Kata heroik berasal dari 'hero', yang berasal dari bahasa Latin 'heros'. Diduga, asal usulnya adalah dari Heracles, dimana ia merupakan seorang pahlawan dalam salah satu cerita mitologi Yunani. Sementara, pahlawan sendiri dalam arti Bahasa Indonesia, adalah seseorang yang menonjol dalam keberanian dan pengorbanannya. Mengapa menonjol? Karena terlihat, sehingga saat itu dijadikan 'spotlight' oleh orang-orang lain. Misalnya, Joni sang anak pemanjat tiang bendera yang viral beberapa tahun lalu. Ia dikenal sebagai pahlawan, karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam memperbaiki bendera (berjasa bagi negara terutama orang-orang di daerahnya). Itu sebabnya, ia dikenal sebagai pahlawan. Karena telah melakukan tindakan beresiko, dan berhasil melakukannya di saat orang lain tidak.
Kalau mendengar kata pahlawan, hal apa yang terbayang? Sepertinya, kalau aku sendiri kayanya pahlawan perang, pahlawan yang menjadi penyelamat, orang yang melakukan hal yang tepat pada situasi yang tepat, penyelamat. Kata tersebut, sepertinya agak meleset dari makna yang sebenarnya. Bukannya berasumsi, tetapi bahasa tersebut juga memiliki artian yang sudah pindah dari yang seharusnya. Kalau ada seseorang yang mencegah suatu ancaman terjadi, atau meniadakannya tanpa diketahui. Kita pasti tidak mengetahui orang-orang yang berjasa seperti itu, karena memang tidak terlihat.
Hal terakhir lainnya adalah pahlawan yang tidak disadari. Selalu, ada seorang pahlawan yang berjasa di dekat diri kita. Yaitu kita sendiri. Kita sendiri, kalau disadari sangat sering membantu. Kita berperan banyak dalam kehidupan seorang individu lain. Bagi diri kita sendiri, juga kita sangat berjasa. Kalau di Smipa belajar untuk mandiri adaptif bermanfaat, maka dengan itupun kita sudah sangat membantu diri sendiri. Kalau kita menyadari hal tersebut, kita bisa memandanginya sebagai hal yang positif, yang membuat aura positif, sehingga pikiran semakin tercerahkan. Dengan begitu, kita juga sadar akan potensi diri, dan terbayang hal-hal di masa depan.