Cerita 1 :Pasir Angling
Kamis pagi diawal bulan mei 2022. Aku lupa tanggal berapa atau jam berapa saaaku mulai memacu kendaraanku kearah Cibodas Lembang. Tujuanku kala itu adalah ke Lembah Tengkorak di kaki Gunung BUkit Tunggul. Itu kali kedua aku ke Bukit Tunggul namun tak sampai mendaki. Ponsel ku bergetar, ada notifikasi whatsapp masuk.Hmm..Dherry lagi! Semenjak pertemuan ku dengan Dherry beberapa waktu lalu, ia intens menghubungi ku. Semula aku engga memberikan nomor ponsel ku, cukup komunikasi melalui DM di instagram. Namun aku tak kuasa menolak ketika Ummi yang meminta nomor ponselku.
Selamat Pagi! Have a great day, Lind!
Kuabaikan chatt nya. Memeriksa notifikasi lain, barangkali anakku menghubungi. Namun nihil, ya saat ini anakku tengah ikut mudik dengan adik dan adik ipar ku ke Jambi. Kendala signal menjadi hambatan kami berkomunikasi. Kumatikan data ponsel dan melajukan motorku ke arah Dago atas. Baru saja keluar dari dari komplek rumah, aku terjebak kemacetan. Orang - orang mau kemana siii??? pikirku dan berusaha menyalip kendaraan di depanku. Aku melewati komplk perumahan Citra Green dan masuk ke kawasan punclut. Jalanan punclut yang berkelok dan menanjak tajam yang biasa nya dihindari banyak kendaraan terutama yang ber plat nomor luar kota kini dipadati kendaraan. Bau karet sesekali tercium, mungkin karena si pengemudi bolak balik injak rem gas rem atau apalah aku tidak tahu pasti istilahnya. Usai melewati kendaraan - kendaraan di depanku,kembali aku terjebak kemacetan di dekat Pasar Panorama Lembang. Beruntung aku tahu jalan tikus, jadi dari pasar Panorama aku bisa memotong langsung ke alun alun lembang dan lurus mengarah ke Maribaya. Kawasan Maribaya Lembang juga rupanya menjadi sasaran warga masyarakat untuk menghabiskan liburan mereka bersama keluarga. Lahan parkirnya nampak ramai kendaraan. SEnyum dari tukang parkir juga pemilik warung di samping pintu masuk Maribaya kembali 'pulang' setelah dua tahun mereka bertahan karena pandemi. memasuki desa suntenjaya Cibodas Lembang, mataku menangkap spanduk bertuliskan Bumi Perkemahan Bincarung yang didalam spanduk tersebut juga menginformasikan adanya dua buah air terjun yaitu zcurug Cibodas dan Curug Luhur. wahhhh...menarik nihhhh. Tujuan semula yang hendak ke Lembah Tengkorak berubah arah ke Desa Pasir Angling. Jalan masukkan menanjak tajam. Dan terus menanjak dengan pemandangan kiri kanan yang menakjubkan. Lereng gunung yang hijau, perkebunan warga dan sesekali ku cium bau pupuk kotoran sapi. Dan diatas sana menjulang tinggi, Gunung Bukit Tunggul. Salah satu puncak tertinggi di pegunungan Utara Kota Bandung. Tingginya mencapai 2209 mdpl. Menurut artikel yang kubaca, Gunung Bukit Tunggul ini erat kaitannya dengan legenda Sangkuriang. Dimana Gunung ini merupakan sisa tunggul atau pokok pohon yang ditebang Sangkuriang untuk membuat perahu yang akan ia persembahkan untuk Dayang Sumbi. Berdasarkan para peneliti, Gunung Bukit Tunggul muncul karena letusan Gunung Sunda purba ribuan tahun lalu. Jika dilihat dari ketinggian, kota Bandung benar benar seperti sebuah mangkok raksasa dimana pinggiran pinggiran mangkok tersebut adalah pegunungan pegunungan yang mengelilingi kota Bandung. Pernah kudengar pendapat Bandung diriung ku gunung dan memang pendapat tersebut benar adanya. Coba deh berkendara melintasi fly over Kiara Condong yang mengarah ke utara atau ke jalan jakarta, saat cuaca cerah gugusan pegunungan di Bandung Utara terlihat jelas. Mulai dari Gunung Burangrang, Gunung tangkuban Perahu, Gunung Bukit Tunggul, Gunung Palasari dan Gunung Manglayang. Okay...balik lagi ke Pasir Angling. Melewati perkampungan warga, laju kendaraan ku terhenti di dekat sebuah lapangan kecil. Seorang pria berjaket merah menghentikan ku dan bertanya,
Mau muncak teh ? Berapa orang ?
Ga, kang. saya ga muncak. Hanya kebetulan lewat dan melihat spanduk Buper Bincarung. Ada air terjunnya ya kang ?
Iya teh...ada dua air terjun.
Air terjun apa aja kang ?
Ada curug luhur dan curug cibodas teh. Kalo ke curug cibodas 30 menit jalan kaki, kalo ke curug luhur paling cepat 1,2 jam perjalanan.
debit air nya gimana kang ? lebih besar yang mana ?
Kalo dilihat dari debit air, curug luhur lebih deras dan lebih tinggi teh. tapi perlu pakai pemandu kesana.
Oh baik kang, saya ke curug cibodas dulu saja kalo begitu. saya ga prepare apa apa. bayar nya dimana kang ?
terus aja dulu teh, ke buper saja dulu.
Kemudian sebuah motor menghampiri kami, memutus percakapanku dengan Kang Ade. Entah apa yang mereka bicarakan. Kemudian Kang Ade pun meminta ku mmengikuti nya dan pengendara motor tersebut. Aku pun mengikutinya. Jalan yang semula beraspal berubah menjadi jalan tanah yang licin. beberapa kali kendaraanku nyaris tergelincir. Setelah berjuang kurang lebih 5 menit dijalanan licin, aku sampai di tepian hutan pinus. Terdapat beberapa pondokan dari kayu yang sederhana. Ada yang berfungsi sebagai shelter, tempat rental alat alat camping, toilet dan mushola. Kuyakin terdapat warung juga, hanya saja masih tutup. Mungkin si pemilik warung masih mudik. Di sebuah pondokan Kang ade nampak bercakap cakap beberapa pemuda. Kuyakin mereka mau muncak. Selesai dengan administrasi, aku memulai penjelajahanku ke Curug Cibodas. Excited sih karena pertama kali nya aku berada disana. Setelah mengikuti plang penunjuk ke arah Curug, aku benar benar sendirian. Melewati perkebunan warga, aku mulai kebingungan karena jalan setapak yang semula jelas, kini menghilang ditutupi rimbunnya rerumputan. Berkali kali aku menemui jalan buntu dan harus kembali ke titik awal jalan setapak. 15 menit berlalu, kudengar suara riuh rendah orang bercakap cakap.Aku mencari asal suara, berhasil menemukan mereka namun sialll...jalur yang mereka lalui ada dibawah ku. Terperosok dan terpeleset demi mendekati mereka. Berhasilll...nampaknya itu rombongan keluarga yang hendak ke curug juga.
punten, pak. mau ke curug juga ? tanyaku saat berhasil menyusul mereka.
Iya, teh.
Boleh barengan pak ? Saya engga tahu jalan soalnya. Ini aja saya muter muter cari jalan.
Alah siah karunya si teteh, celetuk seorang perempuan paruh baya.
Hayu barengan aja teh. teteh sendirian ? tanya bapak tadi.
Iya pak, saya sendirian,jawabku.
Dan jadi lah hiking ku kali ini bersama mereka. ternyata mereka dari Cibaduyut dan kebetulan ada sanak family mereka yang tinggal di Desa Pasir Angling jadilah mereka berkunjung sekalian liburan ke curug Cibodas ini. Senang rasa nya melihat kedekatan mereka, canda tawa mereka bersama keluarga sudah lama hilang dari kehidupanku keluargaku. ya karena memang keluarga inti ku hanya kami berenam, ayah ibu, aku, anakku, adik serta adik iparku. Kami sangat jarang menghabiskan waktu bersama. jangankan untuk hiking, makan di restoran pun mungkin hanya setahun sekali. Ahh sudah, skip soal keluargaku. jalan yang ditempuh melewati tepian hutan pinus, ini yang menyulitkan ku karena kalau di hutan pinus, jalan setapak tidak begitu jelas terlihat. Setelah kurang lebih dua puluh menit kami berjalan, tibalah kami di curug cibodas. Air nya tidak deras, kolamnya pun hanya sebatas mata kaki orang dewasa. Tapi air nya jernih dan menyegarkan. Aku yakin sungai diatasnya berasal dari mata air dan belum melalui pemukiman penduduk. Selain air terjun, yang membuat tertarik adalah sebuah bongkahan batu yang kalau dilihat sekilas itu seperti gerbong kereta lengkap dengan lokomotifnya. Selesai mengambil gambar, membasuh tangan dan membersihkan kaki, aku pamitan pada rombongan keluarga tadi. aku berujar ingin menemukan curug luhurnya. Langkah kaki mulai menyusuri kembali jalanan semula namun aku merasa lemas dan teringat bahwa aku belum menyentuh makanan berat sama sekali hari itu. hanya ssegelas kopi dan sepotong kue yang sempat disuapi ibu sebelum aku pamit tadi. Sial, tidak ada makanan yang aku bawa, hanya sebotol air dan lima butir permen eclairs di dalam tas. Aduhhh bodoh sekali pikirku. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali k Buper Bincarung.Aku tidak mungkin melanjutkan perjalanan ke curug dengan kondisi lemas seperti ini. Ternyata jalan yang kuambil malah memutar jauh dibawah bumi perkemahan Bincarung. Sehingga aku menghabiskan lebih banyak energi lagi. Tiba di buper, aku bercakap cakap sebentar dengan Kang Ade yang kali ini membawa alat pemotong rumput. Usai pamitan, aku kembali melaju diatas jalanan aspal menuruni kaki bukit dan menjauh meninggalkan pasir Angling. Aku akhir nya menepikan motorku di sebuah minimarket di Cibodas. Membeli sebuah coklat, roti dan minuman isotonik untuk memulihkan tenaga. setelah membayar, aku terduduk menikmati coklat dan meminum habis minuman isotonik tadi. Kembali menyalakan data ponsel ku. Dan semenit kemudian, ponsel ku bergetar beberapa kali.
3 panggilan tak terjawab dari anakku.
1 panggilan tak terjawab dari ibu ku
7 panggilan tak terjawab dari Ummi dannnnn
15 panggilan tak terjawab dari Dherry.
Ya tuhannnnn...Sungguh keukeuh lelaki ini. Ya aku tahu, ada urusan kami yang belum selesai dimasa lalu. Meski sudah kucoba untuk melupakan dan memaafkan tapi nampaknya bagi Dherry itu belum selesai.
.
Cerita 2 : Cerita masa lalu
Masa orientasi mahasiswa baru merupakan ajang bagi para senior untuk show off kepada calon adik adik kelas. Namun tidak bagiku. Belum apa apa, ketik rapat tiba salah seorang teman satu angkatan langsung menunjukku menjadi Tim Tata Tertib. Padahal biasanya yangboleh menjadi tim tata tertib hanya mereka yang sudah melewati empat semester. Ketika aku bertanya, kenapa aku dimasukkan kepada tim tata tertib mereka berkilah karena kamu judes, ketus, galak dan suka marah marah...Ahhh ya kaliiii, pasti karena galak. Teman teman seangkatanku sudah tidak aneh lagi ketika aku marah marah atau judes dengan mereka. Padahal menurutku, aku biasa biasa saja. Tidak kuingat jelas bagaimana pertama kali aku bertemu Dherry, namun seorang teman berkata bahwa ke galak an ku ada tandingan nya kali ini. Dia juniorku, namanya Dherry. Singkat cerita, meski sama sama judes, galak dan suka marah marah, aku dan Dherry menjadi dekat. Dulu aku berpikir, tidak ada seorang pun laki laki yang bisa mendekati atau mau mendekati ku karena ke galakan ku, namun Dherry lain. Dia mengerti dan mampu mendekati ku. Satu hal yang aku ingat, Dherry pernah berkata : Kamu itu galak, keras namun hati kamu lembut, aku tahu itu. Hingga suatu hari, aku berantem dengan ayah. Entah apa sebabnya, namun saat itu karena tersulut emosi aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Srharia itu kuliah ku kacau, aku uring uringan tak jelas. saat teman teman ku pulang ke rumah atau kembali ke kosan mereka, aku sengaja berlama lama di perpustakaan, membaca salah satu buku Albert Camus, yang aku lupa judulnya. Tapi isinya tentang absurditas. Aku baru keluar dari perpusatakaan pukul 17.00, itu pun petugas perpus menginformasikan bahwa sudah wktu nya pulang. Aku harus kemana setelah ini ? Pulang kerumah aku tak mau, teman teman ku juga sudah tidak sibuk dengan aktifitas sore mereka. Aku memutuskan untuk berdiam diri di masjid kampus, terdiam lama disana meski entah apa yang aku pikirkan. Tidak kutemui Dherry hari itu. Meski aku tahu dia mencari ku, namun karena kesalahpahaman dengan Ayah membuat mood ku sangat berantakan hari itu.Memasuki pukul 9 malam, suasana kampus telah benar benar sepi.sesekali kudengar suara tawa satpam di pos keamanannya dan mereka tidak tahu bahwa aku bersembunyi di masjid. tanpa sadar aku tertidur di masjid kampus, pukul 1.00 dinihari aku terbangun karena suara seseorang tengah sholat. Kulihat, rupanya seorang sekuriti kampus tengah sholat. Usai sholat, dia membuka tirai di barisan makmum perempuan dan melihatku.
Kamu kenapa belum pulang ? dari tadi disini ? tanya nya sedikit ketus. Mungkin kesal karena kecolongan salah satu mahasiswa nya masih disana hingga selarut itu.
Iya, jawabku.
Ayo pulang, sarannya. Mau saya antar? Tinggalnya dimana ?
Aku menggelengkan kepala, tidak usah, jawabku. Membereskan mukena dan mengambil tas ku.
Meninggalkan masjid, aku melangkah ke gerbang kampus. Aku harus kemana pikirku. Sudah pukul 1 malam. Kubuka ponsel ku, dan mencari cari nomor seseorang yang bisa kuhubungi selarut itu. Kubuka kotak masuk, lima pesan dari Dherry.
lu dimana woi ?
Kenapa ga berkabar sih hari ini?
Ga ke kampus ?
Gue di tempat makan biasa.
Oitt...dimans ?
Dan tanpa sadar, jari jari ku menegtikkan nomor nya. Satu nada sambung, dua nada sambung dan kali ketiga barulah kudengar suara diseberang sana.
Apaan woi ? ga tau waktu emang ya elu...runtuk Dherry.
Gue di kampus,Dher! potongku cepat.
Canda lu ah! ngapain ? jaga pos satpam lu ?
Aku diam tak menjawab, Dherry tahu diam ku adalah pertanda aku tidak baik baik saja.
Tunggu lima menit, jangan kemana mana. Gue kesana sekarang.
Entah bagaimana Dherry berkendara, namun lima menit kemudian aku sudah di boncengnya. menembus keheningan malam, aku tak tahu Dherry akan membawaku kemana. Disebuah warung kopi pinggir jalan di kawasan setiabudhi, Dherry berhenti. Kami masuk kedalamnya. dia memesankanku kopi dan menawariku roti. Dherry menunggu hingga aku bicara. Dia menuntun kepala ku untuk bersandar dibahunya. Aku akhirnya menyandarkan kepalaku dibahunya. Sedetik kemudian, aku menangis di bahu Dherry. Dia meminta segelas air putih hangat kepada pemilik warung. usai memberikan ku segelas air hangat dia berujar,
Kalo memang lu ga mau cerita, ga apa apa. Ga usah cerita sampai lu mau cerita. Dherry membenamkan kepalaku dalam pelukan nya. Sejurus kemudian, kami sudah berada kembali dijalanan menuju lembang. Dherry memintaku merentangkan tangan dan berteriak sekeras kerasnya, akupun menuruti nya. Berat hati kurasa mulai hilang dan perasaanku menjadi lebih ringan. Pukul 3 pagi, aku dan Dherry berhenti di sebuah warung yang berada di dekat pintu masuk gunung tangkuban perahu. Disana kami memesan kembali kopi, pikiranku sedikit lega. Sambil menyalakan sebatang rokok, Dherry mulai bercerita banyak hal termasuk kedua orangtuanya yang ternyata telah bercerai lama sebelum kami bertemu. Dia bercerita betapa dekat nya dia dengan Teh Della kakak perempuan satu satunya dan adiknya Deni. saat itu juga aku tahu bahwa ummi berkerja keras untuk menghidupi keluarga. Subuh menjelang, sebungkus rokok hampir Dherry habiskan. Aku terkantuk – kantuk saat itu,hingga tak begitu ingat hal apa saja yang kami bicarakan. Tepat pukul 5 pagi, aku dan Dherry memutuskan untuk kembali ke kampus. Tapi Dherry tidak membawaku kembali ke kampus, dia mengajakku untuk bersih bersih dirumahnya.
Rumah Kedua
Sebuah rumah berlantai dua dengan cat putih di Bandung timur. Perempuan paruh baya membukakan pintu ketika Dherry mengetuk pintu untuk yang ketiga kalinya. Perempuan paruh baya tersebut tersenyum ramah, Ummi. Perempuan tegar nan tangguh membesarkan ketiga anaknya seorang diri. Hingga kini Ummi masih sendiri dan kelak dari Ummi pulalah aku belajar bagaimana menjadi diriku sekarang.
Darimana ? Kok baru pulang Dher?
Habis ikut pawai obor ummi, seloroh Dherry ngasal.
Pawai obor apa ? tanya Ummi kebingungan.
Kenalin ummi, calon mantu, ujar Dherry asal asalan lagi.
Aku pun mencium tangan Ummi, saya Linda Ummi, temen kuliah Dherry, kataku.Ada perasaan aneh yang muncul ketika Dherry menyebutku sebagai calon mantu ummi. Kucoba tepis pikiran aneh itu. Ummi pun mempersilakan aku masuk, membuatkan aku segelas teh hangat. Menawariku makan, namun Dherry keburu memintaku naik ke kamar atas. Dherry tahu aku lelah setelah semalaman aku habiskan waktu di Lembang. Aku naik ke lantai dua dan masuk ke kamar ber cat putih, aroma rokok khas kamar cowok merebak keluar saat Dherry membukakan pintu kamarnya. Sebuah kamar tidur sederhana, dengan kasur ukuran single ber sprei abu abbu tua. Saat itu yang kuinginkan hanyalah merebahkan badan. Dherry membukakan gorden abu muda yang menutup jendela besar di kamarnya.Di dinding belakang kasur, terdapat beberapa poster music favorite ku. Rupanya selain karakter yang sama sama galak dan judes, aku dan Dherry pun mengagumi band yang sama. Dherry sadar aku sedang mengamati kamarnya. Tiba tiba Dherry menggenggam tanganku sambil berkata,
Jadi cewek gue ya, Lind!
Djlebbbb… seketika kantuk ku hilang, mencoba meyakinkan diri dengan apa yang kudengar barusan. Ga salah denger, Dherry yang beberapa bulan ini baru saja dekat denganku, memintaku jadi pacarnya. Seumur – umur ini kali pertama aku merasakan ‘ditembak’ cowok. Dherry pula. Perawakan nya yang tinggi putih dan agak kurus dengan rambut sedikit acak acakan membuat siapapun jatuh cinta denganya. Aku yakin itu, tape kenapa Dherry malah memintaku jadi pacarnya. Entah aku jawab iya atau tidak saat itu atau pukul berapa aku tertidur, karena saat bangun jam telah menunjukkan pukul 4 sore. Wahhh lama juga aku tertidur. Dherry tidak ada kamarnya saat aku terbangun. Aku menyalakan ponselku. Tak ada notifikasi apapun bahkan dari orangtuaku. Sedih apabila ingat perseteruanku dengan Ayah. Belakangan aku tahu, bahwa saat aku tertidur, Dherry menghubungi kedua orangtuaku dan memberi tahu bahwa aku ada bersamanya dan aman. Lima menit berlalu, ummi masuk kekamar Dherry. Membawakanku secangkir susu hangat.
Dherry sedang istirahat dikamar Deni dibawah.Mau ummi bangunkan Dherry ? Tanya ummi.
Ga usah ummi, biar dherry istirahat dulu. Kasihan semalaman nemenin Linda begadang.
Ummi merapikan rambutku, mengusap lembut rambutku. Mata ummi berkaca kaca.
Ternyata ini perempuan yang selalu Dherry ceritakan ke ummi, yang katanya galak suka marah marah tapi lembut, kata ummi.
Memangnya Dherry suka cerita apa aja ummi? Tanyaku.
Banyak hal yang Dherry ceritain ke ummi. Intinya,Dherry sayang sama Linda. Ummi tidak berharap banyak dengan hubungan kalian, biarkan semuanya mengalirkan. Tokh kalian juga masih sangat muda.
Dherry masuk sebelum ummi menyelesaikan ceritanya.
Udah bangun? Mandi gih bersih bersih, ujar Dherry kemudian keluar lagi dari dalam kamar.
Bentar ya lind, ummi siapin airnya, ujar ummi.
Ee tdak usah repot repot ummi, nanti linda siapin sendiri.
Dan sejak hari itu, rumah ummi jadi rumah keduaku. Ummi jadi ibu keduaku. Kalau aku ada masalah dirumah, Ummi tempat aku ‘lari’ dan bercerita. Masa – masa itu, kurasa jadi masa masa paling menyenangkan. Pernah kuceritakan bahwa setiap kali aku ribut dengan Dherry, Dherry banyak menahan diri. Dia tidak pernah balik memaki atau memukul. Pantang bagi Dherry untuk memukul wanita, baginya wanita itu adalah ratu yang harus diperlakukan secara lembut. Itu kenapa aku bertahan dengan Dherry selama kurag lebih empat tahun. Memasuki semester 4 kala itu aku masih ingat betul, salah seorang teman lama Dherry muncul. Dimana asal mula prahara hubungan ku dan Dherry dimulai. Sofia namanya. Dia kawan Dherry di masa sekolah dasar dulu. Mereka bertemu saat salah seorang teman merayakan ulangtahunnya disebuah klub malam.Saat itu aku masih belum berhijab namun tetap tomboy. Ternyata Sofia berprofesi sebagai DJ. Masih labil, akhirnya Dherry terbawa pergaulan. Sofia mulai mengenalkan aku dan Dherry dengan kehidupan malam. Tak segan dia mengajakku dan Dherry untuk sekedar menemaninya di pesta pesta kenalannya di klub klub malam. Perlu diketahui, aku dan Dherry bukanlah penikmat alcohol. Kami hanyalah dua anak muda yang terbawa pergaulan. Dan sekarang itu kami jadikan pelajaran. Lima hari Dherry tidak menemui kala itu. Aku fikir mungkin Dherry benar benar marah dan hendak menyudahi hubungan kami. Dan lima hari itu pula Dherry tidak pulang kerumahnya. Ummi mengabariku melalui pesan. Aku pun mulai mencari cari Dherry di kalangan teman teman kampus. Dan barulah di hari keenam aku tahu keberadaan Dherry. Dia tinggal di rumah kawannya, Bowo di pinggiran kota Bandung. Aku belum pernah mengenal Bowo sebelumnya, dan aku mengetahui Bowo dari unggahan social media Dherry. Iseng aku chatt Bowo dan Bowo merespon. Bowo mengatakan bahwa lima hari ini Dherry terus dirumahnya mabuk mabukan. Hari itu, aku kerumah Bowo. Berniat mengajak Dherry pulang. Namun Dherry dalam keadaan mabuk parah. Beruntung tidak sampai meninggal karena nonstop dia terus menenggak minuman keras. Tuhann..mengapa jadi seperti ini ? Marah karena Dherry kujemput dengan keadaannya yang kacau, Dherry mendorongku. Itu kali pertama, Dherry berbuat kasar padaku. Dan sisa rentang hubungan kami, Dherry kerap memukuli terutama saat aku melihatnya dalam keadaan kacau. Teman teman yang kerap kali melihatku babak belur dihajar Dherry menyarankan aku untuk mengakhiri hubungan kami yang tidak sehat ini, namun setiap kali itu terjadi, Ummi selalu meminta maaf dan minta aku bertahan kemudian Ummi selalu menyalahkan dirinya karena merasa gagal mengurusi Dherry. Yahhh akhirnya aku bertahan demi Ummi. Tidak kusangka kehadiran Sofia mampu merusak segalanya. Sempat Sofia menemuiku di kampus, menangis tersedu sedu. Ketika kutanya kenapa, Sofia hanya memohon aku melepaskan Dherry. Aku tidak paham, namun akhirnya aku tahu bahwa Sofia menginginkan Dherry lebih dari teman. Bahwa mereka sering menghabiskan waktu bersama, bisa dibayangkan apa yang terjadi ketika laki laki dan perempuan dalam keadaan setengah sadar berdua dalam ruangan. Mengingat kejadian itu, aku rasanya tak pernah ingin memaafkan Dherry. Tak sadar aku perlahan mulai menjauhi Dherry, selain tak lagi kuat menjadi ‘samsak’ ketika Dherry marah marah, Sofia nampaknya kian genjar mengejar Dherry dan aku tak sanggup bertahan. Hingga memilih menghindari Dherry.
Cerita 3 : Perang, Pecah, Patah
Dherry nampaknya benar benar melupakan aku dengan kehadiran Sofia. Aku mulai jarang menemui Ummi. Ummi tak lagi menjadi tempat ku lari. Memasuki semester akhir, seseorang kenalan lamaku mengajakku Taaruf. Berkenalan hanya 2 bulan kami pun menikah. Aku berfikir aku harus mulai berpikir masa depan. Menyelesaikan kuliah tanpa kata putus dari Dherry, ternyata hanya membuat perkara baru di rumah tanggaku. Sering secara tak sengaja aku bertemu Dherry, mengobrol dan bahkan kembali menceritakan masalah rumah tangga ku. Dherry menyesal dengan akhir hubungan kami yang mengambang. Keluar mulut singa, masuk mulut harimau. Itu sepertinya menjadi istilah yang tepat untukku. Kenapa ? Karena ketika aku memutuskan untuk mejauh dari Dherry karena kebiasaannya yang kerap memukuliku terulang kembali dengan mantan suamiku. Mantan suami ku yang pemalas, yang tak mau bekerja dan hanya mengandalkan aku sebagai kepala rumah tangga yang juga sering memukuli ku jika aku menolak memberikan apa yang dia inginkan. Saat itu hampir aku putus asa, mengapa perempuan selalu dijajah laki laki ? Mengapa aku selalu dipukuli ?
Perlahan Dherry menghilang dari kehidupan ku. Sementara aku terus bertahan dengan mantan suamiku. Mencoba bertahan meski menerima pukulan dan kekerasan dalam rumah tangga. Sundutan rokok, tamparan dipipi dan bahkan ditonjok di perut telah menjadi santapan ku selama tiga tahun berumahtangga. Apalagi saat itu mantan suami ku mengetahui bahwa aku masih menyimpan perasaan pada Dherry. Bathinku ber’Perang’ antara tetap mempertahankan perasaan dengan Dherry dan kenyataan saat itu aku sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Tiga tahun bertahan akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri rumah tangga. Ya ‘Pecah’ adalah kata yang tepat untuk aku dan mantan suamiku.Biduk rumah tangga yang kami bangun harus ‘Pecah’ karena banyaknya perbedaan. Tahun pertama menjadi single parent adalah tahun terberat, yaa aku nyaris ‘Patah’,namun Ayah dan Ibu terus menerus memberiku dorongan untuk bertahan. Doa mereka menjadi penguatku hingga kini tujuh tahun lamanya sendiri dan masih akan ada tahun tahun kedepannya. Trauma menjadi alasan utamaku tidak mau menikah lagi. Hingga akhirnya Dherry kembali memasuki kehidupan ku. Yaaa dia pun gagal membina rumah tangganya, hal yang aku ketahui bahwa penyebab hancurnya bahtera rumah tangga nya adalah karena ada hal yang belum selesai dengan ku dimasa lalu.
Ponsel ku bergetar, panggilan masuk dari Dherry. Kuabaikan panggilannya. Aku tak mau kembali ‘Patah’, aku mau terus berdiri untuk anak dan ayah ibuku. Bohong kalau aku tidak trauma, dua kali menjadi korban kekerasan, membuatku hidup sebagai perempuan yang sensitive. Setiap kali ada yang bersikap sedikit kasar dihadapanku, aku melonjak kaget ketakutan. Takut tiba tiba aku ditampar, takut tiba tiba aku ditonjok, takut tiba tiba aku ditampar atau dibenturkan ke tembok. Aku takut untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan.
Aku
Takut
Perang
Pecah Patah