. Daftar jenis makanan tradisional yang sudah lama belum saya sentuh saja masih panjang. Saya masih ingin semur jengkol, nasi bogana, lumpia semarang, garang asem, ikan arsik, mangut, tongseng, dan banyak lagi. Pokoknya daftar masih panjang dan masih belum berani jika makan di kaki lima sebab saya belum yakin tubuh ini sudah mampu menangkal "keajaiban" makanan pingir jalan.

Foto credit: Kompas.com

You May Also Like