Setelah sekian lama berproses, kalau ditanya tentang jenjang mana di Semi Palar yang pembelajarannya paling holistik? Saya akan jawab KPB. Juga jenjang KB dan TK. Kenapa begitu? Sederhananya karena di jenjang-jenjang tersebut, intervensi dari sistem kependidikan di luar Smipa terasa paling minimal. Kelompok Bermain dan TK dalam sistem pendidikan di Indonesia masih masuk kategori pendidikan Non Formal. Dalam konteks ini, tingkat perhatian teman-teman dari Dinas Pendidikan juga tidak sebesar jenjang SD, SMP atau SMA. Di jenjang KPB juga tahapan tumbuh kembang teman-teman juga sudah lebih utuh dari segala aspeknya. Ruang lingkup belajarnya juga sudah sangat lebar - karenanya pendekatan belajar berbasis komunitas jadi paling sesuai.
Untuk menjelaskan hal ini saya akan kembali ke ungkapan John Dewey bahwa Education is Life Itself. Ini adalah pandangan tentang pendidikan yang sejauh ini kami lihat paling fundamental, paling mendasar. Di dalam kalimat pendek ini ada dua kata kunci: Education (Pendidikan) dan Life (hidup dan kehidupan manusianya). Sebuah ekosistem pendidikan yang dirancang - dalam lingkup manapun apakah sistem negara (Kementrian dan Kurikulum Nasional), Dinas Pendidikan, Universitas, Sekolah ataupun tempat kursus... apapun itu, akan memunculkan dikotomi dan tarik menarik antara sistem pendidikan dan hidup / kehidupan itu sendiri. Sistem pendidikan adalah sistem memang dibuat oleh manusia di dalam perjalanan perkembangan peradabannya. Di sisi lain sebetulnya manusia punya kecerdasan dan punya sifat alamiah untuk belajar dan mengembangkan dirinya. Jadi dikotomi ini muncul, tarik menarik ini terjadi karena sistem pendidikan itu sifatnya buatan - dan di sisi lain, manusia dengan hidup dan kehidupannya adalah sesuatu yang alamiah.
Saya menduga John Dewey mengungkapkan pemikirannya berangkat dari observasi yang sama, karena ini sangat jelas dan sangat mendasar - walaupun mungkin tidak banyak yang menyadarinya. Tidak sadar karena fokus kita lebih banyak tertarik pada sisi edukasi-nya dan kemudian lepas perhatian pada sisi manusia dan kehidupannya. Tidak heran apabila kemudian kita menemukan jargon-jargon seperti Pendidikan yang Memanusiakan Manusia. Kalau dipikirkan jadi lucu ya. Kalau tidak demikian tujuannya, lalu apa lagi tujuan pendidikan yang semestinya? Ungkapan di atas ini hanya muncul karena praktik tujuan yang melenceng.
Dalam proses menemukan esensi Pendidikan yang Holistik, akhirnya Semi Palar sampai ke kesadaran ini, sejalan dengan terus bergulirnya proses Semi Palar sebagai lembaga untuk terus belajar dan belajar, terus memperdalam pemahaman tentang pendidikan holistik dan tentang manusia yang seutuhnya. Di titik ini kami jadi lebih menyadari bahwa apapun sistem pendidikannya, kita tidak pernah boleh lupa bahwa sistem pendidikan adalah sekedar perangkat atau alat agar anak-anak yang belajar dan berproses di dalam sistem tersebut bisa menumbuhkan dirinya seutuh-utuhnya - sebagaimana Sang Pencipta menghendakinya. Dalam praktiknya, kita para pendidik (guru dan orangtua) tidak pernah boleh lupa bahwa tugas pendidikan kita adalah memang harus berfokus pada anak-anak kita sebagai manusia ciptaan Tuhan bersama hidup dan kehidupan yang mengiringinya. Salam.