Long live the Pope. Kata-kata ini yang diteriakkan umat yang menghadiri Misa Agung di GBK kemarin. Misa yang dihadiri hampir 90.000 umat Katolik dari seluruh Indonesia. Luar biasa.
Bagi saya kunjungan bapa Paus tentunya sangat istimewa. Saya tidak ikut serta berbagai kehebohan yang terjadi, saya hanya mengikuti dari jauh, dan membatin bahwa peristiwa ini juga akan jadi peristiwa yang juga punya signifikansi bagi kita semua. Saya sangat berharap bahwa kehadiran beliau di bumi Indonesia juga membawa kebaikan bagi masyarakat Indonesia - bukan saja bukan bagi Umat Katolik di Indonesia.
Sepertinya hal itulah yang terjadi sejak hari pertama beliau tiba di Indonesia. Beliau datang dengan pesawat komersial dan dijemput menggunakan mobil Innova, kendaraan yang banyak digunakan masyarakat Indonesia. Beliau tinggal di wisma Kedutaan Besar Vatikan di Jakarta, bukan di tempat khusus dengan segala pengamanan yang biasanya ada saat ada kunjungan kepala negara lain. Upacara penyambutan juga sangat sederhana, salah satunya beliau menerima karangan bunga yang disampaikan oleh dua anak dari Indonesia Timur.
Masyarakat kita hari ini sedang dihebohkan soal dugaan gratifikasi pejabat negara yang dipicu kepergian Kaesang dan istrinya ke AS menggunakan pesawat jet pribadi - yang entah milik siapa. Ya begitulah akhirnya masyarakat jadi membandingkan hal-hal seperti ini. Masyarakat jadi mengamati sepatu, jam tangan yang dikenakan Bapak Paus.
Dalam prosesnya, saya juga berusaha mengikuti perjalanan Bapak Paus di Indonesia, justru dari kacamata saudara-saudara umat muslim di Indonesia. Salah satu yang sangat menarik adalah kunjungan beliau ke mesjid Istiqlal - melalui Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan gereja Katedral dan mesjid Istiqlal termasuk juga interaksi beliau dengan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasarudin Umar. Bagi saya apa yang disampaikan bapak Nasruddin saat diwawancarai oleh media juga sangat menyentuh, sangat mengharukan.
Yang membuat saya bahagia adalah betapa banyaknya liputan media yang menyoroti kehadiran beliau dan juga merefleksikannya terhadap berbagai hal yang sedang kita hadapi bersama sebagai sebuah bangsa. Salah satunya adalah video di bawah ini tanggapan dari Habib Jafar - salah satu tokoh muslim muda yang cukup banyak saya ikuti pemikiran-pemikirannya. Narasumber yang lain adalah Deni Iskandar, anak muda muslim yang berkesempatan mendapatkan beasiswa dan belajar di Vatikan, bahkan beberapa kali berinteraksi langsung dengan Deni. Salah satu video yang saya lihat juga adalah tanggapan Yenny Wahid yang sudah berkesempatan untuk berkunjung ke Vatikan.
Selama perjalanan pulang ke Bandara, masyarakat masih terus mengikuti dan melepas keberangkatan Bapak Paus dengan penuh rasa haru. Beliau bahkan masih menyempatkan menyapa dan menyalami petugas Bandara yang bertugas menyiapkan pesawat dan keberangkatan beliau. Betul-betul luar biasa beliau ini.
Saat ini Semi Palar sedang berusaha belajar menyadari dan memahami seutuhnya spirit Semi Palar - salah satu butirnya adalah Keteladanan. Nah nyambung banget kan. Ini jadi catatan pertama yang penting buat kita semua. Yang kedua bagi saya sangat membahagiakan adalah juga merefleksikan peristiwa besar ini dengan keseharian kita di Semi Palar, bahwa kita semua, para kakak, anak-anak dan rekan-rekan orangtua sudah menjalani kehidupan sehari-hari di dalam suasana kebersamaan dalam keberagamaan yang sangat cair, sangat alamiah. Kesederhanaan juga jadi nilai yang kita yakini bersama dan mudah-mudahan kita amini bersama, suasana yang belum lama kita alami bersama melalui Selametan Rumah Kita.
Bagaimanapun, matur nuwun Bapa Paus. Berkah Dalem. Panjang Umur. Viva Il Papa... 🙏🏼🙏🏼🙏🏼