Proyek mandiri yang kubuat sepanjang semester ini, ternyata sebentar lagi tidak terasa akan kelar. Setelah beberapa bulan yang tidak terasa, akhirnya kelompok kami mengadakan presentasi akhir berbentuk pameran. Secara persiapan, dari kemarin kemarin aku dan teman-teman cukup sibuk dalam persiapannya. Secara teknis persiapan, jujur aku dari kemarin-kemarin itu stres abis, karena seakan-seakan sudah seperti penambahan beban saja. Proyeknya sendiri belum selesai, sudah ditambah kembali beban tambahan untuk ngurusin pameran. Untung saja, bagianku dokumentasi. Jadi bisa banyak mendapatkan waktu luang, dan punya kesempatan berdokumentasi pada saat pamerannya sedang berlangsung.
Hari ini merupakan hari paling ramai, sekaligus hari terakhir dari pameran akhir proman kami. Kalau bisa dibilang, pameran ini berjalan dengan lancar secara umum. Karena pengunjungnya banyak (tidak seperti garage sale yang menyedihkan), secara dekor dan persiapan, semuanya tersusun dari awal hingga akhir. Pun juga proyek mandirinya, semua untungnya sudah sesuai target. Di waktu aku menulis blog AES saat ini, aku sudah santai dan sudah beristirahat dari kesibukan. Pameran telah berlalu
Apa hal yang kusyukuri dari adanya pameran ini? Sebenarnya, aku merasakan perkembangan dan tantangan mental dari pameran ini. Awalnya, pada saat pameran ini masih berupa 'ide' yang kupikirkan adalah agar presentasi akhir janganlah repot-repot supaya aku bisa fokus ke proyek. Untuk ide pamerannya sendiri, aku sangat menyukainya dari sejak awal. Jujur aku tidak kepikiran kalau ada kata 'pameran' saat mendengar kata 'presentasi'. Mungkin otak dan daya pikirku, terlalu kaku dan kurang fleksibel, kurang 'out of the box'. Pokoknya, aku tidak sempat kepikiran pameran, dan akhirnya sangat setuju. Ternyata ide terbaik untuk presentasi akhir, tidak berada dalam pikiranku.
Rencana awal tindak lanjut saat merancang pameran ini, adalah konsep dan juga pembagian tugas. Mendengar pembagian tugasku saat itu, aku sudah lemas karena dapet bagian dokumentasi, tidak kalah jauh dengan proyek mandiriku yaitu membuat video tutorial basket. Kalau memakai mental lemah dan seperti orang biasanya, aku sudah pasti terlalu kewalahan dan akhirnya overthinking, akhirnya tidak mengerjakan apa-apa dan hanya berpikir tidak bertindak. Namun, di saat itu, aku memutuskan untuk membulatkan tekad (kaya bahasa komik naruto aja). Tekad untuk menerima saran Kakak, bertindak gesit, dan berpikir dengan pikiran terbuka.
Dari sana, aku sendiri belum menuntaskan Konten 1. karena belum tuntas, aku jadinya ingin ikut/komunikasi dengan Kak Tema mengenai Konten 1, siapa tahu beliau ingin ikut. Disinilah konflik kedua dalam diriku terjadi. Kak Tema sendiri tidak mau jadi model karena ia tidak pede dan merasa 'bukan bidangnya'. Kan aku tidak bisa memaksa. Namun, beliau menawarkan juga, untuk sepenuhnya membantu proses perekaman-ku. Misalnya, ia datang hari Minggu ke komunitas, merekam pelatih melakukan gerakan basket, dan menyerahkan videonya untuk aku edit. Kak Tema juga menawarkan, kalau aku tidak usah ikut kegiatan komunitasnya, karena Kak Tema yang pang-rekamin aja. Menurut Kak Tema itupun.
Satu sisi (sisi karakter malas), aku senang kalau aku menerima tawaran Kak Tema dan tidak jadi ikut kegiatan komunitas. Mungkin kalau disuruh pilih, aku lebih pengen ke arah sana.
Namun, aku juga jadi sadar. Aku masih memiliki tantangan untuk kegiatan dengan komunitas baru dan mendapatkan poin yang tidak hilang. Misalnya, komunikasi, cara mengobrol, kolaborasi. Aku juga merasa, tidak pantas kalau aku memperoleh rekaman dari Kak Tema dengan enak-enakan malas di rumah. Selain itu, tentu alangkah baiknya kalau aku bisa melatih kembali kemampuan membuat rekaman. Poin lainnya, adalah tentang keluar dari zona nyaman. Aku sendiri belum keluar dari zona nyaman selama proyek ini. Aku merasa, lebih penting bagi masa depan kalau aku bisa keluar dari zona nyaman dan kegiatan bersama komunitas, komunikasi, dan melakukan hal yang awalnya tidak enak.
Meksipun mengganggu jadwal rutin hari Minggu-ku, aku akhirnya tetap memutuskan untuk berani ikut kegiatan komunitas. Akhirnya, setelah selesai, aku merasa sangat lega dan merasa kegiatan komunitasnya ternyata seru.
Yang memberikan pressure berat di awal, setelah dijalankan membuat diri kita lega. Sementara yang awalnya enak-enak aja dan malas-malasan, di akhir akan ada pressure lebih berat, pula juga dengan konsekuensi.
Istilah lainnya, adalah kasus bom kalau aku bisa bilang. Ada suatu bom waktu yang akan menyala. Antara kita repot untuk mendetonasikannya sekarang, atau kita membiarkannya dan bermalas-malasan. Sampai pada akhirnya, kena konsekuensi, teguran, Red flag, dan akhirnya bom itu meledak dan menjadikan situasi kacau balau.