Bayangan, adalah visi. Bayangan, adalah asumsi. Kita membayangkan sesuatu, yang bisa terjadi pada masa depan. Diperkirakan, berdasarkan kemampuan berpikir kita sendiri. Kalau soal nantinya, bisa jadi benar bisa pun tidak jadi. Bayangan menjadi seorang pemain bola terkenal di masa depan misalnya. Sebenarnya itu hanyalah imajinasi, yang kita pikirkan apa yang akan terjadi, meskipun mungkin secara logis kita berpikir tidak mungkin.
Dalam proyekku, pastinya ada bayangan. hasil akhir dari proyeknya seperti apa, prosesnya seperti apa, teknisnya begimana, sudah pasti terpikirkan di pikiran. Meskipun begitu, terkadang pikiran kita memiliki batas, dan sudah memiliki kotak sehingga berpikir, dalam jangkauan kategori tertentu. Dalam situasi tersebut, aku buntu. Biasanya, butuh pendapat dan pencerahan orang lain untuk keluar dari kotak dan berpikir lebih luas apabila buntu.
Demikian kasusnya dengan aku sendiri pula, saat ini. Sepertinya, jalan buntu telah menghambatku untuk membuat bayangan, dan pula juga ide-ide yang bisa muncul, akhir-akhir ini tidak muncul. Tanpa bayangan, tidak ada persiapan, dan tidak ada tujuan yang jelas. Baru sadar, ternyata selama ini proyekku itu tidak memiliki tujuan jelas karena terus berubah-ubah. Dari awalnya proyek video analisis basket, tutorial, hingga saat ini bikin suatu prototipe pun malah fokus ke main-nya. Karena itu, untuk membayangkan kita perlu fokus. Fokus aja dulu, apa sih hasil yang ingin dicapai pada suatu proyek ini.
Awal mula sesuatu, pasti berjalan karena visi, karena bayangan, karena sebuah tujuan dan manfaat yang bisa dirasakan pada masa depan. Jika tidak ada tujuan, pikirin lagi, apakah perlu dimasukkan pada trek yang benar kembali? Apakah tersesat? Apakah hanya mengandalkan orang lain?
Jika bingung, berpikirlah. Terutama berpikir secara fokus dan mendalam, jangan dibiarkan saja.