AES 116 Serial Televisi
leoamurist
Monday September 20 2021, 7:10 AM
AES 116 Serial Televisi

The way we do one thing is the way we do every-thing. Jadi kutipan jagoan selama tiga tahun belakangan ini. Setelah jagoan tiga tahun sebelumya adalah one who cannot command must obey. Sedangkan enam tahun total, tetap raja terakhirnya yang paling kojo yaitu when the student is ready the teacher will appear.

Refleksi dan proyeksi tiga tahun ke belakang memang soal pola dan kebiasaan. Dengan menyadari satu hal saja dari diri sendiri, kelihatan bagaimana diri sendiri merespon seluruh fenomena lingkungan yang dialami. Penemuan ini jelas dari proyeksi kepada kelompok dampingan dan refleksi dari respon baliknya.

Dengan memasuki kesadaran diri lebih mendalam melalui refleksi, malahan proyeksi keluar semakin tajam. Dalam arti, pendekatannya semakin akurat walaupun tidak akan pernah tepat sama. Beda nol koma nol satu milidetik saja sudah dua hal berbeda, makanya perlu menyadari satu pola yang sama. (untuk menemukan struktur jadi bisa menggeser paradigma)

Contoh, melihat cara seseorang duduk atau mendengar celetukannya. Seketika menemukan pola kebiasaan bergerak dan berkata dari diri sendiri. Kemudian saat merespon tindakan dan perkataan orang tersebut, kesadaran bahwa diri sedang melakukan proyeksi menyala. Rasanya seperti menonton diri sendiri.

Apakah diri sendiri yang teramati itu sudah bisa terkendali? Belum! Makanya jadi suka bingung sendiri. Hehehe... Yang penting untuk saat ini adalah tetap sadar kalau dunia luar dunia dalam kebanyakan hanya soal refleksi dan proyeksi yang selalu repetisi. Makanya, tuntutan jadi tidak relevan rasanya sekarang-sekarang ini.

Di sisi lain, ekspektasi menjadi sangat berguna. Untuk memilih respon terhadap sekitar dengan aroma yang lebih konstruktif, bukan instruktif. Yang menuntut bisa jadi terlalu banyak dituntut, yang membebaskan bisa jadi terlalu banyak dibiarkan. Jalan tengahnya jadi kembali ke kutipan tiga tahun pertama, rasanya.

One who cannot command, must obey. Ia yang tidak mampu menetapkan arahnya, pastilah diarahkan. Seperti, merasa perlu ada perubahan, menemukan ada yang bisa diperbaiki. Sekaligus enggan mengorbankan waktunya untuk memimpin gerak perbaikan ini. Demikianlah dirinya diarahkan oleh media untuk diam dan mengonsumsi serial televisi.

You May Also Like