AES059: Tebak tebakan
haegenquinston
Monday October 18 2021, 3:15 PM

Dalam hal yang tidak terlalu serius dan dijadikan semacam permainan, skill tebak-tebakan yang kita miliki, bisa jadi merupakan suatu keunggulan dan kekuatan. Namun, jika diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari, terkadang terlalu banyak tebak-tebakan bisa jadi pula menjadi titik timbal balik 'karma' kita. Jangankan sebuah situasi yang tidak perlu tebak-tebakan dan sudah memiliki jawaban pasti, kita malas mencari solusi dan malah tebak-tebakan. Nama lainnya, asumsi.

Apa kalau kita jago untuk berasumsi dan menebak, bisa terbuktikan di kehidupan sehari-hari? Belum tentu. Mungkin kalau ada permainan dan situasi tertentu, iya. Misalnya, kita berada di Squid Game. Sebelum kita ikut suatu permainan misterius, kita pasti sudah memiliki dugaan, apa sih permainan berikutnya. Namun, kemungkinannya benar kecil, meskipun kita jago dalam menebak pun, tetap saja kemungkinannya hanya memperbesar sedikit. Lain waktu, jika kalau kita bisa melakukan sesuatu tanpa berasumsi. Kalau kita melakukannya, sudah terjamin. Kalau berasumsi, meskipun kita jago, namun di kesempatan itu, jelas tidak terjamin.

Ada suatu saat dimana aku merasa kemampuan menebak dan berasumsiku sangat baik, namun di lain waktu asumsiku yang kurasa sangat benar, ternyata salah. Sebelum itu, aku ingin menceritakan tentang suatu pengalaman yang tak terduga.

Beberapa lama lalu, aku sedang bersantai pada malam jumat 'biasanya' dengan main hp dan tiduran. Tiba-tiba, seorang yang kukenal dari kegiatan Pramuka rutin sebelum pandemi biasanya, datang ke rumah. Langsung lah ku berpikir dan berasumsi bahwa ada acara yang akan berlangsung, secara sebentar. Ternyata, disuruh memakai penutup mata (blindfold) lalu diarahkan menuju mobil. Sesuatu sedang terjadi. Ketika sudah masuk dan mobil berjalan (sambil memakai penutup mata), aku bingung sekaligus shock, karena malam-malam malah dibawa pergi. Sepanjang perjalanan 1 jam + ditutup matanya, aku kebanyakan berasumsi. Asumsi bahwa ada kegiatan upacara, asumsi jalan apa yang diambil, dll. Namun dari sana, aku jadi semakin tahu dan semakin presisi asumsinya. Misalnya, setelah 1 jam berlalu, aku berasumsi secara benar, bahwa saat ini akan kemping dadakan di Lembang. Alasannya kuat, misalnya karena jarak dan waktu tempuh 1 jam, jalan nanjak, malam-malam dibawa, gerak gerik mencurigakan sebelumnya.

Intinya, asumsi bisa jadi dengan alasan kuat, bisa jadi ngarang karena perasaan dan 'feeling' sendiri. Bisa jadi ngaku-ngaku memiliki skill berasumsi, bisa jadi pula karena memiliki analisis sebab akibat yang baik. Ada hal-hal yang tidak patut dan jangankan diasumsikan, karena tidak bisa ketebak ataupun bisa jadi keluar dari jalur ekspektasi kita. Misalnya, hal-hal yang berkaitan dengan kebiasaan, berkaitan dengan kebutuhan sendiri, dan juga berkaitan dengan kemalasan.

Tapi ada hal-hal tidak pasti yang bisa kita asumsikan dengan jeli, misalnya adalah tebakan dalam kuis yang kita benar-benar tidak tahu materinya. Asalkan kita tidak membuat tindakan ataupun membuat keputusan yang berlebihan, asumsinya bisa dibilang masih cukup oke. Asalkan kita tahu apa yang benar-benar hanya perasaan dan sekadar tebakan tanpa akar, maka tidak apa-apa berasumsi sekali-kali dalam situasi tertentu.

apabila kita melakukan prediksi ataupun taruhan, pastinya kita memiliki konklusi serta backup yang kuat, dalam melakukan prediksi tersebut. Tentu tidak akan pasti, tetapi kita melakukan prediksi yang masuk akal dan cermat. Tidak asal-asalan dan bias menurut pandangan sendiri, tahu plus minus.