Jiwa yang mengalami pengalaman kelahiran, juga harus mau mengalami pengalaman kematian. Itulah bentuk keseimbangan pengalaman kesadaran untuk memahami ketunggalan.
Tatacara kematian seseorang sejatinya adalah bentuk pengalaman rasa yang dibutuhkan bagi proses evolusi kesadarannya, karena bagi jiwa (kesadaran individu) kematian tidak eksis.
Apa yang oleh bahasa manusia disebut mati, sejatinya hanyalah proses selesainya kesadaran individu (jiwa) dalam mengalami pengalaman rasa hidup dalam tubuh fisik.
Tatacara kematian (proses meninggalkan tubuh fisik) yang dialami sebuah jiwa dibumi, ditentukan dan dipilih sendiri oleh jiwa yang bersangkutan sebelum ia datang ke bumi.
Jiwa kita sendiri lah yang menentukan pengalaman rasa yang akan kita ambil dalam setiap proses kematian kita. Karena setiap tatacara kematian membawa pengalaman dan pelajaran yang berbeda.
Ada jiwa, yang memilih jalan kematian serupa yang dialami para biksu tibet tingkat tinggi yang secara sadar melepaskan jiwanya dari raga dengan disaksikan murid muridnya.
Kakek saya pribadi 7 hari sebelum wafat sudah memberi tahu keluarga besar kami bahwa "abah rek balik" (abah mau pulang), dengan senyum gembira diwajahnya serupa anak kecil yang bahagia pulang ke rumah orang tuanya.
Ada jiwa yang memilih mati lewat penyakit, kecelakaan, dalam kesunyian, diatas ranjang, didalam air, dll. Dalam perspektif yang lebih tinggi, semua hanyalah pengalaman rasa yang sejatinya perlu dialami sebagai bagian dari pelajaran jiwa yang bersangkutan, juga bagi jiwa jiwa disekitarnya.
Cara pandang kita terhadap kematian sangat berpengaruh pada pengalaman rasa yang kita alami saat kelak keluar dari tubuh fisik kita.
Jiwa jiwa yang menyambut kematian dengan rasa tenang, bahagia dan sukacita, secara alami akan mengalami pengalaman rasa yang membahagiakan. Kematian menjadi proses yang indah dan dinantikan seperti apa yang disampaikan Syeh Siti Jenar, Jalaludin Rumi dan banyak jiwa tercerahkan :
"Bagi mereka yang telah sadar, kematian tak ubahnya seperti seorang pengantin yang menantikan malam pertama".
Sementara jiwa jiwa yang memandang kematian sebagai proses menyakitkan dengan siksaan menanti sebagai penghakiman, juga cenderung mengalami pengalaman rasa itu sebelum akhirnya memori memori jiwanya terakses kembali.
Itu sebab kenapa banyak jiwa tercerahkan mengatakan, bahwa surga dan neraka sejatinya adalah ciptaan diri kita sendiri.
Semoga sedikit membuka dan mencerahkan.