Jiwa hadir dibumi untuk mengalami pengalaman rasa mewujud sebagai manusia. Menjadi manusia, adalah 1 dari tak terhingganya bentuk pengalaman rasa bagi jiwa dalam prosesnya merasakan diri menjadi segala sesuatu.
Bumi adalah panggung dualitas. Kesadaran yang memilih bumi sebagai "sekolah" tempatnya belajar, harus mau mengalami seluruh sisi dualitas sebagai bentuk keseimbangan pengalamannya.
Adapun bentuk dualitas yang dialami, adalah gabungan antara jalur evolusi jiwa dan pilihan jiwa yang bersangkutan atas kehendaknya sendiri.
Jalur pengalaman rasa jiwa sendiri berbeda beda, tapi tujuan akhirnya sama, yaitu keseimbangan pengalaman rasa dan kembali mengalami ketunggalan dengan segala sesuatu.
Keseimbangan pengalaman ini, ibarat angka 10, tak terhingga cara mencapainya.
Misal dalam konteks dualitas baik dan jahat atau feminim dan maskulin.
Ada jiwa yang mengalami 9 jahat, 1 baik
Ada yang 5 jahat, 5 baik
Ada yang 2 jahat, 8 baik dll
Ada jiwa yang 8 kali menjadi sisi maskulin, 2 kali menjadi sisi feminim
Yang lain, 5 kali menjadi sisi maskulin, 5 kali menjadi sisi feminim, dll
Tak terhingga jalur nya.
Jadi bentuk keseimbangannya bukan sama besar seperti pikiran manusia, tapi seimbang secara keseluruhan sistem semesta.
Contoh di tata surya kita, bentuk benda langitnya berbeda beda ukuran, matahari misalnya, ukuran volumenya 1.3 juta kali lebih besar di banding bumi.
Tapi ketika semua disatukan dalam rangkaian tata surya, maka jadilah sistem yang seimbang
Di bumi juga demikian.
Bisa saja misal, dalam konteks vibrasi kesadaran, pada suatu periode peradaban bumi, ada 1 milyar orang berkesadaran rendah dan 10 orang berkesadaran tinggi.
Atau diperiode lain, ada 10 orang jahat, dan 1 milyar orang baik, dll. Sangat tak terhingga variasinya.
Walau ukurannya nampak jauh sekali dalam pikiran manusia, tapi itu merupakan bentuk keseimbangan jagat dalam sistem kesadaran dibumi.
Semua peran adalah pilihan jiwa, tapi juga jatah peran yang bisa dipilih disuatu panggung seperti bumi, diseimbangkan dengan bentuk keseimbangan sistem kesadaran di panggung tersebut.
Di era transisi kesadaran bumi, peran yang paling banyak jatahnya untuk dialami adalah peran yang vibrasinya rendah/ ekspresi energi maskulin, atau sebut saja vibrasi negatif.
Tak heran, ditengah era kebangkitan spiritual ini, justru secara kasat mata, semakin banyak kita lihat manusia yang kesadarannya rendah, dimana pengalaman rasanya hanya berorientasi pada dunia materialisme, dominasi, egosentris, ketakutan, dll (ekspresi energi maskulin).
Itu semua sejatinya adalah permainan jagat, dalam menghadirkan bentuk pengalaman dualitas, serupa menghadirkan kegelapan agar cahaya muncul dan dikenali.
Agar kelak, kita, kesadaran yang sedang mengalami pengalaman rasa keterpisahan dan dualitas ini bisa kembali mengalami, bahwa dibalik semua yang nampak berbeda itu, ada kesadaran tunggal yang menjadi segalanya.
Itulah, diri kita yang lain.
Mugia Rahayu Sagung Dumadi
Terima kasih Gunawan. Kepingan-kepingan catatannya sangat bermanfaat dan sangat menggenapi proses belajar kita semua di Semi Palar. ππΌππΏ