Dulu, saat aku masih kecil, ada banyak sekali pohon tinggi di depan rumahku. Pohon-pohon ini tidak tahu jenisnya apa, tetapi sungguh menarik. Dedaunannya selalu berubah warna. Kadang hijau, oranye, kuning, merah, bahkan keunguan. Dari persepsiku dulu, pohon-pohon ini seperti pohon di luar negeri yang kulihat di buku.
Namun, pohon-pohon itu sudah mulai tinggi dan akan membahayakan warga. Akhirnya, diambil keputusan untuk menebang pohon-pohon itu. Aku tidak ingat banyak tentang hari itu. Yang kuingat, setelahnya, ditanam bambu untuk menggantikan pohon-pohon tadi.
Bertahun-tahun kemudian, bambu-bambu ini tumbuh besar dan rimbun. Ketika melihat keluar jendela kamarku—yang kebetulan menghadap ke jalan—aku selalu disambut bambu hijau dan sungai. Aku sering berpura-pura aku tinggal di hutan atau semacamnya.
Sering ada tupai dan burung kutilang bermain-main di bambu-bambu ini, berlarian di pagar di samping sungai. Bahkan, salah satu kucingku pernah ikut memanjat di pinggiran pagar itu, mengejar tupai. Sangat mengkhawatirkan, karena dia bisa saja terjatuh ke dalam sungai. Untungnya keseimbangannya cukup bagus.
Beberapa bulan yang lalu, Ayah memanggilku karena ada seekor burung aneh di dekat sungai. Warnanya putih dan panjang, dengan sayap hitam kecil. Dia sedang melompat-lompat di atas sebuah potongan kayu yang bertumpu pada pagar jembatan dan pohon di seberang sungai. Tidak pernah terlacak dia jenis burung apa. Yang pasti, sejak hari itu, sering ada suara koak-koak-koak-nya yang nyaring. Sepertinya dia membawa keluarganya untuk ikut tinggal di situ.
Akan tetapi, suatu hari, kami mendapatkan berita bahwa jalan di depan rumah itu akan dilebarkan. Katanya, akan ada kluster yang dibangun di tanah kosong di ujung jalan. Menurutku itu agak aneh: lingkungan kami sudah bagus dan asri, tidak perlu diperlebar jalannya. Lagipula, tempat yang akan dibangun klaster itu berada persis di pinggir sungai, rawan longsor, serta di sebelahnya ada kuburan!
Namun keputusan itu sudah diambil, dan perlahan, bambu-bambu itu mulai ditebang. Baru kemarin, pohon sukun yang ditebang dengan kurang hati-hati jatuh dan mengenai pagar rumahku. Salah satu buah sukunnya melenting dan menghantam sebuah pot di kebunku hingga pecah. Untung saja, pada saat itu, tidak ada kucing ataupun orang di kebun kami; kalau ada bisa tertimpa pohon sukun itu.
Kupikir aku akan sangat sedih karena bambu-bambu itu dipotong. Pemandangannya jadi kurang indah, dan di kamarku jadi panas sekali karena mataharinya nyentor. Ternyata, aku tidak terlalu sedih terkait pemandangan. Aku hanya kesal karena kepanasan saat sekolah online. Aku justru cukup menikmati pemandangannya, dan melihat orang-orang di rumah-rumah di seberang sungai. Aku sering berpikir bahwa mereka semua punya hdup mereka masing-masing, dan kisah mereka masing-masing, dan ini membuat pemandanganku jadi lebih puitis. Itu kebiasaan aneh, yang kadang berguna dan kadang merugikan yang kumiliki—membuat segalanya jadi puitis.
Jadi, meskipun bambu-bambu itu tidak ada, masih ada hal puitis dan indah yang tersisa. Siluet pemandangan saat pagi hari sangat indah sekarang, karena tidak lagi terhalang bambu. Dari penebangan bambu ini, aku jadi belajar bahwa segalanya bisa indah kalau dilihat dari sudut yang benar.
Wah sayang sekali Ara bambunya sudah ditebang, terbayang sejuknya belajar jika ada pohon bambu